RECOVERY EKONOMI PETERNAKAN

PROGRAM

RECOVERY EKONOMI PETERNAKAN

PASCA GEMPA JATENG DAN D.I.Y

PENDAHULUAN

Bencana gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 di Yogyakarta dan sekitarnya telah menelan banyak korban, ribuan rumah luluh lantak dan lebih dari 6.000 penduduk meninggal dan puluhan ribu lainya luka berat dan ringan, fasilitas umum hancur dan aktivitas penduduk lumpuh.

Penanganan pasca gempa di Yogyakarta dan sekitarnya membutuhkan kepedulian dan uluran tangan berbagai pihak mengingat banyak sekali permasalahan yang mengikuti dan menjadi beban penduduk korban bencana. Disamping munculnya korban jiwa dan kerusakan fisik, bencana tersebut telah mengakibatkan munculnya berbagai permasalahan sosisal seperti menurunnya tingkat kesehatan baik fisik maupun mental masyarakat terutama ana-anak, ibu hamil dan lansia, munculnya kemungkinan kehilangan pekerjaan terutama bagi wiraswastawan yang kehilangan tempat usahanya serta masyarakat yang bekerja disektor non formal (seperti buruh yang tempat usahanya rusak sehingga butuh perbaikan yang dalam jangka waktu lama), muncul kemungkinan anak putus sekolah dan masalah sekunder lainnya.

Banyak diantara korban adalah para petani-peternak yang mengais rizki (bermata pencaharian) dari bercocok tanam dan memelihara ternak. Untuk daerah Bantul, para korban bencana alam 80 % sebagai petani-peternak dengan populasi ternak sapi tidak kurang dari 40.000 ekor. Kondisi ternak pasca gempa cukup memprihatinkan, karena banyak ternak yang stress, pola  pemeliharaan yang dilakukan menjadi tidak maksimal, kualitas dan kuantitas pakan menurun, dan yang utama kondisi kesehatan menurun, sehingga berimbas pada penurunan produktivitas ternak. Bagi masyarakat petani  ternak merupakan tabungan dan sumber penghasilan pokok untuk menyokong perekonomiannya. Dengan mempunyai ternak yang sehat, masyarakat setidaknya masih mempunyai harapan untuk memenuhi kebutuhannya, membangun rumah kembali, dapat membiayai anak-anaknya sekolah dan lain sebagainya.

Sektor peternakan nampaknya masih belum begitu menarik perhatian baik pemerintah, Non Government Organization (NGO) maupun swasta, dan fokus bantuan lebih banyak tertuju pada kondisi manusia dan tempat tinggalnya. Padahal sektor peternakan tak kalah pentingnya terutama bagi pemulihan kodisi ekonomi masyarakat. Dalam pantauan PPM JogjaVet di daerah Girimulyo, Klaten, banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi ternaknya yang semakin kurus meski nafsu makan tetap baik. Banyak kandang ternak yang rusak dan terpaksa sapi atau kambing hanya diikat di bawah pohon. Berangkat dari permasalahan ini Pusat Pemberdayaan Masyarakat Veteriner (PPM JogjaVet) sebagai lembaga yang mempunyai komitmen dan konsen dalam bidang ini mencoba untuk membantu masyarakat bersama dengan instansi, perusahaan, NGO, dan elemen lain yang mempunyai kepedulian terhadap recovery perekonomian masyarakat pasca gempa di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk bekerja sama mensukseskan “Program Recovery Bencana Alam Gempa Jateng dan DI. Yogyakarta 2006, melalui pemulihan dan peningkatan kualitas kesehatan hewan ternak”.

TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kembali kegiatan perekonomian di daerah Bantul pada khususnya yang kini terpuruk pasca gempa 27 Mei 2006. Program pemulihan ini difokuskan pada sektor peternakan, khususnya sapi potong dengan membantu masyarakat sebagai petani-ternak berupa penguatan modal sistem kemitraan. Diharapkan dengan program ini mampu membantu merecovery perekonomian masyarakat pasca gempa dan DI.Yogyakarta melalui sektor peternakan. Kegiatan ini merupakan pilot project yang berkesinambungan dan terus dijalankan dengan melakukan pengembangan-pengembangan di daerah-daerah yang memungkinkan.

MANFAAT

1. Bagi masyarakat, dapat memulihkan kembali  aktivitas ekonomi-peternakannya sebagai penyokong perekonomian untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukan.

2. Bagi Donatur / Sponsor, hal ini dapat menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap pemulihan ekonomi masyarakat sekaligus untuk membangun mitra kerjasama.

RENCANA PROGRAM

PENGGEMUKAN DAN PERBIBITAN SAPI POTONG DENGAN POLA KEMITRAAN

Perkembangan konsumsi daging sapi ditandai oleh meningkatnya persediaan daging yang sebagian berasal dari impor, baik dalam bentuk impor daging dan jeroan ataupun melalui impor sapi bakalan (feeder cattle). Usaha peternakan telah berkembang sejak tahun 1990-an, bisnis makin berkembang baik berupa perusahaan-perusahaan importir daging, penggemukan (feedloters), tempat pemotongan, distributor dan bahkan pengecer. Bisnis yang berkembang ini merupakan sektor modern yang relatif tidak banyak terkait dengan sektor tradisional peternakan rakyat yang selama ini relatif tidak banyak mengalami perubahan.

Agribisnis dalam hal ini terdiri atas empat sektor yang secara ekonomi saling terkait, yaitu : 1) sektor input, 2) sektor produksi usahatani, dan sektor output yang mencakup 3) prosesing dan distribusi dan 4) eceran (retail). Agribisnis ternak sapi potong di Indonesia dicirikan oleh sektor produksi yang secara dominan merupakan kegiatan petani peternak skala kecil (peternakan rakyat).

Kecenderungan akan permintaan daging sapi yang meningkat khususnya di Asia Tenggara telah membuka peluang terutama bagi negara Australia yang merupakan produsen daging sapi yang mempunyai daya saing tinggi. Jadi, di satu sisi terdapat produsen domestik yang diliputi berbagai kelemahan sehingga kurang tanggap terhadap peluang yang terbuka, sedangkan di sisi lain terdapat produsen kuat mancanegara dengan struktur agribisnis yang sudah mantap dari hulu hingga hilir dan sangat responsif terhadap peluang pasar. Industri sapi potong Australia merupakan yang terbesar keenam, sementara dalam ekspor merupakan yang terbesar di dunia. Basis populasi sapi potong di negara ini merupakan beef breeds, terutama persilangan antara zebu dengan sapi Inggris dan telah dikembangkan sejak lama sehingga mempunyai keunggulan-keunggulan dalam daya adaptasi, pertumbuhan dan kualitas daging yang dihasilkan.

Selama ini kapasitas produksi dalam negeri perkembangannya lambat dan hal ini terkait dengan struktur produksi yang kurang kondusif bagi kegiatan investasi dan penerapan teknologi maju. Kapasitas produksi pada dasarnya meningkat melalui peningkatan populasi sapi dan peningkatan efisiensi atau produktivitasnya. Proses biologis yang terkait dalam hal ini yaitu perkembangbiakan (reproduksi) ataupun pemuliaan (breeding). Penggemukan sapi dengan bakalan asal imporpun kini telah menjadi jawaban logis terhadap permasalahan dalam negeri yang kerap dihadapi dewasa ini, terlebih-lebih dikaitkan dengan kecenderungan ke arah perdagangan bebas. Dengan adanya pasokan alternatif, situasi penyediaan daging nasional menjadi lebih longgar dan sementara itu telah berkembang pula kegiatan-kegiatan investasi baru terutama dalam sektor produksi dan output, yaitu prosesing/distribusi dan perdagangan eceran. Tetapi di sisi lain jelas bahwa kegiatan-kegiatan tersebut tidak banyak terkait dengan sektor produksi peternakan rakyat dan tergantung pada pasokan yang berasal terutama dari Australia.

Berbagai pemikiran maupun langkah-langkah operasional untuk mentransformasikan sektor produksi peternakan rakyat ke arah sistem yang berdaya saing sebenarnya telah banyak dikemukakan. Dewasa ini strategi yang dianut oleh Direktorat Jenderal Peternakan mencakup antara lain yang disebut sebagai Konsolidasi  Peternakan Rakyat dan Kemitraan. Strategi yang pertama mengandung pemikiran ditempuhnya pendekatan teknis, terpadu dan agribisnis yang pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sektor produksi. Bentuk kegiatan yang dianggap penting dalam hal ini mencakup antara lain inseminasi buatan dan pengendalian penyakit. Strategi yang diperkenalkan dengan istilah Kemitraan atau Peternakan Inti Rakyat, dimaksudkan sebagai upaya pengembangan yang dilandasi kerjasama antara perusahaan peternkan dengan peternakan rakyat. Pengertian kerjasama ini tentunya harus mengandung makna bahwa kedua belah pihak memperoleh keuntungan. Investor atau perusahaan peternakan dapat menjalankan bisnisnya dengan baik dan dipercepatnya penerapan teknologi pada peternakan rakyat, permasalahan permodalan, pemasaran dan perkembangan terkait dapat di atasi.

Pola-pola kemitraan yang dikembangkan untuk sapi potong seperti kemitraan bakalan dan penggemukan masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Pemanfaatan teknologi inseminasi buatan dan embrio transfer perlu dikaji ulang kelayakannya. Investasi ini baru akan menarik jika biaya perolehan bakalan dan resiko-resiko mampu ditekan. Ketidakberhasilan juga mungkin disebabkan karena pembinaan dan monitoring tidak berjalan secara intensif dan terkendali.

Iklim persaingan yang semakin meningkat, peningkatan kapasitas produksi peternakan sapi tidak hanya menyandarkan pada peningkatan populasi, tetapi sekaligus memerlukan juga peningkatan produktivitas. Dalam peningkatan produktivitas, faktor-faktor manajemen, mutu genetik dan nutrisi ternak perlu dikombinasikan secara baik. Dapat juga dikatakan bahwa peningkatan produktivitas untuk meningkatkan daya saing memerlukan kombinasi manajemen dan teknologi. Dalam hal usaha perbibitan atau program pemuliaan pada prinsipnya memerlukan dua pendekatan yaitu seleksi dan persilangan yang didasarkan pada keunggulan genetik individu sapi. Sementara dalam hal penggemukan pemilihan bakalan yang baik dan mempunyai prospek untuk digemukkan merupakan salah satu faktor penting disamping faktor lain seperti manejemen pakan dan kesehatan.

Program yang ditawarkan

PPM ”JogjaVet” sebagai lembaga swadaya yang berperan aktif dan berkonsentrasi dalam dunia veteriner mencoba untuk menawarkan kerjasama bagi investor ataupun lembaga donor untuk dapat berperan aktif dalam pemulihan perekonomian masyarakat di daerah Bantul yang pada 27 Mei 2006 diguncang gempa. Program yang ditawarkan adalah pengembangan peternakan sapi potong baik untuk perbibitan maupun penggemukan. Dalam program ini petani-ternak akan dijadikan sebagai peternak inti atau mitra yang terbagi dalam kelompok-kelompok ternak. PPM ”JogjaVet” akan berperan sebagai pengelola dalam hal manajemen dan monitoring program secara intensif.

Program ini merupakan pilot priject yang akan berjalan berkesinambungan dan merupakan bisnis profit sebagai upaya pengembangan ekonomi rakyat. Petani-ternak yang selama ini telah terkumpul dalam kelompok-kelompomk ternak akan mendapatkan paket sapi dimana satu paket terdiri 10 ekor sapi yang diberikan pada 5 orang peternak. Peternak hanya menyediakan lokasi sebagai tempat usaha, sementara bakalan/bibit, kandang, pakan (konsentrat), dan obat-obatan akan dikelola dan/atau diberikan manajemen PPM ”JogjaVet”. Hal ini ditujukan untuk memberikan hasil yang seragam dan maksimal bagi petani-ternak yang selama ini masih memelihara ternak hanya sebagai sambilan dan manajemen seadanya.

Jangka waktu pemeliharaan untuk penggemukan adalah 3 bulan, sementara untuk perbibitan dalam setiap tahun sapi induk harus mampu menghasilkan 1 ekor pedet. Petani-ternak yang diberikan penguatan modal ini akan diseleksi dan dalam kelanjutannya akan dievaluasi apakah masih layak untuk dilanjutkan ataukah tidak. Petani-ternak yang mampu memberikan hasil yang maksimal sesuai target produksi akan terus diberikan perkuatan modal dan hal ini akan terus dikembangkan di daerah-daerah yang memungkinkan.

ANALISIS SWOT

USAHA PENGGEMUKAN DAN PERBIBITAN SAPI POTONG

1. Kekuatan (Strong)

· Tersedianaya faktor produksi terutama ternak, makanan ternak dan toko-toko obat hewan.

· Tersedianya lahan dan bakalan/ bibit sapi.

· Telah terbentuknya kelompok petani-ternak.

· Peternak telah cukup berpengalaman.

· Informasi pasar yang lebih memadai di tingkat pedagang, sehingga harga dapat menentukan harga.

· Dapat melakukan transaksi pada waktu yang tepat.

2. Kelemahan

· Belum berkembangnya pemahaman peternak tentang manjemen pemeliharaan, pakan dan kesehatan ternak sehingga produktivitas belum memadai.

· Usaha ternak yang dilakukan masih bersifat sambilan dan manajemen sekadarnya.

· Adanya persaingan yang tidak sehat antar pedagang untuk mendapatkan ternak.

· Modal usaha dan sarana produksi belum memadai.

3. Peluang

· Kelebihan produksi tanaman pangan seperti jagung dan kacang-kacangan serta limbah perikanan belum dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan konsentrat.

· Berkembangnya usaha ternak sapi potong yang intensif memerlukan saraa produksi yang banyak dan bermutu.

· Melalui program inseminasi buatan mampu memberikan pejantan unggul yang memadai.

· Potensi sumber daya peternakan seperti lahan dan ternak yang memadai.

· Tersedianya layanan kesehatan hewan (dokter hewan dan paramedis veteriner) dan petugas penyuluh lapangan.

· Tersedianya lembaga penyandang dana (BUMN/BUMD, swasta, LSM, Bank, lembaga donor dan sebagainya).

· Lingkungan usaha ternak cukup menunjang, kepastian pasar untuk sapi potong.

· Permintaan pasar yang cenderung meningkat terhadap ternak daging dan produk olahannya.

4. Tantangan

· Terjadi persaingan penggunaan bahan konsentrat untuk ternak lain seperti unggas dan babi.

· Beberapa penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat mengganggu kesehatan dan bahkan dapat menimbulkan kematian seperti SE, anthrax, surra dan MCF. Disamping itu penyakit zoonosis seperti Brucellosis dapat menyebabkan rendahnya animo konsumen terhadap produk peternakan.

· Kekurangan pakan kadang terjadi terutama pada saat musim kemarau sehingga dapat menurunkan bobot badan ternak.

· Adanya persaingan antar pedagang yang kurang sehat.

· Adanya kompetisi pasar dengan peternak-peternak modern.

5. Strategi Pengembangan

· Perlu dikembangkan pembibitan ternak sapi terutama pada lahan yang memiliki keunggulan komparatif.

· Perlu dilakukan pembinaan intensif kepada para peteni-ternak agar manajemen pemeliharaan lebih baik.

· Pengembangan hijauan makanan ternak dan pengembangan metode penyimpanan pakan ternak.

· Perbaikan program perbibitan ternak melalui perbaikan dan penyebaran bibit unggul serta manajemen pembibitan di tingkat peternak.

ANGGARAN PROGRAM

Program ini sebagai prototipe awal akan di bentuk 30 kelompok usaha penggemukan dan 10 kelompok program pembibitan yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang, setiap orang akan mendapatkan 2 ekor sapi. Total program ini membutuhkan biaya sebesar Rp. 90.340.000 (sembilan puluh lima juta tiga ratus empat puluh rupiah) yang secara rinci terlampir.

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Monitoring, evaluasi dan pelaporan akan dilakukan terhadap aspek perkembangan program dan biaya. Evaluasi akan dilakukan setiap minggu untuk mengetahui kondisi terbaru yang selanjutnya sertiap akhir bulan dievaluasi kembali yang pada akhir pelaksanaan program semua kegiatan secara total dievaluasi untuk menentukan langkah dan program lebih lanjut.

PELAKSANA PROGRAM

Pelaksana program ini akan di koordinasi oleh pengurus dan staf PPM JogjaVet yang dibantu oleh beberapa volunteer yang berminat. Adapun susunan tim pelaksana terlampir.

PENUTUP

Demikian proposal recovery ekonomi peternakan ini, atas perhatian, kepedulian dan kerjasamanya kami haturkan banyak terima kasih.

8 Responses

  1. bagus

  2. Kapan itu ada di Jawa Timur? Saya tertarik untuk ikut bergabung sebagai Peternak.

    Henry

  3. Kalau di Jawa Timur memang ada, saya yakin PT Petrokimia Gresik dapat mendukung permodalannya melalui KBL.

    Henry

  4. apakah di kulonprogo ada?saya tertarik untuk bergabung sebagai peternak.,selama ini saya hanya mengandalkan modal sendiri,sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang.,makasih

  5. Halo saya Dina, tinggal di Sewon, Bantul YK. saya punya lokasi bisa untuk peternakan yang lumayan luas. Trus langkah selanjutnya apa supaya saya bisa bergabung dalam program ini? Pokoknya all out dech… Mohon dibalas bagaimana merealisasikannya. Nuwun.

  6. Apa juga bisa diterapkan di kabupaten Grobogan, saya berminat nih, tapi yaitu terbentuk masalah dana, mohon informasi lembaga/ perusahaan/ perorangan yang mau bermitra dengan sistem bagi hasil 60:40 makasih

  7. Salam hormat dan bangga
    Sebagai warga bantul saya cukup bersyukur dengan program ini dan pengurus yg konsisten , profesional utk menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan dengan konsep karya dan produktivitas.
    Ijinkan saya berkunjung dan ikut berpartisipasi sbg wrga bantul meski sekarang domosili ditangerang
    Saya sngat ingin memtransfer konsep tsb utk wilayah saya yg
    kondisi lahan sngt potensial, rumput berlimpah tp masy blm terpikir kearah tsb. Salam bangga….

  8. pak tolong kalau program penggemukan sapi itu masih tlg saya berminat jadi peternaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: