PANDUAN BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

PANDUAN BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

TIM: PPM JOGJAVET


Disampaikan:

27 DESEMBER 2008, HOTEL SUKOWATI, NGAWI, JAWATIMUR.

PUSAT PPEMBERDAYAAN MASYARAKAT VETERINER,  JOGJAVET,

Sekretariat: Malangjiwan, Bakung, Bangunharjo, sewon, Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 55187.

Telp. 081 328 823 444. E-mail: jogjavet@gmail.com. Web Site: http://www.potaljv.tk

 

  1. PELUANG BUDIDAYA TERNAK SAPI

Sejak tahun 1999 telah diidentifikasi terjadi malnutrisi atau kekurangan gizi terutama anak balita, sehingga sangat dimungkinkan terjadi penurunan kualitas fisik,dan intelektual generasi yang akan datang. Menurut (Rochaki, 2005) konsumsi protein 4,7 gram/kapita/hari masih dibawah normal sedangkan gizi yang disarankan Food Association Organizing (FAO) sebesar 6 gram/kapita/hari. Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan saat ini setiap masyarakat Indonesia baru mampu mengkonsumsi daging sapi kurang lebih 1,7 kg/orang/tahun,  yang disupply dari sapi lokal 1,5 juta ekor sapi setara dengan 350.000 ton daging, impor sapi bakalan 300.000 ekor dan daging impor 30.000 ton. Sehingga masih kekurangan sapi potong, untuk memenuhi kebutuhan nasional. Rendahnya konsumsi daging disebabkan supply sapi yang belum mencukupi permintaan dan biaya produksi (pemeliharaan) yang relatif mahal, sehingga harga sapi potong melambung tinggi dan akhirnya daya beli masyarakat tidak mampu menjangkau. Solusi untuk meminimalisasi permasalahan ini adalah menurunkan biaya produksi dengan menggunakan teknologi beternak yang baik dan benar untuk mengeffektifkan produksi dan menekan harga sapi sehingga daya beli masyarakat membeli daging sapi dapat menjangkau.

Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai wilayah yang sangat luas, bahan baku melimpah, sumber daya alam yang melimpah dan mempunyai potensi utama sebagai negara agraris. Secara geografis Indonesia terletak pada 60 LU – 110 LS dan       950 BT – 1140 BB, menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan curah hujan cenderung tinggi dan sinar matahari bersinar sepanjang tahun, Potensi agraris Indonesia sangat melimpah untuk mendukung sector peternakan. Sumber hijauan ternak mulai dari rumput gajah, setaria, gerinting, gamal, king gress dll melimpah ruah.

Saya mempunyai keyakinan jika potensi tersebut dimanfaatkan secara maksimal didukung dengan kuantitas dan kulitas SDM yang tinggi akan menjadikan sektor agraris sebagai soko guru ekonomi Nasional.

  1. PETERNAKAN SAPI?

Peternakan merupakan tempat dimana ternak dapat tumbuh dan berkembang, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, penggemukan, sampai pengolahan hasil ternak. Ternak sapi pedaging atau potong banyak dijumpai di penjuru dunia dengan pemelihraan sesuai dengan kondisi setempat. Usaha Penggemukan sapi akhir-akhir ini semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat maupun daerah yang mengusahakan penggemukan sapi. Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus-menerus meningkat dari tahun ke tahun dan timbul keinginan sebagian besar peternak sapi untuk menjual sapi dengan harga yang lebih pantas. Namun demikian masyarakat di Indonesia masih menggunakan sistem yang masih konvensional dalam artian bahwa ternak masih digunakan sebagai tenaga kerja dan sebagai tabungan sehingga produktifitasnya masih dikatakan rendah.

Produktifitas ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genetik atau bibit, pemeliharan dan manajemen pakan. Ketiga faktor tersebut harus dijalankan secara seimbang, karena jika salah satu faktor tidak terpenuhi maka produktifitas ternak tidak akan berjalan secara optimal. Produk sapi selain untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, juga menghasilkan berbagai macam produk ikutan seperti kulit unutk kerajinan, krecek, maupun tulang untuk sumber pakan, dan  kerajinan.

Didalam “Pedoman Beternak Sapi Potong” ini akan dibahas secara praktis, sehingga para peternak akan lebih paham tentang bagaimana beternak sapi yang baik dan produktifitas ternak menjadi maksimal dan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih meningkat.

  1. C. Manjemen Bibit/Bakalan Sapi Potong

Bibit mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam penggemukan sapi potong sehingga diperlukan kecermatan didalam pemilihannya. Apabila  bibit sapi yang digunakan tidak memenuhi kriteria atau kualitasnya jelek maka akan dihasilkan sapi potong dengan produksi yang jelek pula walaupun dengan sistem pemeliharaan dan manajemen pakan yang baik. Dalam hal ini bibit juga dipengaruhi oleh bangsa sapi yang digunakan. Umumnya bangsa sapi crossbreed (campuran) lebih bagus dibanding bangsa sapi lokal, namun demikian bangsa sapi lokal memiliki beberapa keunggulan dibanding bangsa-bangsa sapi crossbreed, yaitu bangsa sapi lokal mempunyai daya tahan (adaptasi) yang lebih baik pada lingkungan tropis sehingga lebih tahan terhadap penyakit.

Umur bakalan sapi yang digunakan untuk penggemukan minimal 2,5 tahun atau gigi sudah berganti satu pasang. Jika umur yang digunakan kurang dari 2,5 tahun akan beresiko pada bertambahnya lama penggemukan, karena pada umur tersebut sapi masih dalam proses pertumbuhan, sehingga nutrisi yang berasal dari pakan akan digunakan untuk tumbuh dan berkembang sehingga pertambahan bobot badan hariannya menjadi lebih sedikit dibanding pada umur sapi dewasa.

Selain hal-hal tersebut diatas penilaian bakalan biasanya didasarkan kepada penilaian dari depan yaitu dengan mengamati lebar dada, kepadatan tubuh, posisi kaki, bentuk telinga,kepala, kepadatan dada dan kepadatan brisket. Pengamatan dari samping adalah dengan melihat kedalaman dada, panjang tubuh, kepadatan tubuh, posisi kaki, telinga dan bentuk badan. pengamatan dari belakang meliputi lebar dan kepadatan tubuh, kaki belakang dan yang lebih penting lagi adalah bibit yang akan digunakan dalam keadaan sehat. Penilaian kesehatan dapat dilihat dari keadaan mata yang jernih, tidak adanya leleran pada lubang-lubang alami dan ternak dalam keadaan waspada, hal ini dapat dilihat ketika terdapat lalat pada tubuh sapi dan sapi akan menggoyangkan bagian tubuhnya untuk mengusirnya.

CARA PEMIILIHAN BAKALAN

Tujuan pemelihaharaan sapi dan modal kerja sangat menentukan dari pemilihan bakalan  baik dari jenis sapi maupun jumlahnya. Pemeliharaan sapi untuk tujuan penggemukan sapi maka cara memilih bakalan, sebagai berikut :

  1. Melihat dan memeriksa recordingnya untuk mengetahui riwayat hidupnya mulai lahir (Tanggal Lahir, Jenis, Genetis Induknya, Berat Lahir dan perkembangannya, penyakit yang pernah di alami).
  2. Bakalan yang baik untuk digunakan sebagai bibit penggemukan seperti yang sering dilakukan adalah Sapi sehat (tidak ada tanda penyakit).
  • Sapi yang sakit: sedikit gerak dan refleknya lemah; ada luka, nafsu makan rendah, bulu berdiri-kusam, mata kotor, mencret, hidaung cenderung panas.
  • Sapi Sehat: Selalu aktif, reaktif dan peka, nafsu makan tinggi/dokoh, tidak ada luka/lesi, mata jernih, bulu bersih-mengkilap tidak kusam, bokong bersih, padat, dll.
  1. Berkelamin jantan, mempunyai minat pasar yang lebih besar dan pertumbuhan lebih cepat.
  2. Jenis sapi Limosin-Eropa dari keturunan (Bos Indikus), Simetal-Australia dari keturunan (Bos Sondoikus), Brahman, ongole, Bali, Madura (sapi local) Peranakan Frestein Holstien (Belanda.
  3. Bentuk badan panjang/kaki pendek/kuat/dada lebar dan dalam.
  4. Umur antara 1-2 tahun (sapi muda) dan 2-3 tahun (sapi dewasa).
  5. Bentuk kerangka yang besar dan panjang; kepala dan moncong besar; tulang punggung biarpun kurus tapi lurus serta bulunya yang mengkilap sangat diminati selain persyaratan-persyaratan lainnya.

Cara modern yang saat ini digalakkan oleh pemerintah adalah dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik, dengan cara ini dapat dipastikan akan memperoleh hasil bakalan yang baik dan terjamin. Namun demikian cara IB juga masih sangat di pengaruhi dari kekuatan masing-masing Genotif dan Fenotif.

  1. C. Manajemen Pakan

Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mengandung nutrisi/gizi yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi atau produksi susu . Kebutuhan zat pakan dipengaruhi oleh umur hewan, bobot badan, bangsa dan produksi. Kekurangan zat pakan dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat dan penurunan bobot badan.

Sapi potong dapat memanfaatkan semua jenis hijauan, namun dalam hal ini pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konsentrat (produk bijian) dan pakan berserat (hijauan). Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk hijauan dan konsentrat.  Pakan harus dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Secara biologis Protein berfungsi sebagai zat pembangun sel (pertumbuhan), sedangkan sumber kalori adalah Karbohidrat dengan nilai kalori 1 kkal dan  lemak 4 kkal, vitamin dan mineral sebagai penyeimbang dan meningkatkan daya tahan tubuh sapi. Kebutuhan sapi terhadap nitrisi tersebut di suply/penuhi oleh pakan sapi baik dari hijauan maupun konsentrat, dengan komposisi tertentu. Yang paling penting adalah mengetahui kadar nutrisi sumber pakan dan membuat komposisi pakan tersebut  dengan  tepat, sehingga dapat di peroleh pertumbuhan yang optimal dengan biaya yang effisien. Sumber Pakan yang mengutamakan potensi lokal lebih murah.

Pakan sangat esensial bagi ternak sapi.  Pakan yang baik akan menjadikan ternak sanggup menjalankan fungsi proses dalam tubuh secara normal. Dalam batas normal pakan bagi ternak sapi potong berguna untuk menjaga keseimbangan  jaringan tubuh, dan membuat energi sehingga mampu melakukan peran dalam proses metabolisme. Kebutuhan pakan akan meningkat selama ternak masih dalam pertumbuhan berat tubuh dan pada saat kebuntingan.

Bahan pakan untuk sapi pada pokoknya bisa digolongkan menjadi tiga yaitu pakan hijauan, pakan penguat, dan pakan tambahan.

  1. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman berupa daun-daunan termasuk batang, ranting dan bunga. Ditambahkan pula oleh Bambang Sugeng bahwa yang termasuk kelompok pakan hijauan adalah bangsa rumput, legum, dan tumbuh-tumbuhan lain. Semuanya bisa diberikan dalam dua macam bentuk yakni hijauan segar atau kering. Yang termasuk hijauan segar adalah hijauan yang diberikan dalam keadaan masih segar atau silase. Sedangkan hijauan kering bisa berupa hay ataupun jerami kering. Hijauan sebagai bahan pakan tinggi serat di Indonesia memegang peran yang sangat penting karena hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan, sehingga bahan ini diberikan dalam jumlah yang besar.
  2. Pakan Penguat = Konsentrat adalah pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan serat kasar rendah (< 20%) yang terdiri dari bebijian dan beberapa limbah hasil proses industri bahan pangan bijian seperti jagung giling, tepung kedelai, menir, bungkil kelapa dan umbi. Sumber lain seperti tepung tulang, tepung ikan, vitamin dan bahan pakan lain juga ditambahkan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi. Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat. Selain itu karena konsentrat merupakan pakan yang mudah dicerna oleh mikrobia untuk berkembang biak, maka konsentrat dapat meningkatkan kecernaan pakan.
  3. Jerami adalah hasil ikutan pertanian yang dikeringkan dan diberikan pada ternak. Jerami merupakan salah satu bahan makanan ternak yang mutunya rendah, karena zat-zat yang terkandung di dalamnya seperti selulosa terselubung oleh dinding yang keras yaitu silika dan lignin. Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan sangat terbatas karena hanya mampu menggantikan tidak lebih dari 25% kebutuhan ternak akan hijauan, hal ini disebabkan jerami merupakan produk pertanian yang hasil utamanya telah diambil sehingga kadar gizinya rendah.

Konsentrat diberikan dua atau tiga kali dalam sehari semalam, sedangkan pemberian hijauan dilakukan secara bertahap dan minimal empat kali sehari semalam. Cara pemberian hijauan pada sapi yang digemukkan, sebaiknya dihindari pemberian yang sekaligus dalam jumlah yang banyak. Jumlah makanan penguat atau konsentrat umumnya diberikan sekitar 5 – 6 kg per hari, sedangkan pemberian makanan kasar rumput jumlahnya sekitar 25–30 kg per hari dan harus ditambah setiap terjadi kenaikan berat badan.

Contoh Pemberian pakan:

  1. Macam pakan Hijauan dari Rumput Gajah/King Gress, Grinting, Daun Gamal (minimal 10% dari BB);
  2. Bekatul/Ubi (1% dari BB);
  3. Garam dapur (secukupnya) dan Komboran/air minum (secukupnya).

Cara dan waktu pemberian pakan : Untuk hijauan (3 x per hari); Garam + bekatul/ubi 2 x per hari); Komboran atau air secukupnya (add belitum=air selalu ada).

  1. D. Manajemen Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan upaya untuk memfungsikan fungsi anatomis dan fisiologis ternak sapi, dengan serangkaian kegiatan anatara lain;

  1. Menjaga ketercukupan suply nutrisi dari pakan hijauan, konsentrat, dan makanan tambahan.

Tentang pakan, telah di singgung pada paran diatraurtas. Ketersedian dan kecukupan pakan dalam pengembangan dan penggemukan sapi merupakan salah satu kunci keberhasilan beternak sapi. Hal ini akan semakin sempurna jika memperhatikan kontinyuitas dan keteraturan, sehingga perlu di buat jadual pemotongan rumput-hijauan dan pemberian pakan. Variasi komposisi pakan akan membantu meningkakan palabilitas/cita rasa sapi terhadap pakan sehingga dapat meningkatkan nafsu makan sapi.

Pemanfaatan limbah industri tahu, seperti ampas tahu, lohor, cicit  sangat membantu mengurangi biaya produksi.

  1. Menjaga kebersihan sapi (memandikan) secara teratur.

Menjaga Kebersihan sapi dari kotoran, sangat effektif menjaga dan mencegah dari munculya penyakit, seperti scabies, cescado karena cacing, Besnositas karena protozoa, dan miasis. Karena kotoran sapi dapat menjadi predispososi, ataupun tumbuhnya vektor penyakit yang tumbuh dan berkembang di permukaan kulit maupun di dalam kulit. Memandikan meuat bulu menjadi bersih, mengkilat, mengurangi lalat dan berbagai macam parasit.

  1. Memandikan sapi minimal satu hari sekali pada pagi hari (jam 08.00), setelah itu di jemur di bawah sinar matahari sampai jam 11.00 sing. Tujuannya adalah untuk menghangatkan badan sapi agar segar, membunuh bakteri, parasit maupun protozoa di kulit/bawah kulit, melancarkan peredaran darah,  membantu metabolisme dalam tubuh sapi.
  1. Menjaga kebersihan kandang dan  lingkungan.

Lingkungan kandang yang bersih dari aneka limbah peternakan (kotoran sapi, urin, sisa pakan, obat-obatan akan sangat mendukung kesehatan sapi. Kandang harus di bersihkan dua kali sehari (Pagi dan Siang hari). Agar proses kebersihan kandang dan lingkungannya mudah di bersihan maka konstruksinya harus benar. Hal-hal yang harus di perhatikan: Ventilasi dan ketercukupan sirkualsi udara, ketersedian air bersih, aliran air limbah, genangan air dalam kandang,  arah sinar matahari.

  1. Memberikan  mencegah penyakait dan terapi kesehatan saat sapi  sakit.

Peternak harus jeli melihat perkembangan dan keadaan sapi setiap saat. Perubahan tingkah-laku sapi bisa di karenakan perubahan hormonal, perubahan lingkungan,  dan sakit. Perubahan harmonal biasanya pada saat sapi birahi. Perubahan tingkahlaku karena sakit di sebabkan tidak berfungsinya fungsi anatomis organ sapi baik sebagian maupun seluruhnya.

Hewan sakit bisa dikarenakan oleh:

  1. Faktor internal; agen biologis (bakteri, virus, protozoa, parasit), hormonal, gangguan metabolisme sel.
  2. Faktor eksternal; makanan, fisik (benturan, tekanan tinggi, sinar, arus listrik),  dan kimia.
  1. Recording, mencatat setiap kejadian dan perkembangan pemeliharaan dari masing-masing sapi.

Untuk memudahkan manajemen pemeliharaan dan mengetahui perkembangan ternaksapi potong, perlu dilakukan pemberian tanda pengenal pada pedet maupun sapi dewasa dengan tujuan untuk mempermudah tata laksana lebih lanjut, seperti membedakan antara sapi satu dengan yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sehingga dapat mempermudah seleksi.

  1. E. Reproduksi  Pada Sapi

Program pengembangan sapi sangat erat hubungannnya dengan sistem reproduktif  sapi. Ada pendapat sapi jantan yang di kebiri akan tumbuh lebih cepat. Sapi jantan yang mempunyai genotif  yang unggul, postur tubuh yang baik, sehat dan layak menjadi pejantan dapat menjadi  pembibit atau sapi pejantan. Sapi yang mempunyai potensi pejantan pemacek atau bank sperma mempunyai harga yang sangat tinggi. Proses pembibitan dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bantuan pengawas kesehatan ternak. Menurut Balkely and Bade (1994) perbaikan produksi melalui peningkatan mutu bibit dilakukan usaha penyilangan sapi lokal dengan sapi unggul dari luar. Teknik Inseminasi Buatan (IB), menjadi salah satu alternative dan lebih effisien.

Teknik IB membutuhkan skills dan pengalaman yang panjang. Bagi peternak, kecermatan terhadap tanda-tanda sapi birahi sangat penting untuk pengembangan sapi dengan teknik IB, karena masa subur sapi hanya berlangsung salama 18 jam. Tanda-tanda sapi Birahi antara lain: 3A, 2 B, 2 C, keluar ler-leran. Tingkat keberhasilan pada jam ke 8  sampai ke 12  cenderung lebih tinggi di banding di luar jam tersebut.

Umur atau waktu dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan dapat terjadi disebut dengan pubertas (dewasa kelamin). Dewasa kelamin dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan terutama iklim dan makanan. Pubertas pada hewan betina dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi, pada hewan jantan ditandai oleh kesanggupannya untuk berkopulasi dan menghasilkan sperma. Hal yang sangat penting dalam memilih sapi pejantan adalah testis kanan dan kiri lengkap (Jawa: tidak sanglir), karena produksi spermanya cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan yang lengkap testisnya.  Pada program penggemukan sapi, ada pendapat bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan sapi jantan yang optimal maka dapatdilakukan kastrasi.

  1. F. Manajemen Perkandangan

Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukan  sebagai sentra kegiatan peternakan yang didalamnya terdiri dari bangunan utama (kandang), bangunan penunjang. Perlengkapan kandang yang harus disediakan terutama adalah tempat makan dan minum, sedangkan perlengkapan pembersihan meliputi sekop, sapu lidi, selang air, sikat, ember dan kereta dorong.

Usaha peternakan termasuk ternak potong dan kerja tidak mungkin lepas dari masalah perkandangan. Tujuan utama dari pendirian kandang adalah melindungi hewan dari hujan dan sengatan matahari yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya. Karena kandang berhubungan dengan tingkat ekonomi masyarakat maka bentuk kandang tidaklah menjadi sangat baku namun harus memenuhi syarat tatalaksana perkandangan; tata letak unsur-unsur kandang, ukuran kandang dan bagian-bagiannya, pemanfataan/penggunaannya, dan pemeliharaan/perawatan kandang. Pembuatan kandang sangat di pengaruhi oleh tujuan dari pemeliharaan sapi, ketersediaan modal kerja, dan potensi peternakan, wilayah, cuaca, dan iklim.

Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak dan tempat bekerja peternak yang mengurus ternak setiap hari, sarana pokok penting yang langsung maupun tidak langsung setiap saat turut menentukan berhasil atau tidaknya usaha peternakan. Pembangunan kandang  harus memberikan kemudahan  perawatan sapi, mencegah sapi supaya tidak berkeliaran, dan menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena pembuatan kandang sapi untuk penggemukan memerlukan beberapa persyaratan sebagai berikut : 1) memberi kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukan dan bagi si pemelihara ataupun pekerja kandang;  2) memenuhi persyaratan bagi kesehatan sapi; 3) mempunyai ventilasi atau pertukaran udara yang sempurna. 4) Mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya; 5) memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan kerjanya sehingga efisiensi kerja dapat tercapai; 6) bahan-bahan kandang yang dipergunakan dapat bertahan lama, tidak mudah lapuk, dan sedapat mungkin menggunakan biaya yang relatif murah dan terjaangkau peternak pada umumnya; 7) tidak ada genangan air di dalam maupun diluar kandang.

Pemilihan lokasi diusahakan agar tidak berdekatan dari pemukiman penduduk (minimal 10 m dari pemukiman penduduk) dan tempat-tempat umum, pembuangan limbah dan kotoran dapat disalurkan dengan baik, persediaan air bersih cukup dan terdapat lahan yang memungkinkan untuk perluasan kandang. Usahakan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam kandang. Ukuran kandang sesuai dengan tubuh sapi dan agar lokasi kandang selalu terjaga kebersihannya. Penempatan kandang dari segi ekonomis harus memperhatikan transportasi yang dekat dengan sumber pakan dan pasar, dekat dengan sumber air serta letak kandang yang tidak telalu jauh dari rumah peternak.

Lokasi perkandangan yang baik harus memenuhi persyaratan antara lain: kebutuhan sumber air  yang cukup  tersedia, mudah didapat, begitu pula dengan ketersediaan pakan. Lokasi perkandangan yang mudah dijangkau dengan fasilitas transportasi yang memadai, namun tidak ada kemungkinan masuk dalam proyek perluasan kota, dan yang terpenting lokasinya tidak berdekatan dengan perumahan penduduk.

F.1. Kandang

Kandang adalah tempat tinggal ternak untuk melakukan proses kegiatan produksi maupun reproduksi sebagian atau seluruh kehidupannya. Kandang diperlukan untuk melindungi ternak sapi dari keadaan lingkungan yang merugikan sehingga dengan adanya kandang ini ternak akan memperoleh kenyamanan. Keperluan kandang untuk pemeliharaan sapi potong dapat dilakukan dengan sistem ladang ternak (ranch).

Pendirian sebuah kandang harus tetap memperhatikan lokasi kandang, lantai kandang, atap, ventilasi, selokan, tipe kandang, tempat air serta air minum. Kandang yang baik adalah bangunan kandang yang ditempatkan di tempat yang kering atau tempat yang lebih tinggi dari lingkungan sekitar pada tanah yang mudah menyerap air. Tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada : jumlah sapi yang digemukan, selera dari peternak dan keadaan iklim.

Tipe kandang yang dikenal di Indonesia ada tiga macam, yaitu kandang sapi bentuk tunggal, kandang sapi bentuk ganda, dan kandang sapi pemacak. Menurut Suharno dan Nazaruddin (1994), ukuran kandang disesuaikan dengan umur sapi. Ukuran kandang untuk satu ekor sapi dewasa adalah 2,10 x 1,45 m untuk sapi-sapi lokal, dan 2,10 x 1,50 m untuk sapi-sapi eks impor. Pada kandang tipe tunggal penempatan sapi-sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran. Lain lagi dalam kandang tipe ganda penempatan sapi-sapi dilakukan pada dua jajaran atau baris dengan saling berhadapan atau saling bertolak belakang diantara kedua baris atau jajaran sapi dibuat jalur untuk jalan.

Apabila jumlah sapi yang digemukan mencapai jumlah 10 ekor maka lebih baik digunakan kandang tipe tunggal. Akan tetapi, apabila jumlah sapi yang digemukan lebih dari 10 ekor maka sebaiknya digunakan kandang tipe ganda. Kandang tipe ganda dan saling bertolak belakang merupakan tipe kandang yang paling efisien dalam penggunaan tenaga kerja.

Tempat pakan dapat dibuat dengan kedalaman sekitar 0,5 m  dengan luas tempat sekitar 1m2. Kandang yang disekat-sekat dengan pembatas sebaiknya dilengkapi dengan tempat pakan yang berukuran 80 x 50 cm2 dan tempat minum yang berukuran 40 x 50 cm2 yang masing-masing terbuat dari beton secara individu.

F.2. Bagaimana Kondisi Peternakan sapi dan Perkandangan di Indonesia?

  1. Rata-rata Perkandangan di Masyarakat kita, belum memperhatikan masalah perkandangan sehat. Kandang cenderung becek, kotor dan berbau. Hal ini jelas akan mendatangkan anake macam jenis baketeri, virus maupun parasit mulai cacing, lalat, dan tungau. Penyakit yang muncul mulai dai cacingan, busuk kuku, pneomonia/batuk-batuk, myasis, infeksi, dll.
  2. Pemeliharaan dekat dengan rumah, dan kurang mempeehatikan estetika.
  3. Belum berkelompok dalam satu wilayah pertanian, sehingga sangat sulit dalam pengendalian penyakit ternak sapi dan pemberdayaan  peternak sapi.

  1. G. Sanitasi Penanganan Limbah

Ternak di beri pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat menjadi gemuk dan kotorannya pun bisa cepat terkumpul dalam jumlah yang banyak untuk digunakan sebagai pupuk.  Setiap hari kandang harus dibersihkan dari kotoran. Kotoran umumnya terdiri dari  sisa bahan pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri. Kotorannya hendaknya dibawa dan ditempatkan di tempat khusus, bak penampungan kotoran, yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Jarak ideal dari tempat pembuangan limbah ke kandang adalah ± 10 m. Pembuangan limbah sudah memenuhi syarat karena limbah cair dan padat disaring dengan vasilitas yang bagus sehingga limbah berupa cair yang dibuang ke aliran sungai lagi yang berhubungan dengan perairan penduduk tidak merugikan atau mencemari sungai yang ada. Limbah yang berupa padat setelah disaring ditampung dalam penampungan feses kemudian diolah menjadi pupuk kandang.

Setiap hari kandang harus dibersihkan dari kotoran. Kotoran umumnya terdiri dari  sisa bahan pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri. Kotorannya hendaknya dibawa dan ditempatkan di tempat khusus, bak penampungan kotoran, yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Lantai kandang yang bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan udara di dalam ruangan kandang itu sendiri. Sehingga penghuni kandangpun menjadi lebih nyaman.

Limbah kotoran sapi dapat di olah menjadi pupuk organik, sumber energi alternatif biogas dan pupuk cair. Teknik pengolahan sebenarnya sederhana, dan kita samapaikan pada lain kesempatan.

  1. H. Pengendalian Penyakit dan Vaksinasi

Penyakit merupakan ancaman yang harus diwaspadai peternak.  Walaupun serangan penyakit tidak langsung mematikan ternak, tetapi dapat merusak citra, menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan, menghambat pertumbuhan, dan mengurangi pendapatan atau keuntungan. Untuk mengetahui sapi sakit secara umum bisa dilakukan dengan memperhatikan keadaan tubuh, sikap dan tingkah laku, pernafasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi.

Penyakit menular sungguh merupakan ancaman bagi para peternak.  Walaupun penyakit menular tidak langsung mematikan, akan tetapi bisa merusak kesehatan sapi secara berkepanjangan, mengurangi pertumbuhan, dan bahkan menghentikan pertumbuhan sama sekali.

Berhadapan dengan penyakit yang menular, sebaiknya sapi yang sakit dipisahkan dari lingkungan ternak yang sehat dan dipindahkan ke kandang karantina. Pemindahan ini, dianjurkan karena bekas ternak sakit yang meninggalkan lendir atau sekresi lainnya perlu dibersihkan dan diberi desinfektan, demikian juga peralatan yang dipergunakan. Pengendalian penyakit harus diupayakan agar sapi terhindar dari berbagai infeksi penyakit. Upaya ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti tindakan higienis, vaksinasi, serta pengobatan parasit dalam dan luar.

Penyakit Sapi Yang Harus di Waspadai

  1. BLOAD

Nah gas-gas inilah yang apabila tidak sempat dikeluarkan melalui anus dengan cara berkentut atau dengan bersendawa, gas akan terakumulasi di dalam rumen. Seringkali bloat ringan seperti ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun. apabila kejadian berlanjut dan tidak ditangani, akumulasi gas terjebak ini akan membentuk buih/busa (froathy bloat) yang akan semakin sulit bagi sapi untuk mengeluarkannya.

Gejala Bloat

Untuk itu kita perlu mengetahui beberapa gejala yang tampak ketika ternak mengalami kembung:

  1. perut bagian kiri atas membesar dan cukup keras, bila ditepuk akan terasa ada udara dibaliknya, dan berbunyi seperti tong kosong, persis ketika kita merasa kembung.
  2. ternak merasa tidak nyaman, menghentakkan kaki atau berusaha mengais-ais perutnya
  3. ternak sulit bernafas atau bernafas melalui mulut
  4. sering berkemih/kencing
  5. mengejan
  6. pada kasus yang berat akhirnya tidak dapat berdiri dan mati.

Penanganan BLOAD

  1. Ganti menu hijauan segar dengan daun kering/hay. Hal ini akan membantu pada bloat ringan. Membawa ternak berjalan jalan juga dapat membantu.
  2. Bila masih berlanjut, berikan anti foam. Secara tradisional berupa minyak nabati atau lemak. Minyak bertugas sebagai pengurai buih. Kami biasanya menggunakan minyak nabati atau minyak sayur atau minyak goreng pada dosis 150 – 300 ml segera setelah bloat terdeteksi. Susu murni sebanyak 1 liter juga dapat dijadikan alternatif untuk membuyarkan buih. Secara tradisonal, sprite, minyak angin, dan kopi di tambahkan sedikit garam juga membantu mendispersi buih blod dalam perut sapi. Sedangkan obat modern anti foam untuk mengobati timpani juga tersedia dalam berbagai merek, dapat diperoleh di toko-toko obat hewan.
  3. Dengan menggunakan selang (ukuran ¾” sampai 1” diameter) sepanjang 2 – 3 meter yang dilumuri dengan minyak, dimasukkan melalui mulut melalui esophageal sampai mencapai rumen untuk membantu mengeluarkan gas dari dalam rumen. Selang ini sering disebut selang esophagus/stomach tube. Cara ini terkadang berhasil namun cukup berbahaya karena dapat menganggu bagian dalam ternak. Sebaiknya mintakan saran pada dokter hewan atau latihlah dahulu sebelum bloat terjadi.
  1. Penyakit antraks

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

  1. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)

Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur, selaput lendir dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

  1. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)

Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

  1. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)

Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pencegahan terhadap penyakit sapi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (1) pemilihan sapi bakalan yang betul-betul sehat, 2) Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
(3) Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
(4) Mengusakan lantai kandang selalu kering, (5) Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk. (6) pemilihan lokasi dan kandang yang memenuhi syarat, (7) pemberian pakan yang baik, (4) vaksinasi dan pengobatan (Darmono, 1993). Tindakan higiene meliputi usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik, pengapuran dinding kandang yang teratur, pengaturan ventilasi kandang yang sempurna, dan mampu membentengi dari serangan berbagai jenis infeksi penyakit.

Pada umumnya tubuh sapi mudah kotor akibat kotoran sapi itu sendiri. Atau berupa daki yang terdiri dari timbunan debu dan keringat yang melekat pada tubuhnya. Agar selalu bersih, badan sapi harus dimandikan sehari sekali. Caranya kulitnya digosok-gosok dengan sikat atau spons, atau bahan lain hingga bersih. Sapi yang kulitnya bersih, air keringatnya akan keluar dengan lancar, pengaturan panas di dalam tubuh menjadi lebih sempurna, dan parasit kulit atau gatal-gatal tidak mudah menghinggapinya.

  1. I. Pemasaran

Pemasaran merupakan suatu proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. Pemasaran juga didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan berpindahnya barang dari produsen pertama ke konsumen terakhir.

Pemasaran diartikan sebagai suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang digunakan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Dalam bisnis sapi memang petani cenderung menjadi pihak yang mempunyai margin yang relatif kecil jika di bandingkan dari margin keuntungan yang di dapatkan oleh pedagang. Sehingga harus ada semacam asosiasi yang dapat memproteksi harga dan melindungi petani. Petani harus mau membuat kelompok/asosiasi agar harga dapat dikendalikan maupun bekerja sama baik dari segi pemasaran, pengadaan pakan dll, sehingga biaya produksi dapat effisien.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, G. dan P. Kottler. 1994. Dasar-dasar Pemasaran. Edisi V. Intermedia, Jakarta (Diterjemahkan A. Sindoro).

Akoso, B. T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Arianto, H. B dan B. Sarwono. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Cetakan I. Penebar Swadaya, Jakarta.

Blakely, J dan D.H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan B. Srigandono).

Darmono.1993. Tatalaksana Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Fransond, R. D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hartadi, H. S., S. Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 1991. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Manullang. 1988. Dasar-dasar Marketing Modern. Liberty, Yogyakarta.

Murtidjo, B. A. 2002. Beternak Sapi Potong. Kanisius, Yogyakarta.

Nitisemito. 1981. Marketing. Cetakan ke 3. Galia, Jakarta.

Soewardi, B. 1974. Gizi Ruminansia. Bagian I. Departemen Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Institute Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T. 1981. Sapi dan Pemberian Makanannya. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institute Pertanian Bogor, Bogor. (Tidak diterbitkan).

Syarief dan Sumoprastowo. 1989. Beternak Domba Pedaging dan Wol. Edisi Pertama. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Suharno, B. dan Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sugeng, Y. B. 2000. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Swastha, B. dan Irawan. 2001. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty, Yogyakarta.

Siregar, S. B. 2002. Penggemukan Sapi. Cetakan ke 6. Penerbit Swadaya, Jakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdo Soekotjo. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

About these ads

2 Responses

  1. wah hebat nih informasinya. makasih udah sharing ya. selamat hari raya aidhil fitri, mohon maaf lahir bathin info ternak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: