Aeromonas sp.

Aeromonas untuk genus Aeromonas sedang dalam transisi. Genus telah ditempatkan pada famili baru “ Aeromonadaceae” dari famili Vibrinaceae. Pertama kali empat spesies Aeromonas telah dikenali : A hydrophila, A salmonicida, A sobria dan A caviae. Berdasarkan kelompok hibridisasi DNA, lebih banyak lagi genospesies telah dikenali. Aeromonas adalah bakteri yang motil dengan panjang 1-4 m. Morfologi koloninya sama dengan batang enterik gram negatif, dan mereka menghasilkan hemolisis yang berzona besar pada agar darah. Spesies Aeromonas yang dikulturkan dari specimen tinja tumbuh dengan mudah pada media yang berbeda, yang biasa digunakan untuk kultur batang enterik gram negatif dan mirip bakteri enterik. Spesies Aeromonas berbeda dari bakteri enterik gram negatif dilihat dari adanya reaksi oksidase positifnya pada pertumbuhan yang didapat dari cawan agar darah. Spesies Aeromonas berbeda dari Vibrio dilihat dari munculnya resistensi terhadap campuran O/129 dan sulitnya pertumbuhan pada media yang mengandung 6% NaCl. Ciri khas Aeromonas menghasilkan hemolisin, beberapa galur menghasilkan enterotoksin, sitotoksin dan kemampuannya untuk masuk sel dalam kultur jaringan telah diketahui ( Brooks, dkk, 2001) Read more »

Kolibasilosis

Etiologi

Kolibasilosis pada ayam adalah penyakit lokal atau sistemik yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh Escherichia coli, termasuk koliseptisemia, koligranuloma, air sac diseases, avian cellulites, swollen head syndrome, peritonitis, salfingitis, osteomyelitis/synovitis, panophtalmitis dan omphalitis atau infeksi kantong kuning telur (Barness dan Gross, 1997).

Escherichia coli diisolasi pertama kali pada tahun 1885 oleh Buchner dan secara lengkap diuraikan oleh Theobald Escherich pada tahun 1882 (Gyles, 1983). Meskipun kebanyakan diantaranya nonpatogen, beberapa diantaranya menyebabkan infeksi ekstra intestinal (Aiello, 1998). Escherichia coli merupakan penghuni normal saluran pencernaan unggas. Adanya Escherichia coli dalam air minum merupakan indikasi adanya pencemaran oleh feses. Dalam saluran pencernaan ayam normal terdapat 10-15% bakteri Escherichia coli patogen dari keseluruhan Escherichia coli (Barness dan Gross, 1997). Dalam individu yang sama, Escherichia coli dalam usus tidak selalu sama dengan yang diisolasi dari jaringan lain (Tabbu, 2000).

Bakteri Escherichia coli dapat ditemukan dalam liter, kotoran ayam, debu atau kotoran dalam kandang. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105 sampai 106 Escherichia coli per gram (Tabbu, 2000). Menurut Barness dan Gross (1997), bakteri ini dapat bertahan lama dalam kandang, terutama dalam keadaan kering.

Escherichia coli adalah bakteri gram negatif, tidak tahan asam, tidak membentuk spora dan umumnya berukuran 2-3 x 0,6 μm (Barner dan Gros, 1997). Escherichia coli dan sebagian besar bakteri enterik lainnya membentuk koloni bulat dan cembung. Beberapa strain Escherichia coli menyebabkan hemolisis dalam agar darah (Jawetz et al., 2001). Menurut Raji (2003), kemampuan Escherichia coli dalam menghemolisis dapat menjadi salah satu metode penentuan patogenitas Escherichia coli.

Pada media Eosin Methylene Blue (EMB) koloni Escherichia coli tumbuh khas yaitu terlihat berwarna hijau metalik. Escherichia coli memproduksi asam dan gas dalam glukosa, maltosa, manitol, gliserol, xylose, rhamnose, sorbitol dan arabinosa, tetapi tidak dalam dekstrin dan inositol. Beberapa strain memfermentasikan laktosa dengan lambat atau tidak sama sekali, fermentasi adonitol, sukrosa, salisin, rafinosa dan dulsitol bervariasi. Escherichia coli positif pada tes methyl red dan negatif pada tes Voges-proskauer. Pada Kligler’s iron medium, Escherichia coli tidak memproduksi H2S (Barness dan Gross, 1997).

Janben et al. (2001), mengelompokkan Escherichia coli patogenik sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkan antara lain: Escherichia coli penyebab diare, Escherichia coli penyebab septisemia dan Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC). Beberapa faktor virulensi yang terdapat pada Escherichia coli galur APEC diantaranya: FimC (fimbrae tipe1), iucD, protein tsh, hlyE dan stx2f. Galur APEC merupakan galur yang berhubungan dengan lesi-lesi karakteristik penyakit kolibasilosis pada ayam. Stehling et al. (2003), menambahkan bahwa sebagian besar galur APEC termasuk dalam serotipe O78 dan mempunyai kemampuan untuk mengekspresi beberapa faktor virulensi diantaranya adalah adhesin yang berperan dalam perlekatan pada saluran pernafasan ayam. Read more »

Prolapsus Uteri

Prolapsus atau pembalikan uterus sering terjadi segera sesudah partus dan jarang terjadi beberapa jam setelah itu. Predisposisi terhadap prolapsus uteri adalah pertautan mesometrial yang panjang, uterus yang lemas, atonik, dan mengendur, retensio secundinarum terutama pada apeks uterus bunting, dan relaksasi pelvis dan daerah peritoneal secara berlebihan. Pada sapi perah prolapsus uteri sering terjadi pada hewan yang selalu dikandangkan dan melahirkan di kandang dengan bagian belakang lebih rendah daripada bagian depan. Penarikan paksa memakai tenaga berlebihan menyebabkan ketegangan sesudah pertolongan distokia. Prolapsus sering terjadi pada sapi perah yang sering melahirkan (Toelihere,1985).

Gejala

Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula berdiri dengan uterus menggantung ke kaki belakang. Selaput fetus atau selaput mukosa uterus terbuka dan biasanya terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran, atau gumpalan darah. Uterus biasanya membesar dan oedematous terutama bila kondisi ini telah berlangsung 4-6 jam atau lebih (Toelihere,1985).

Read more »

Kebuntingan Pada Kucing

Pendahuluan

Kebuntingan normal dan abnormal pada kucing domestik dipelajari untuk membantu dokter hewan yang bekerja di breeder kucing dan juga sebagai acuan untuk mempelajari fisiologi reproduksi dari kucing non domestik. Artikel ini mengulas tentang kondisi fisiologi dan endokrinologi serta abnormalitas kebuntingan pada kucing domestik.

Endokrinologi kebuntingan

Tiga hormon yang penting selama kebuntingan adalah estradiol-17β, LH dan progesterone yang masing-masing disekresikan dalam kadar yang berbeda selama masa kebuntingan induk kucing.

Estrogen

Pada awal kebuntingan, kadar dari estradiol-17β dalam darah berfluktuasi sepanjang baseline, dan akan meningkat pada satu minggu sebelum partus [1]. Kadar dari LH dalam darah juga berfluktuasi sepanjang baseline pada awal kebuntingan dan kadarnya akan semakin turun sampai waktu partus [1].

Progesteron

Kadar progesterone akan naik setelah terjadi ovulasi spontan atau ovulasi induksi dan akan selalu ada selama masa kebuntingan untuk menjaga kebuntingan. Sumber penghasil progesteron pada kucing berbeda-beda pada banyak penelitian. Pada salah satu penelitian menyebutkan bahwa induk kucing hamil yang diovariektomi pada usia kebuntingan 45-49 tidak terjadi kebuntingan, hal ini menunjukan bahwa ada penghasil progesterone di luar ovarium [2]. Ini juga diperkuat dengan adanya enzim yang penting untuk produksi progesteron pada plasenta kucing, ini menunjukan bahwa plasenta fetus juga dapat sebagai penghasil progesteron selama kebuntingan [3]. Pada penelitian lain ditunjukan bahwa induk kucing yang diovariektomi pada usia kebuntingan 30-45 hari terjadi penurunan kadar progesterone yang kemudian terjadi abortus, bagaimanapun juga kebuntingan dapat dijaga dengan memberikan suplemen progesterone pada induk kucing setelah diovariektomi [4]. Prolaktin merupakan nama lain dari LTH [5]. Penghambatan sekresi prolaktin dengan obat-obatan seperti cabergoline pada pertengahan kebuntingan akhir akan menyebabkan turunnya kadar progesteron dalam darah dari 80% sampai dengan 100% pada induk kucing yang diikuti dengan terjadinya abortus [4] dan [6], hal ini menunjukan bahwa CL merupakan sumber utama penghasil progesteron selama kebuntingan kucing.

Progesteron dari manapun dihasilkan selama kebuntingan kadarnya berkisar antara 11-60 ng/ml pada awal kopulasi dan akan turun sampai kadar terendah pada saat partus [1].

Karakteristik kebuntingan normal

Read more »

Pseudomonad Septicemia

ikan_patin.gifBakteri dari genus Pseudomonas berada di air. Kebanyakan diantaranya pada air segar, namun ada juga spesies yang hidup di air asin dan air payau. Kebanyakan organisme ini saprofitik. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan menjadi pathogen opertunis pada ikan. Pseudomonad Septicemia biasanya terjadi pada ikan yang dipelihara di kolam dan akuarium, namun kadangkala terjadi pada ikan di alam bebas. Penyakit ini terjadi pada ikan yang dipelihara di kolam biasanya disebabkan manajemen pemeliharaan kurang sesuai atau karena stres. Kekurangan oksigen, kenaikan temperature air, mal nutrisi dan berbagai hal menjadi faktor predisposisi Pseudomonad Septicemia.

Read more »