RESOLUSI SWASEMBADA DAGING DAN SUSU MELALUI OPTIMALISASI REPRODUKSI dan PERBIBITAN

RESOLUSI SWASEMBADA DAGING DAN SUSU
MELALUI OPTIMALISASI REPRODUKSI dan PERBIBITAN
Oleh : Heru Nurwanto

Swasembada daging dan susu yang bersumber dari ruminansia memang tidak akan lepas dari peningkatan dan percepatan populasi ternak. Kebijakan peternakan yang berorientasi pada pengadaan ternak perlu di evaluasi kembali, untuk di fokuskan pada kebijakan reproduksi dan perbibitan sehingga dapat mendorong pertumbuhan bibit dan bakalan ternak. Kebijakan pelarangan pemotongan induk produktif di ikuti dengan kebijakan penguatkan instrument reproduksi, di dukung dengan kebijakan penguatan kualitas dan kuantitas pakan, dan menejemen pemeliharaan yang tepat, akan mendorong percepatan populasi ternak yang sehat.
Keberhasilan bidang reproduksi dapat di evaluasi melalui performa reproduksi (reproduction performance) yang meliputi beberapa aspek, yaitu : service per conception, conception rate, pregnancy rate, calving rate, estrous post partum dan calving interval. Indikator tersebut tentunya tidak dapat lepas dari factor status kesehatan dan reproduksi ternak, pengetahuan dan pengalaman peternak dalam mengidentifikasi status reproduksi ternaknya, factor petugas yang mendampingi peternak, dan instrument reproduksi lainnya.
Menurut penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP pada sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta, calving interval mencapai 19 bulan yang semestinya 12-14 bulan. Sementara gangguan reproduksi fungsional pada sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta masih cukup tinggi, beberapa di antaranya : silent heat mencapai angka 18 %, hypofungsi ovaria 21 %, endometritis ringan 5 %, serta kista folikuller 9 %. Kondisi ini setelah di konfrotir ke beberapa KUD di wilayah Malang menunjukan angka yang tidak jauh beda, sehingga perlu penanganan yang lebih serius terhadap kasus dan gangguan reproduksi.
Dari hasil observasi, kasus reproduksi yang sering terjadi dilapangan pada umumnya ditandai dengan anestrus (birahi tidak tampak gejalanya) dan kawin berulang. Kawin berulang merupakan salah satu problem utama. Kawin berulang adalah suatu keadaan sapi betina yang mengalami kegagalan untuk bunting setelah dikawinkan 3 kali atau lebih, tanpa adanya abnormalitas yang teramati. Hal ini disebabkan endometritis sub klinis, sista folikuler, delayed ovulation, silent heat, subestrus dan lameness.
Pengetahuan dan pengalaman peternak dalam mengelola peternakan menjadi factor penting terhadap kesehatan reproduksi. Konstruksi kandang sampai dengan kebersihan kandang sangat mempengaruhi status reproduksi ternak. Bakteri, jamur, dan organisme mikro lainnya tumbuh subur dalam kondisi kandang yang kotor, becek, dan tidak terawat, sehingga jika sapi hidup dalam lingkungan ini dapat di mungkinkan rentan terinfeksi, sehingga muncul penyakit reproduksi seperti endometritis. Kasus ini sering terjadi pada sapi post partus, karena pada saat itu cervick membuka sampai mengalami proses envolusi selesai, sehingga uterus sangat rentan kemasukan kuman dari lingkungan sapi.
Dari hasil penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP terhadap uterus sapi yang mengalami kawin berulang, menunjukkan adanya jamur Aspergillus fumigatus (60 %). Kemudian, penelitian yang terbaru menunjukan bahwa sapi yang mengalami kawin berulang mengandung bakteri lebih banyak ketimbang sapi yang fertil (62,5 % berbanding 28.6 %). Penelitian Agus menunjukkan adanya beberapa bakteri, seperti : Strepthococus 10 %, Staphylococcus 40 %, Bacillus 50 %, dan E. coli 20 %.
Pengaruh pakan terhadap Reproduksi
Pada sisi lain, kualitas dan kuantitas pakan menjadi titik kritis kesehatan dan reproduksi ternak. Asupan pakan yang cukup akan mendukung fungsi anatomis dan fisiologis ternak terjamin. Dari hasil pengamatan sapi rakyat oleh Drh. Agung bahwa faktor nutrisi merupakan faktor yang kritis, yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap fenomena reproduksi dibanding faktor lainnya. Nutrisi yang cukup dapat mendorong proses biologis untuk mencapai potensi genetiknya, mengurangi pengaruh negatif dari lingkungan yang tidak nyaman dan meminimalkan pengaruh-pengaruh dari teknik manajemen yang kurang baik. Nutrisi yang kurang baik tidak hanya akan mengurangi performans dibawah potensi genetiknya, tetapi juga memperbesar pengaruh negatif dari lingkungan.
Kondisi kurangnya pakan –baik kualitas maupun kuantitasnya, merupakan salah satu penyebab menurunnya efisiensi reproduksi dan gangguan reproduksi yang menyebabkan timbulnya gangguan reproduksi hingga kemajiran pada ternak betina. Apabila didapati sapi umur 13 bulan tidak memperlihatkan tanda-tanda birahi untuk pertama kalinya, perlu dilakukan pemeriksaan, untuk mengetahui kondisi ovariumnya dan dilakukan penanganan untuk memperbaiki fertilitasnya (baca : kondisi kesuburannya) sebelum terlambat –sehingga menjadi majir atau infertil.
Paradigma Inseminasi Buatan
Penggunaan inseminasi buatan telah digunakan secara luas di seluruh Indonesia guna memacu peningkatan populasi dan mutu sapi. Namum sayangnya, keberhasilan pelaksanaan inseminasi buatan masih sangat rendah. Menurut penelitian Agus, angka servis per konsepsi masih berada di atas 5 (diperlukan lebih dari 5 kali IB untuk menghasilkan kebuntingan). Untuk mengurangi kegagalan IB, maka petugas IB harus memastikan agar IB yang mereka lakukan sesuai Standart Operasional Prosedure (SOP) dan tidak menyertakan kuman masuk ke dalam saluran reproduksi ternak.

Paternak sebagai pamong sapi harus mengerti betul perubahan perubahan fisiologis dan tingkah laku ternaknya saat birahi. Deteksi birahi yang di tandai dengan 3A, 2B, 2C, keluar lender, harus di fahami betul oleh peternak. Deteksi estrus pada sapi di tingkat petani cukup bervariasi tetapi pada umumnya rendah, ini dikarenakan durasi estrus ternak yang pendek dan intensitas perilaku estrus yang rendah (gejala estrus yang tidak jelas). Kesalahan deteksi estrus menjadi salah satu penyebab kegagalan IB.
Inseminator sebagai eksekutor IB, harus dapat melakukan IB pada saat yang tepat agar terjadi kebuntingan. Perkawinan yang terlalu cepat atau awal menyebabkan penuaan spermatozoa sehingga spermatozoa tidak mampu membuahi ovum. Hasil penelitian Drh. Surya Agus Prihatno, MP menunjukan bahwa perkawinan yang terlalu cepat (3-4 jam) akan meningkatkan 4.41 kali kejadian kawin berulang. Sebaliknya, perkawinan yang terlambat menyebabkan ovum mengalami penuaan sehingga terjadi kegagalan fertilisasi.
Waktu yang optimal untuk inseminasi pada sapi adalah 4 sampai 12 jam setelah estrus teramati, ini mempertimbangkan waktu ovulasi pada sapi umumnya terjadi 24-28 jam setelah timbul estrus, kemampuan hidup spermatozoa yang fertil adalah 24-30 jam, serta kemampuan hidup dari oosit yang berovulasi hanya 6-12 jam. Dalam rumus yang sederhana, jika sapi birahi pagi hari maka sapi dikawinkan pada sore hari, jika sapi birahi pada sore atau malam hari maka sapi dikawinkan pada keesokan hari.
Namun, menurut penelitian Drh. Agung Budiyanto, dalam beberapa kondisi rumus sederhana ini sudah tidak dapat digunakan. Pasalnya, kata Agung, telah terjadi delayed ovulation (baca : ovulasi tertunda), sehingga sperma akan mati sebelum oosit diovulasikan dan fertilisasi sebagai prasyarat kebuntingan tidak terjadi.
Data penelitian Drh. Agung Budiyanto menyebutkan, setidaknya 82% sapi Simpo (persilangan antara Simental dan PO) dan 84% sapi Limpo (persilangan antara Limousine dan PO) dan 5% populasi sapi telah mengalami delayed ovulation. Menurut Agung, slogan “sapi estrus sore dikawinkan pagi hari dan sapi estrus pagi dikawinkan sore hari” hanya berlaku untuk sapi PO. Untuk sapi Simpo dan Limpo, IB perlu ditunda dulu karena birahi panjang akan menyebabkan ovulasi yang terjadi di akhir dari masa estrus juga akan mengalami penundaan. Sehingga sperma yang dimasukkan tidak terlalu lama menunggu dan mati sebelum ketemu sel telur.
Agung menambahkan, di Indonesia –khususnya di Jawa, peternak suka dengan crossbreed (persilangan) yang dikenal dengan Simpo dan Limpo. Anak yang dihasilkan sangat bagus, karena sebagian sifat pejantan Simmental dan Limousine dominan diturunkan pada anaknya, badan yang besar, pertumbuhan yang cepat menyebabkan harga melambung melebihi sapi PO. Menurut Agung, seiring dengan maraknya crossbreed yang tidak terkendali sampai F3 dan F4 maka performan reproduksinya berubah, yang paling umum ditemui adalah adanya kesulitan kebuntingan ketika perkawinan –terutama pada F2. Hal ini menjadi masalah namun crosbreed terus saja berlangsung. Sebuah survey sederhana di Kulon Progo memperlihatkan, komposisi populasi sapi Simpo, Limpo dan PO di masyarakat saat ini masing-masing sebesar 72%, 20% dan 8%.
Kontrol reproduksi
Kontrol reproduksi secara disiplin dan teratur sangat diperlukan. Terutama pada titik kritis sebagai berikut : 1. Sapi dara yang telah mencapai usia 14 bulan tetapi belum berahi; 2. penanganan retensi plasenta tidak lebih dari 24-72 jam pasca beranak; 3. Pada hari ke 30 pasca beranak harus diperiksa kondisi saluran reproduksi; 4. Saat ditemukan abnormalitas leleran dari vulva seperti terlihat keruh, berbau, dan kehijauan; 5. Ketika tidak terjadi estrus dalam waktu 45 – 60 hari post partum; 6. Pada kasus abortus –diagnosis awal dan terapi cepat akan mengurangi kerugian peternak; pada sapi-sapi yang mepunyai siklus estrus yang abnormal, dan pemeriksaan sapi-sapi yang mengalami kawin berulang; 7serta pemeriksaan kebuntingan setelah 45 – 60 hari perkawinan.

Ada Apa dengan Divisi Reproduksi dan Perbibitan BBPP Batu ??
Masalah reproduksi dan perbibitan ternak sedemikian kompleks, dan menjadi kunci peningkatan populasi ternak untuk swasembada daging-susu. Titik kritis keberhasilan reproduksi tentunya berada pada factor petugas pendamping peternak, penyuluh, petugas IB/PKB/ATR, yang secara langsung membidangi reproduksi. Petugas Inseminasi Buatan “Inseminator”, selain harus memberikan penyuluhan baik secara langsung mapun tidak langsung, missal pada saat meberikan pelayanan, sembari memberi pemahaman tentang deteksi birahi sapi. Sudah selayaknya pula seorang inseminator segera meningkatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman nya untuk memperdalam reproduksi melalui diklat Pemeriksaan kebuntingan dan penyakit dan gangguan reproduksi.
Berkaitan dengan hal tersebut maka Devisi Reproduksi dan Perbibitan Ternak membuka kesempatan kepada Calon inseminator untuk menjadi inseminator yang professional, dan bagi petugas IB dapat meningkatkan ilmu dan pengetahuannya melalui dikat Pemeriksaan Kebuntingan dan Asisten Teknis Reproduksi.

JIKA ANDA BERMINAT MENJADI PETUGAS REPRODUKSI, BISA MENGHUBUNGI :

HERU NURWANTO, hp: 081 328 823 44

DIVISI REPRODUKSI DAN PERBIBITAN

BBPP BATU-JAWATIMUR

BALI ZIEKTE SEBUAH KEJADIAN UNIK PADA SAPI BALI

Sapi merupakan hewan ternak kesayangan yang dapat dijadikan sebagai tabungan masa depan oleh siapapun. Populasi sapi bali masih mendominasi di bumi gorontalo ini. Sapi bali tersebar luas di berbagai kabupaten yang ada di indonesia. Sifatnya yang mudah beradaptasi dan pola makan yang bisa dibilang “rakus” memikat banyak hati peternak untuk memelihara sapi bali ini. Sapi bali merupakan plasma nutfah asli indonesia yang harus dilestarikan dan dikembangbiakkan. Kemampuannya bereproduksi dengan masa purpureum 1-2 bulan sudah bisa dikawinkan lagi , merupakan waktu yang ideal untuk pola pemeliharaan sapi bali untuk mendapat banyak keuntungan. Berbagai ahli di bidang peternakan menyebutkan bahwa sapi bali mempunyai karkas 50 %., hal ini menunjukkan tingkat efisiensi pakan yang tinggi untuk kelas sapi bali. Bahkan ahli perbibitan menyebutkan bahwa kualitas karkas daging sapi bali lebih baik daripada sapi impor seperti lemousin, simental dll sebangsanya.

Adapun salah satu keunikan dari sapi bali yang merupakan kelemahannya juga yaitu, penyakit baliziekte. Bali ziekte yaitu penyakit yang menyerang sapi bali yang diakibatkan oleh karena keracunan tanaman lantana camara (jawa: tembelekan). Lantana camara yaitu sejenis tanaman perdu yang merupakan indikator lahan kritis, berdaun kecil kasar dan berbau khas yang tidak sedap, serta terdapat biji-biji kecil bulat. Tanaman ini banyak dijumpai di semak-semak padangan penggembalaan. Lantana camara sangat tidak bersahabat dengan sapi bali. Sapi bali yang mengkonsumsi tanaman ini akan menyebabkan reaksi aleri dengan munculnya banyak kadar histaminnya. Penampilan fisik dari sapi bali yang terkena baliziekte biasanya tubuhnya panas, nafsu makan menurun bahkan sampai hilang sama sekali, kulit melepuh disekitar telinga, anus, disertai gatal-gatal dan tidak tenang. Jika infestasi tanaman lantana camara yang dimakan cukup banyak serat diikuti infeksi sekunder yang diakibatkan dari efek toksin lantana camara maka akan sangat fatal akibatnya sehingga bisa menimbulkan kematian pada sapi bali tersebut. Pada tindakan nekropsi di temukan adanya kekuningan di seluruh organ tubuh bagian dalam. Hal ini dikarenakan sifat toksin dari lantana camara yang bersifat hepatotoksik sehingga kadar toksik yang tinggi yang menyerang hepar (Baca : hati) menyebabkan tingginya kadar bilirubin sehingga menyebar ke seluruh organ tubuh berubah menjadi nampak warna kuning. Pada kejadian yang akut hal ini susah disembuhkan, akan tetapi pada keadaan dimana kadar lantana camara yang dimakan masih sedikit maka kemungkinan sembuh masih bisa 70-90 %, dengan pemberian antihistamin.

Kendala di lapangan biasanya petani peternak kurang menyadari kalau sapi peliharaannya sakit dan terserang baliziekte. Hal ini disebabkan karena memang gejala baliziekte tidak begitu nampak. Untuk itu para petani peternak sebaiknya tidak mengikat sapi piaraanya yang diumbar dekat dengan tanaman ini. Tips awal yaitu jika sapi sudah tidak mau makan satu hari saja maka sapi tersebut pasti ada masalah, dan segera memanggil dokter hewan atau petugas keswan setempat. Lebih cepat ditangani lebih besar kemungkinan bisa disembuhkan itulah prinsip yang bisa diterapkan untuk kejadian baliziekte pada sapi bali yang unik tersebut.

Selamat beternak dan sukses, salam (penulis : drh. Yanno findria sukarni)

BOVINE VIRAL DIARRHEA

BOVINE VIRAL DIARRHEA

Oleh : drh. Painem

 

Penyakit Bovine Viral Diarrhea (BVD) merupakan penyakit yang mempunyai dampak sosial dan ekonomi cukup besar. Penyakit ini mulai dari subklinis sampai kondisi fatal yang disebut mucosal disease. Kondisi akut menimbulkan gejala diare, pneumonia dan mortalitas tinggi. Infeksi secara transplasenta menyebabkan aborsi, stillbirths, efek teratogenik atau infeksi persisten pada pedet baru lahir.

.

2.1 Etiologi

Penyakit Bovine Viral Diarrhea (BVD) disebabkan oleh Bovine Viral Diarrhea Virus genus Pestivirus dari famili Flaviviridae.

Virus BVD adalah virus yang menginfeksi sapi maupun biri-biri. Virus ini merupakan RNA virus kecil beramplop yang diklasifikasikan sebagai pestivirus bersama dengan Border Disease Virus, yang juga menginfeksi biri-biri, serta Classical Swine Fever (Hog Cholera). Ada dua spesies berbeda dari virus BVD yang telah ditemukan berdasarkan genotipenya : BVDV-1 dan BVDV-2. BVDV-1 terdistribusi diseluruh dunia dan memiliki beberapa sub tipe (BVDV-1a, BVDV-1b dan 2a). BVDV-2 telah dilaporkan ditemukan di Eropa, walaupun sangat jarang ditemukan diluar Amerika Utara ( Merk, 2011)

Virus BVD dapat diklasifikasikan dalam biotipe sebagai cytopathic (CP) dan non cytopathic (NCP) dalam hal dapat diamati atau tidak dapat diamati perubahan sitopatik pada biakan sel yang terinfeksi ( Baker, 1995 ).

2.2 EPIDEMIOLOGI

Virus BVD telah menyebar ke seluruh dunia. Penularan, prevalensi antibodi yang tinggi dan frekuensi kejadian subklinis atau infeksi yang sulit didiagnosis menghasilkan tingginya prevalensi antibodi terhadap BVD. Prevalensi antibodi dapat mencapai 90% jika program vaksinasi dilaksanakan pada daerah tersebut. Meskipun semua umur ternak rentan terhadap penyakit BVD ini, namun pada umur 6 bulan sampai 2 tahun yang lebih menunjukan gejala klinis. Masa inkubasi yang tidak menentu dan adanya infeksi persisten yang kronis menambah kompleksnya kejadian penyakit ( Kahrs,1981 ).

Hewan yang terinfeksi secara persisten oleh NCP BVDV akan menjadi sumber infeksi terbesar dalam suatu kelompok ternak yang terinfeksi secara endemis. Persisten infeksi oleh NCP BVDV terjadi melalui transplasenta pada kebuntingan 4 bulan pertama. Anak sapi yang lahir akan menjadi carier dan bersifat imunotolerans. Jika infeksi virus BVD terjadi pada kebuntingan tua akan menyebabkab abortus, kelainan kongenital, lahir normal namun punya antibodi BVDV. Prevalensi persisten infeksi pada ternak umur ≤ 1 thn sekitar 1-2%. Virus BVD dapat ditemukan pada cairan sekresi dan ekresi dari hewan yang terinfeksi secara persisten. Gangguan reproduksi dan gejala klinis sering terlihat pada ternak setelah terinfeksi oleh PI (persisten infeksi). BVDV dapat disebarkan oleh gigitan serangga, cairan muntahan, dan semen.

2.3 PENYEBARAN PENYAKIT

Penularan melalui kontak langsung dengan sapi yang terinfeksi kepada sapi lainnya. Kejadian kasus klinis diantara sapi muda (4 – 24 bulan) mungkin merupakan refleksi banyaknya infeksi dan ditandai dengan adanya antibodi yang terkandung dalam kolostrum ataupun kepekaan diantara umur sapi. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada infeksi virus BVD ataupun manifestasi klinis antar breed ataupun perbedaan kelamin. Infeksi terjadi sangat cepat antar sapi yang peka melalui kontak langsung, tetapi tanda klinis yang terlihat bertolak belakang dengan masa inkubasi yang tidak teratur dan interval yang bervariasi antara infeksi maternal dan abortus ataupun anak sapi yang tidak normal (Kahrs, 1981).

2.4 PATOGENESIS

Seperti halnya penyakit lain patogenesis virus BVDV tergantung pada interaksi antara host, agen, dan lingkungan. Terdapat berbagai temuan klinis berdasarkan faktor-faktor host dan virulensi dari bentuk khusus dari BVDV yang terlibat. Secara umum, kompleks BVDV dapat mengakibatkan diare subklinis, penyakit mukosa, perakut fatal diare, immunosuppresi, trombositopenia dan hemoragik, kegagalan reproduksi dan kelainan bawaan dari pedet. Gejala klinis dari infeksi BVDV tergantung pada faktor hostnya (sapi) seperti umur hewan, usia janin saat terinfeksi secara transplasenta (usia kebuntingan), dan status kekebalan (pasif karena kolostrum atau aktif karena vaksinasi/paparan sebelumnya) (Radostits, 2007). Secara mudah patogenesis BVD dapat dibahas dalam dua kategori yaitu imunokompeten ternak yang tidak bunting dan imunokompeten pada ternak yang bunting.

  1. Imunokompeten ternak yang tidak bunting

BVDV subklinis yang umumnya terjadi dipeternakan, karena penurunan antibodi induk. Infeksi jarang berlangsung lebih dari beberapa hari dan ditandai dengan depresi, diare ringan, dan leukopenia sementara.

Peracut BVD adalah bentuk parah dan sangat fatal dari penyakit yang disebabkan oleh NCP BVDV-2, namun jarang terjadi. Bentuk penyakit ini dapat mengakibatkan trombositopenia dan sindrom hemoragik, hemoragi, epistaksis, dan pendarahan abnormal. Sapi dengan BVD lebih rentan terhadap rhinotracheitis, penyakit pernapasan sapi, dan enteritis.

  1. Imunokompeten ternak bunting

BVDV dapat menginfeksi janin setiap saat, tapi hasilnya bervariasi tergantung pada strain virus dan usia kebuntingan. Aborsi dapat terjadi selama spesifik periode kebuntingan (gambar 2):

  • Infeksi selama siklus entrus bisa mengakibatkan infertilitas atau kematian embrio dini. Jika terjadi sebelum inseminasi penurunan konsepsi terjadi karena penundaan atau pengurangan ovulasi. Inseminasi dengan semen yang terinfeksi BVDV akan menghasilkan tingkat konsepsi yang rendah.
  • Infeksi pada paruh pertama kebuntingan dapat mengakibatkan aborsi atau infeksi persisten pedet.
  • Infeksi pada paruh kedua kebuntingan bisa mengakibatkan aborsi, bayi lahir mati, atau sapi lemah, tapi tidak menyebabkan infeksi persisten pedet.

Infeksi persisten (PI) pedet terjadi ketika janin terinfeksi BVDV selama paruh pertama kebuntingan (gambar.3). Pada masa tersebut sistem kekebalan janin belum cukup berkembang untuk merespon infeksi BVDV. Janin kemungkinan aborsi tetapi jika bertahan kemungkinan akan berkembang menjadi pedet PI. Beberapa pedet PI dapat tumbuh jelek sementara yang lain dapat tumbuh sehat dan baik, sehingga tidak mungkin mendeteksi hewan PI secara visual. Sebagian besar hewan PI mati pada umur 2 tahun, tetapi beberapa akan bertahan beberapa tahun dan carier BVDV sepanjang hidup dan menjadi ancaman bagi kesehatan ternak.

2.5 GEJALA KLINIS

Infeksi subklinis adalah bentuk dominan dari penyakit yang menunjukan morbiditas tinggi tapi tingkat kematian rendah. Ditandai dengan demam ringan, diare ringan, leukopenia, dan inappetence. Bentuk infeksi BVDV akan sering tidak terdiagnosa karena tanda-tanda sangat ringan dan hewan akan sembuh dengan cepat setelah beberapa hari.

Penyakit mukosa akut dapat terjadi dalam kawanan BVDV positif dalam 5-25% dari hewan berumur 6-24 bulan dengan morbiditas 45% dengan tingkat mortalitas sampai 100%. Hewan yang terinfeksi mengalami depresi, anoreksi, ada leleran mulut, meningkatkan denyut jantung dan pernapasan, diare busuk bercampur darah, dan lendir. Kejadian mukosa akut 80% menunjukan erosi di rongga mulut dan moncong yang berkembang menjadi berwarna abu-abu dan terjadi kematian jaringan. Keluar leleran fibrous dari hidung, terjadi kepincangan dan kematian karena dehidrasi yang biasanya terjadi dalam 5-7 hari setelah tanda-tanda awal muncul.

Penyakit mukosa kronis berkembang dari bentuk penyakit mukosa akut. Akan menunjukan gejala diare yang sementara, kekurusan, kelainan bentuk kuku, dan lesi erosif dari rongga mulut dan kulit. Hewan dengan mukosa kronis dapat bertahan sampai 18 bulan.

Diare virus perakut adalah penyakit yang sangat fatal yang dilaporkan sebagai wabah progresif yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Hewan menderita depresi berat, anoreksia, demam tinggi, diare air, dan penurunan produksi susu. Umumnya aborsi. Hal ini dapat terjadi pada segala umur ternak tetapi kematian tertinggi pada hewan muda, dengan kematian beberapa hari setelah timbulnya gejala.

Trombositopenia dan penyakit hemoragik ditandai dengan diare berdarah, perdarahan pada mukosa mata, epistaksis, perdarahan karena gigitan serangga. Sapi dapat menunjukan gejala demam, dehidrasi dan rumen stasis. Kematian diperkirakan 25%.

Konsekuensi reproduksi dipandang sebagai kegagalan pembuahan, aborsi dan mummifikasi, kelahiran prematur, lahir mati, cacat bawaan, pertumbuhan terhambat, dan menjadi pedet PI. Tingkat infeksi pada janin dapat mencapai 21% (Radostits,2007).

2.6 DIAGNOSA

Diagnosa sementara penyakit BVDV berdasarkan dari anamnesa, gejala klinis, dan lesi yang muncul. Hasil laboratorium dapat mendukung diagnosa ketika gejala klinis dan lesi yang muncul sangat minim. Hasil laboratorium juga dapat mendukung penentuan diagnosa yaitu penyakit mukosa akut atau BVD akut karena penyakit ini mirip dengan Rinderpest dan Malignant Catarrhal Fever (Merk, 2011).

Laboratorium dapat mengkonfirmasi BVDV menggunakan PCR, imunohistokimia, serologi, isolasi virus, dan ELISA antibodi. Jenis pengujian dan sampel yang akan digunakan tergantung pada sejarah penyakit/anamnesa, status vaksinasi, umur hewan, biaya pengujian, dan alasan untuk melakukan pengujian.

Gold standar untuk mendiagnosa BVDV adalah isolasi virus. Hal ini dapat dicoba dengan menggunakan swab hidung atau mata, semen, jaringan usus, limpa atau sebagai besar jaringan lain, dan sampel darah. Darah adalah yang terbaik pada hewan hidup.

2.7 PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN

Pengobatan yang dapat dilakukan hanya bersifat supportif saja karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Pencegahan dan pengendalian merupakan hal penting yang harus dilaksanakan.

Pengendalian BVDV saat ini harus menggabungkan kombinasi dari biosekuriti, pengujian dan pemusnahan hewan PI serta vaksinasi. Berbagai pilihan dapat dilakukan untuk manajemen BVD ketika infeksi dalam suatu kelompok ternak telah ditetapkan yaitu :

  1. Vaksinasi dari sapi penderita. Hewan yang telah divaksin diberikan booster vaksin tunggal setiap tahun.
  2. Tindakan pencegahan melalui biosekuriti agar tidak terbawa virus ke peternakan oleh pembawa.
  3. Melakukan pengujian dengan pemeriksaan darah pada semua kelahiran pedet sekitar 3 bulan setelah terlihat hewan pertama yang sakit BVD. Dan terus melakukan pengujian sampai 9 bulan setelah terlihat hewan terakhir yang sakit karena BVD.
  4. Cegah kontaminasi pupuk kandang terhadap bulu, makanan, dan air.
  5. Tempat tinggal pedet dibuat sendiri.
  6. Pengujian hewan baru untuk infeksi persisten.
  7. Pedet yang baru lahir diberi kolostrum secara maksimal.
  8. Kurangi stress pada sapi yang bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain, kekurangan nutrisi, ketidaknyamanan kandang dan kualitas air yang jelek.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tersebarnya penyakit BVD adalah :

  1. Melakukan program vaksinasi BVD pada setiap ternak yang masuk atau yang baru lahir.
  2. Tidak menjual sapi dari peternakan yang terjangkit BVD.
  3. Memberikan informasi kepada calon pembeli terhadap terjangkitnya penyakit BVD ini. Jika ternak bunting yang terjangkit berikan penjelasan agar memeriksakan pedetnya jika telah lahir untuk melihat pedet menjadi carier terhadap BVD. Jika menjadi carier pedet harus dimusnahkan.
  4. Pengguguran setelah terinfeksi BVD.
  5. Hewan yang terinfeksi dan hewan lain yang kontak dengan hewan tersebut diisolasi.
  6. Sanitasi dengan melakukan desinfeksi kandang secara rutin dan dilakukan dengan kombinasi sistem all in, all out.
  7. Mencegah penyebaran dari hewan yang terinfeksi. Hanya membawa dari peternakan yang bebas BVD.
  8. Hanya membawa hewan dari peternakan yang punya program vaksinasi yang efektif.
  9. Menghindari pembelian dari kandang-kandang penjualan/pengepul.
  10. Isolasi hewan baru selama 30 hari sebelum kontak dengan hewan dalam peternakan.

2.8 KEJADIAN DI INDONESIA

Berdasarkan laporan Balai Besar Penelitian Veteriner tahun 2009, di Indonesia prevalensi penyakit pada sapi potong adalah 28%, sapi perah 77%, sapi BIB 37%, dan sapi BET 45%.

Kasus diare ganas terjadi juga pada Balai Inseminasi Buatan dan sapi pembibitan di Indonesia. Kejadian diare ganas oleh virus BVD ada di beberapa daerah di Indonesia antara lain Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Riau, Bengkulu, Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan ( Darmadi, 1989).

Wiyono et al (1989) menyatakan dalam pengamatannya ada 70 ekor sapi mati di Kecamatan Mensiku Jaya, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sedangkan dari Kecamatan Batang Tarang ada 22 ekor mati. Keseluruhan sapi bibit tersebut dari Sulawesi Selatan dan yang mati di karantina ada 70 ekor dengan total kematian dari Sulawesi Selatan sebanyak 162 ekor (19,4%). Gejala yang diamati adalah demam, diare, erosi pada selaput lendir saluran pencernaan, opasitas kornea, dan infeksi sekunder. Dari 15 ekor sapi yang sakit, diamati nafsu makan yang menurun, lemah dan lesu, dan kelainan pada mata berupa konjungtivitis, keratitis, opasitas kornea, dan hiperlakrimasi. Sedangkan gejala pada saluran pencernaan adalah lesi ringan atau erosi pada selaput lendir lidah dan mencret.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Baker, J. 1995. The Clinical Manifestation of Bovine Viral Diarrhea Infection. Vet Clin North Am Food Anim Pract. 13(3):425-54.
  2. Darmadi, P. 1989. Kejadian Diare Ganas pada Sapi. Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta.
  3. Kahrs, R.F. 1981. Viral Diseases of Cattle. 1 st edition. The IOWA State University Press. Ames. IOWA.
  4. Merk Veteriner Manual. 2001; Merck Sharp & Dohme Corp. Asubsidiary of Merck & Co..Inc. Whitehouse Station, NJ USA.
  5. Radostitis, O.M. 2007. New Concepts in Patogenesis, Diagnosis and Control of Diseases Caused by The Bovine Viral Diarrhea Virus. Can. Vet J.
  6. Sudarisman. 2011. Bovine Viral Diarrhea pada Sapi di Indonesia dan Permasalahannya. Wartazoa Vol 21 No1.
  7. Wiyono, A., P. Ronohardjo, R.J. Graydon and P.W.Daniels. 1989. Diare Ganas Sapi. Kejadian Penyakit pada Sapi Bali Bibit Asal Sulawesi Selatan yang Baru Tiba di Kalimantan Barat. Penyakit Hewan XXI.

PENYAKIT METABOLIK PADA SAPI PERAH

Penyakit Metabolok Pada Sapi Perah

Oleh : drh. Reni Indarwati

Perubahan fisiologi dari bunting, beranak, laktasi merupakan hal yang sangat berat bagi sapi perah. Banyak perubahan hormonal yang terjadi berkaitan dengan proses tersebut. Perubahan tersebut tentu akan mempunyai dampak yang sangat signifikan manakala kebutuhan metabolismenya tidak tercukupi dengan baik, selain dampak yang perlu diwaspadai meski secara fisiologi normal. Sebagian besar kejadian penyakit metabolik ataupun penyakit peripartus lain pada sapi perah seperti milk fever, ketosis, retensi plasenta, left displacement abomasum terjadi dalam dua minggu pertama laktasi. Pada tulisan ini lebih difokuskan pembahasan tentang penyakit milk fever dan dampaknya pada sistem kekebalan serta penyakit lain pada sapi perah pada periode periparturien.

PENTINGNYA MASA PERIPARTURIEN

Periode periparturien oleh banyak ahli ditetapkan 3 minggu sebelum partus hingga 3 minggu setelah partus. Istilah lain yang mungkin dikenal adalah transition period. Pada periode ini banyak terjadi perubahan-perubahan yang drastis mulai persiapan kelahiran, proses kelahiran dan pasca kelahiran termasuk mulainya periode laktasi. Pada saat partus sejumlah hormon yang berkaitan dengan reproduksi, pengaturan dan stress dilepas dari hipofisis, yang kemudian menstimulasi organ endokrin lain atau jaringan target, termasuk sistem kekebalan. Seperti kita ketahui bahwa proses kelahiran akan dimulai dengan meningkatnya glukortikoid. Glukokortikoid telah lama dikenal sebagai agen imunosupresif, menghambat proses kesembuhan, menurunkan limfosit. Konsekuensinya adalah kebuntingan, kelahiran dan laktasi yang berkaitan profil neuroendokrin akan berpengaruh pada respon sistem kekebalan. Penelitian Kehrli dan Goff (1989) menunjukkan hal yang lebih jelas berkaitan dengan penurunan fungsi neutrofil dan limfosit pada periode peripaturien. Ini berarti bahwa sapi yang berada pada periode periparturien mempunyai risiko yang tinggi terhadap terjadinya penyakit infeksius. Selain itu, hal penting yang terjadi pada periode periparturient adalah keluarnya susu. Susu yang pertama kali keluar disebut kolostrum. Komposisi kolostrum ini berbeda dengan susu normal, terutama kandungan kalsium. Kandungan kalsium kolostrum bisa mencapai 2,1 gram/l atau 10 kali lipat dibanding susu normal. Kalsium susu ini berasal dari kalsium darah yang disuplai ke dalam ambing untuk menjadi bagian dari komposisi susu atau kolostrum. Karena peran kalsium yang sangat penting di dalam tubuh maka konsentrasi kalsium darah yang hilang setelah disuplai ke ambing dan keluar tubuh bersama susu, dipertahankan (homeostasis) dengan suatu mekanisme metabolisme kalsium. Bila terjadi gangguan dalam mempertahankan konsentrasi kalsium di dalam darah maka akan terjadi penurunan konsentrasi kalsium darah.

 

HUBUNGAN PENYAKIT METABOLIK DAN MASTITIS

Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara penyakit metabolik dengan mastitis. Sebuah penelitian di New York terhadap 2.190 sapi perah menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara milk fever dengan mastitis. Sapi-sapi penderita milk fever akan mempunyai risiko 8,1 kali lebih tinggi mengalami mastitis dibanding sapi-sapi yang tidak menderita milk fever. Di Swedia, sapi penderita ketosis akan mempunyai risiko mengalami mastitis dua kali lebih tinggi. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sapi perah penderita mastitis akan lebih parah bila mengalami retensi plasenta. Di Inggris, lahir kembar, distokia, retensi plasenta dan kepincangan sebelum kawin pertama kali pasca partus meningkatkan risiko mastitis (Peeler et al., 1994)

MILK FEVER

Milk fever dan hipokalsemia subklinis (total kalsium darah 2,0 mmol/l) adalah penyakit penting akibat gangguan makromineral pada sapi-sapi periode periparturien. Kejadian milk fever biasanya sekitar 5-10%, namun beberapa penulis pernah menyatakan insidensi rate milk fever bisa mencapai 34% bahkan lebih. Di Irlandia kejadian milk fever bisa mencapai 50%, di New Zealand sebesar 33% (Mulligan et al., 2006). Namun dari semua laporan yang pernah ada, belum pernah dilaporkan prevalensi hipokalsemia subklinis.

Milk fever adalah penyakit yang terjadi akibat ketidakmampuan seekor sapi beradaptasi terhadap perubahan konsentrasi kalsium di dalam tubuhnya. Kalsium adalah makromineral yang sangat penting di dalam tubuh. Kalsium berperan dalam proses pembentukan tulang, kontraksi otot, pembekuan darah dan lain-lain. Bila seekor sapi kehilangan kalsium akibat proses pemerahan, maka kalsium darah harus segera tergantikan. Ketidakmampuan sapi menanggapi kebutuhan tersebut menyebabkan konsentrasi kalsium darahnya turun dan menyebabkan gangguan peran fungsi kalsium termasuk kontraksi otot. Pada umumnya sapi penderita mempunyai konsentrasi kalsium darah kurang dari 7 mg/dl. Implikasi menurunnya peran fungsi kalsium mempunyai dampak yang luas terhadap sistem kekebalan dan penyakit-penyakit lain pada sapi periode periparturien. Penelitian Triakoso dan Willyanto (2001) pada sapi perah di KUD Karang Ploso Malang, juga menunjukkan hal yang sama. Parturient hipokalsemia pada sapi-sapi di KUD Karang Ploso Malang meningkatkan risiko terjadinya distokia sebesar 7,8; retensi plasenta 2,6; metritis 4,1 dan kepincangan sebesar 6,6 kali dibanding sapi yang tidak megalami parturient hipokalsemia.

MILK FEVER DAN MASTITIS

Milk fever meningkatkan risiko terjadi mastitis pada sapi perah. Penderita milk fever akan mengalami kesulitan mengalami kontraksi otot, termasuk juga otot-otot lubang puting. Penelitian Daniel et al. (1983) menunjukkan hubungan antara kekuatan dan laju kontraksi otot polos intestinal sejalan dengan konsentrasi kalsium darah. Sphincter lubang puting tersusun dari otot-otot polos. Kontraksi otot-otot polos tersebut akan menyebabkan lubang puting menutup. Jika terjadi hipokalsemia maka akan terjadi penurunan kekuatan dan laju kontraksi otot polos tersebut dan pada akhirnya akan menyebabkan gangguan penutupan lubang puting. Dan sebagaimana kita tahu bahwa lubang puting akan membuka sangat lebar setelah proses pemerahan dan semakin lebar bila sapi tersebut produksi susunya tinggi. Sementara itu penderita milk fever cenderung untuk rebah karena tidak mampu menopang berat badannya, karena kelemahan kontraksi otot-otot tubuhnya. Terbukanya lubang puting dan kecenderungan sapi rebah akan meningkatkan kemungkinan masuknya bakteri melalui lubang puting yang menjadi dasar proses kejadian mastitis. Sementa itu, neutrofil dan limfosit perifer mengalami penurunan fungsi kekebalan pada sapi penderita milk fever (Kehrli, Jr. and Goff, 1989). Dengan demikian memang milk fever meningkatkan risiko mastitis. Beberapa penelitian menyatakan bahwa risiko matitis meningkat 8 kali pada sapi penderita milk fever.

Hipokalsemia juga menjadi stressor bagi sapi perah. Sapi perah yang memasuki inisiasi partus akan terjadi peningkatan kadar kortisol 3-4 kali. Pada sapi hipokalsemia subklinis ditemukan peningkatan kortisol 5-7 kali saat partus, sementara pada sapi yang mengalami milk fever ditemukan peningkatan kortisol 10-15 kali lipat (Horst and Jorgensen, 1982). Tingginya kadar kortisol akan menyebabkan imunosupresi pada sapi pada periode periparturien dan diduga mulai terjadi 1-2 minggu sebelum partus (Kehrli et al., 1989; Ishikawa et al, 1987; Kashiwazaki et al., 1985).

DISTOKIA DAN PROLAPSUS UTERI

Beberapa penlitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kejadian pada sapi penderita milk fever terhadap distokia. Beberapa kasus menunjukkan bahwa odd ratio distokia sebesar 2-3 kali lebih tinggi, bahkan hingga 6 kali lebih tinggi dibanding normal (Curtis et al., 1983;, Erb et al., 1985, Correa et al., 1993). Berkaitan dengan kejadian distokia pernah juga dilaporkan sapi penderita prolapsus uteri menunjukkan konsentrasi kalsium serum lebih rendah dibanding normal (Risco et al., 1984). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 19% sapi penderita prolapsus uteri menunjukkan hipokalsemia berat (kalsium serum <4mg/dl), sementara 28 sapi lainnya menunjukkan hipokalsemia moderat (kalsium serum 4,1 sampai 6,0 mg/dl).

RETENSI PLASENTA DAN ENDOMETRITIS

Beberapa penelitian yang mengungkap bahwa milk fever meningkatkan risiko kejadian retensi plasenta (House et al., 2001; Curtis et al., 1989). Dampak langsung milk fever terhadap retensi plasenta sebesar 2 kali, selain interaksi tidak langsung akibat milk fever pada distokia (Erb et al., 1985). Dampak tidak langsung milk fever terhadap retensi plasenta adalah, dimana milk fever menjadi faktor risiko terjadinya distokia dan distokia menjadi faktor risiko retensi plasenta (Correa et al., 1993). Melendez et al. (2004) melaporkan bahwa konsentrasi kalsium plasma lebih rendah pada penderita retensi plasenta dibanding sapi normal. Berdasarkan informasi di atas, retensi plasenta cenderung lebih banyak terjadi pada sapi penderita milk fever subklinis dibanding milk fever klinis.

Dalam hubungannya dengan kasus endometritis, penelitian Sheldon (2005) menunjukkan bahwa sapi penderita hipokalsemia klinis menunjukkan kejadian penyakit endometritis lebih tinggi dibanding sapi normal.

MILK FEVER DAN FERTILITAS

Banyak peneliti yang menduga milk fever menurunkan fertilitas sapi perah. Hal ini akibat peran kalsium pada organ reproduksi, dimana pada penderita milk fever terjadi gangguan fungsi otot uterus, adanya perlambatan involutio uteri (Borberry and Dobson, 1989) serta adanya perlambatan aliran darah uteri (Johnson dan Daniel, 1997). Hal-hal lain yang diduga berpengaruh terhadap fertilitas secara tidak langsung adalah kejadian distokia dan retensio plasenta serta endometritis. Penelitian Whiteford and Sheldon (2005) sapi penderita milk fever klinis memiliki diameter kornua uteri lebih besar pada saat bunting ataupun saat tidak bunting antara hari ke 15 hingga 45 pasca partus. Hal ini mengindikasikan adanya perlambatan involutio uteri. Penelitian ini juga melihat adanya penurunan gambaran corpus luteum, hal mana mengindikasikan terjadinya penurunan ovulasi setelah proses kelahiran. Penelitian Kamgarpour et al. (1999) menunjukkan sapi penderita hipokalsemia subklinis mempunyai folikel yang diovulasikan pada hari ke 15, 30 dan 40 pasca partus dan ukuran folikel yang diovulasikan pertama kali lebih kecil dibanding normal. Borsbery and Dobson (1989) melaporkan bahwa terjadi peningkatan service per conception, calving to service interval, serta calving to service conception pada sapi penderita milk fever.

MILK FEVER DAN SALURAN PENCERNAAN

Beberapa peneliti pernah melaporkan adanya keterkaitan antara milk fever dengan penyakit-penyakit gastrointestinal seperti rumen dan abomasum (Daniel, 1983; Jorgensen et al., 1998). Hal ini karena adanya penurunan motilitas muskulus rumen dan abomasum pada sapi penderita hipokalsemia subklinis maupun klinis. Menurunnya motilitas ini juga berpengaruh terhadap intake pakan. Penurunan intake pakan akan sangat tampak pada sapi yang berpoduksi tinggi, dimana kebutuhan akan pakan juga tinggi. Goff (2003) mengindikasikan bahwa menurunnya motilitas dan kekuatan kontraksi abomasum akan berpengaruh terhadap kejadian atoni abomasun dan distensi abomasum pada sapi yang mempunyai konsentrasi kalsium rendah di sekitar waktu partus.

SMD TA 2012, Salam Peternak!!!

Dalam rangka mensukseskan program Sarjana Membangun Desa (SMD) 2012, untuk mendukung swasembada daging Indonesia, Kami siap membantu dalam pengadaan aneka hewan ternak yang di butuhkan, seperti kambing (PE/Jawa Randu), domba, sapi potong, sapi perah, kelinci, ayam dll.

Hubungi: 081 328 823 444

PANDUAN BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

PANDUAN BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

TIM: PPM JOGJAVET


Disampaikan:

27 DESEMBER 2008, HOTEL SUKOWATI, NGAWI, JAWATIMUR.

PUSAT PPEMBERDAYAAN MASYARAKAT VETERINER,  JOGJAVET,

Sekretariat: Malangjiwan, Bakung, Bangunharjo, sewon, Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 55187.

Telp. 081 328 823 444. E-mail: jogjavet@gmail.com. Web Site: http://www.potaljv.tk

 

  1. PELUANG BUDIDAYA TERNAK SAPI

Sejak tahun 1999 telah diidentifikasi terjadi malnutrisi atau kekurangan gizi terutama anak balita, sehingga sangat dimungkinkan terjadi penurunan kualitas fisik,dan intelektual generasi yang akan datang. Menurut (Rochaki, 2005) konsumsi protein 4,7 gram/kapita/hari masih dibawah normal sedangkan gizi yang disarankan Food Association Organizing (FAO) sebesar 6 gram/kapita/hari. Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan saat ini setiap masyarakat Indonesia baru mampu mengkonsumsi daging sapi kurang lebih 1,7 kg/orang/tahun,  yang disupply dari sapi lokal 1,5 juta ekor sapi setara dengan 350.000 ton daging, impor sapi bakalan 300.000 ekor dan daging impor 30.000 ton. Sehingga masih kekurangan sapi potong, untuk memenuhi kebutuhan nasional. Rendahnya konsumsi daging disebabkan supply sapi yang belum mencukupi permintaan dan biaya produksi (pemeliharaan) yang relatif mahal, sehingga harga sapi potong melambung tinggi dan akhirnya daya beli masyarakat tidak mampu menjangkau. Solusi untuk meminimalisasi permasalahan ini adalah menurunkan biaya produksi dengan menggunakan teknologi beternak yang baik dan benar untuk mengeffektifkan produksi dan menekan harga sapi sehingga daya beli masyarakat membeli daging sapi dapat menjangkau.

Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai wilayah yang sangat luas, bahan baku melimpah, sumber daya alam yang melimpah dan mempunyai potensi utama sebagai negara agraris. Secara geografis Indonesia terletak pada 60 LU – 110 LS dan       950 BT – 1140 BB, menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan curah hujan cenderung tinggi dan sinar matahari bersinar sepanjang tahun, Potensi agraris Indonesia sangat melimpah untuk mendukung sector peternakan. Sumber hijauan ternak mulai dari rumput gajah, setaria, gerinting, gamal, king gress dll melimpah ruah.

Saya mempunyai keyakinan jika potensi tersebut dimanfaatkan secara maksimal didukung dengan kuantitas dan kulitas SDM yang tinggi akan menjadikan sektor agraris sebagai soko guru ekonomi Nasional.

  1. PETERNAKAN SAPI?

Peternakan merupakan tempat dimana ternak dapat tumbuh dan berkembang, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, penggemukan, sampai pengolahan hasil ternak. Ternak sapi pedaging atau potong banyak dijumpai di penjuru dunia dengan pemelihraan sesuai dengan kondisi setempat. Usaha Penggemukan sapi akhir-akhir ini semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat maupun daerah yang mengusahakan penggemukan sapi. Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus-menerus meningkat dari tahun ke tahun dan timbul keinginan sebagian besar peternak sapi untuk menjual sapi dengan harga yang lebih pantas. Namun demikian masyarakat di Indonesia masih menggunakan sistem yang masih konvensional dalam artian bahwa ternak masih digunakan sebagai tenaga kerja dan sebagai tabungan sehingga produktifitasnya masih dikatakan rendah.

Produktifitas ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genetik atau bibit, pemeliharan dan manajemen pakan. Ketiga faktor tersebut harus dijalankan secara seimbang, karena jika salah satu faktor tidak terpenuhi maka produktifitas ternak tidak akan berjalan secara optimal. Produk sapi selain untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, juga menghasilkan berbagai macam produk ikutan seperti kulit unutk kerajinan, krecek, maupun tulang untuk sumber pakan, dan  kerajinan.

Didalam “Pedoman Beternak Sapi Potong” ini akan dibahas secara praktis, sehingga para peternak akan lebih paham tentang bagaimana beternak sapi yang baik dan produktifitas ternak menjadi maksimal dan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih meningkat.

  1. C. Manjemen Bibit/Bakalan Sapi Potong

Bibit mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam penggemukan sapi potong sehingga diperlukan kecermatan didalam pemilihannya. Apabila  bibit sapi yang digunakan tidak memenuhi kriteria atau kualitasnya jelek maka akan dihasilkan sapi potong dengan produksi yang jelek pula walaupun dengan sistem pemeliharaan dan manajemen pakan yang baik. Dalam hal ini bibit juga dipengaruhi oleh bangsa sapi yang digunakan. Umumnya bangsa sapi crossbreed (campuran) lebih bagus dibanding bangsa sapi lokal, namun demikian bangsa sapi lokal memiliki beberapa keunggulan dibanding bangsa-bangsa sapi crossbreed, yaitu bangsa sapi lokal mempunyai daya tahan (adaptasi) yang lebih baik pada lingkungan tropis sehingga lebih tahan terhadap penyakit.

Umur bakalan sapi yang digunakan untuk penggemukan minimal 2,5 tahun atau gigi sudah berganti satu pasang. Jika umur yang digunakan kurang dari 2,5 tahun akan beresiko pada bertambahnya lama penggemukan, karena pada umur tersebut sapi masih dalam proses pertumbuhan, sehingga nutrisi yang berasal dari pakan akan digunakan untuk tumbuh dan berkembang sehingga pertambahan bobot badan hariannya menjadi lebih sedikit dibanding pada umur sapi dewasa.

Selain hal-hal tersebut diatas penilaian bakalan biasanya didasarkan kepada penilaian dari depan yaitu dengan mengamati lebar dada, kepadatan tubuh, posisi kaki, bentuk telinga,kepala, kepadatan dada dan kepadatan brisket. Pengamatan dari samping adalah dengan melihat kedalaman dada, panjang tubuh, kepadatan tubuh, posisi kaki, telinga dan bentuk badan. pengamatan dari belakang meliputi lebar dan kepadatan tubuh, kaki belakang dan yang lebih penting lagi adalah bibit yang akan digunakan dalam keadaan sehat. Penilaian kesehatan dapat dilihat dari keadaan mata yang jernih, tidak adanya leleran pada lubang-lubang alami dan ternak dalam keadaan waspada, hal ini dapat dilihat ketika terdapat lalat pada tubuh sapi dan sapi akan menggoyangkan bagian tubuhnya untuk mengusirnya.

CARA PEMIILIHAN BAKALAN

Tujuan pemelihaharaan sapi dan modal kerja sangat menentukan dari pemilihan bakalan  baik dari jenis sapi maupun jumlahnya. Pemeliharaan sapi untuk tujuan penggemukan sapi maka cara memilih bakalan, sebagai berikut :

  1. Melihat dan memeriksa recordingnya untuk mengetahui riwayat hidupnya mulai lahir (Tanggal Lahir, Jenis, Genetis Induknya, Berat Lahir dan perkembangannya, penyakit yang pernah di alami).
  2. Bakalan yang baik untuk digunakan sebagai bibit penggemukan seperti yang sering dilakukan adalah Sapi sehat (tidak ada tanda penyakit).
  • Sapi yang sakit: sedikit gerak dan refleknya lemah; ada luka, nafsu makan rendah, bulu berdiri-kusam, mata kotor, mencret, hidaung cenderung panas.
  • Sapi Sehat: Selalu aktif, reaktif dan peka, nafsu makan tinggi/dokoh, tidak ada luka/lesi, mata jernih, bulu bersih-mengkilap tidak kusam, bokong bersih, padat, dll.
  1. Berkelamin jantan, mempunyai minat pasar yang lebih besar dan pertumbuhan lebih cepat.
  2. Jenis sapi Limosin-Eropa dari keturunan (Bos Indikus), Simetal-Australia dari keturunan (Bos Sondoikus), Brahman, ongole, Bali, Madura (sapi local) Peranakan Frestein Holstien (Belanda.
  3. Bentuk badan panjang/kaki pendek/kuat/dada lebar dan dalam.
  4. Umur antara 1-2 tahun (sapi muda) dan 2-3 tahun (sapi dewasa).
  5. Bentuk kerangka yang besar dan panjang; kepala dan moncong besar; tulang punggung biarpun kurus tapi lurus serta bulunya yang mengkilap sangat diminati selain persyaratan-persyaratan lainnya.

Cara modern yang saat ini digalakkan oleh pemerintah adalah dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik, dengan cara ini dapat dipastikan akan memperoleh hasil bakalan yang baik dan terjamin. Namun demikian cara IB juga masih sangat di pengaruhi dari kekuatan masing-masing Genotif dan Fenotif.

  1. C. Manajemen Pakan

Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mengandung nutrisi/gizi yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi atau produksi susu . Kebutuhan zat pakan dipengaruhi oleh umur hewan, bobot badan, bangsa dan produksi. Kekurangan zat pakan dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat dan penurunan bobot badan.

Sapi potong dapat memanfaatkan semua jenis hijauan, namun dalam hal ini pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konsentrat (produk bijian) dan pakan berserat (hijauan). Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk hijauan dan konsentrat.  Pakan harus dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Secara biologis Protein berfungsi sebagai zat pembangun sel (pertumbuhan), sedangkan sumber kalori adalah Karbohidrat dengan nilai kalori 1 kkal dan  lemak 4 kkal, vitamin dan mineral sebagai penyeimbang dan meningkatkan daya tahan tubuh sapi. Kebutuhan sapi terhadap nitrisi tersebut di suply/penuhi oleh pakan sapi baik dari hijauan maupun konsentrat, dengan komposisi tertentu. Yang paling penting adalah mengetahui kadar nutrisi sumber pakan dan membuat komposisi pakan tersebut  dengan  tepat, sehingga dapat di peroleh pertumbuhan yang optimal dengan biaya yang effisien. Sumber Pakan yang mengutamakan potensi lokal lebih murah.

Pakan sangat esensial bagi ternak sapi.  Pakan yang baik akan menjadikan ternak sanggup menjalankan fungsi proses dalam tubuh secara normal. Dalam batas normal pakan bagi ternak sapi potong berguna untuk menjaga keseimbangan  jaringan tubuh, dan membuat energi sehingga mampu melakukan peran dalam proses metabolisme. Kebutuhan pakan akan meningkat selama ternak masih dalam pertumbuhan berat tubuh dan pada saat kebuntingan.

Bahan pakan untuk sapi pada pokoknya bisa digolongkan menjadi tiga yaitu pakan hijauan, pakan penguat, dan pakan tambahan.

  1. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman berupa daun-daunan termasuk batang, ranting dan bunga. Ditambahkan pula oleh Bambang Sugeng bahwa yang termasuk kelompok pakan hijauan adalah bangsa rumput, legum, dan tumbuh-tumbuhan lain. Semuanya bisa diberikan dalam dua macam bentuk yakni hijauan segar atau kering. Yang termasuk hijauan segar adalah hijauan yang diberikan dalam keadaan masih segar atau silase. Sedangkan hijauan kering bisa berupa hay ataupun jerami kering. Hijauan sebagai bahan pakan tinggi serat di Indonesia memegang peran yang sangat penting karena hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan, sehingga bahan ini diberikan dalam jumlah yang besar.
  2. Pakan Penguat = Konsentrat adalah pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan serat kasar rendah (< 20%) yang terdiri dari bebijian dan beberapa limbah hasil proses industri bahan pangan bijian seperti jagung giling, tepung kedelai, menir, bungkil kelapa dan umbi. Sumber lain seperti tepung tulang, tepung ikan, vitamin dan bahan pakan lain juga ditambahkan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi. Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat. Selain itu karena konsentrat merupakan pakan yang mudah dicerna oleh mikrobia untuk berkembang biak, maka konsentrat dapat meningkatkan kecernaan pakan.
  3. Jerami adalah hasil ikutan pertanian yang dikeringkan dan diberikan pada ternak. Jerami merupakan salah satu bahan makanan ternak yang mutunya rendah, karena zat-zat yang terkandung di dalamnya seperti selulosa terselubung oleh dinding yang keras yaitu silika dan lignin. Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan sangat terbatas karena hanya mampu menggantikan tidak lebih dari 25% kebutuhan ternak akan hijauan, hal ini disebabkan jerami merupakan produk pertanian yang hasil utamanya telah diambil sehingga kadar gizinya rendah.

Konsentrat diberikan dua atau tiga kali dalam sehari semalam, sedangkan pemberian hijauan dilakukan secara bertahap dan minimal empat kali sehari semalam. Cara pemberian hijauan pada sapi yang digemukkan, sebaiknya dihindari pemberian yang sekaligus dalam jumlah yang banyak. Jumlah makanan penguat atau konsentrat umumnya diberikan sekitar 5 – 6 kg per hari, sedangkan pemberian makanan kasar rumput jumlahnya sekitar 25–30 kg per hari dan harus ditambah setiap terjadi kenaikan berat badan.

Contoh Pemberian pakan:

  1. Macam pakan Hijauan dari Rumput Gajah/King Gress, Grinting, Daun Gamal (minimal 10% dari BB);
  2. Bekatul/Ubi (1% dari BB);
  3. Garam dapur (secukupnya) dan Komboran/air minum (secukupnya).

Cara dan waktu pemberian pakan : Untuk hijauan (3 x per hari); Garam + bekatul/ubi 2 x per hari); Komboran atau air secukupnya (add belitum=air selalu ada).

  1. D. Manajemen Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan upaya untuk memfungsikan fungsi anatomis dan fisiologis ternak sapi, dengan serangkaian kegiatan anatara lain;

  1. Menjaga ketercukupan suply nutrisi dari pakan hijauan, konsentrat, dan makanan tambahan.

Tentang pakan, telah di singgung pada paran diatraurtas. Ketersedian dan kecukupan pakan dalam pengembangan dan penggemukan sapi merupakan salah satu kunci keberhasilan beternak sapi. Hal ini akan semakin sempurna jika memperhatikan kontinyuitas dan keteraturan, sehingga perlu di buat jadual pemotongan rumput-hijauan dan pemberian pakan. Variasi komposisi pakan akan membantu meningkakan palabilitas/cita rasa sapi terhadap pakan sehingga dapat meningkatkan nafsu makan sapi.

Pemanfaatan limbah industri tahu, seperti ampas tahu, lohor, cicit  sangat membantu mengurangi biaya produksi.

  1. Menjaga kebersihan sapi (memandikan) secara teratur.

Menjaga Kebersihan sapi dari kotoran, sangat effektif menjaga dan mencegah dari munculya penyakit, seperti scabies, cescado karena cacing, Besnositas karena protozoa, dan miasis. Karena kotoran sapi dapat menjadi predispososi, ataupun tumbuhnya vektor penyakit yang tumbuh dan berkembang di permukaan kulit maupun di dalam kulit. Memandikan meuat bulu menjadi bersih, mengkilat, mengurangi lalat dan berbagai macam parasit.

  1. Memandikan sapi minimal satu hari sekali pada pagi hari (jam 08.00), setelah itu di jemur di bawah sinar matahari sampai jam 11.00 sing. Tujuannya adalah untuk menghangatkan badan sapi agar segar, membunuh bakteri, parasit maupun protozoa di kulit/bawah kulit, melancarkan peredaran darah,  membantu metabolisme dalam tubuh sapi.
  1. Menjaga kebersihan kandang dan  lingkungan.

Lingkungan kandang yang bersih dari aneka limbah peternakan (kotoran sapi, urin, sisa pakan, obat-obatan akan sangat mendukung kesehatan sapi. Kandang harus di bersihkan dua kali sehari (Pagi dan Siang hari). Agar proses kebersihan kandang dan lingkungannya mudah di bersihan maka konstruksinya harus benar. Hal-hal yang harus di perhatikan: Ventilasi dan ketercukupan sirkualsi udara, ketersedian air bersih, aliran air limbah, genangan air dalam kandang,  arah sinar matahari.

  1. Memberikan  mencegah penyakait dan terapi kesehatan saat sapi  sakit.

Peternak harus jeli melihat perkembangan dan keadaan sapi setiap saat. Perubahan tingkah-laku sapi bisa di karenakan perubahan hormonal, perubahan lingkungan,  dan sakit. Perubahan harmonal biasanya pada saat sapi birahi. Perubahan tingkahlaku karena sakit di sebabkan tidak berfungsinya fungsi anatomis organ sapi baik sebagian maupun seluruhnya.

Hewan sakit bisa dikarenakan oleh:

  1. Faktor internal; agen biologis (bakteri, virus, protozoa, parasit), hormonal, gangguan metabolisme sel.
  2. Faktor eksternal; makanan, fisik (benturan, tekanan tinggi, sinar, arus listrik),  dan kimia.
  1. Recording, mencatat setiap kejadian dan perkembangan pemeliharaan dari masing-masing sapi.

Untuk memudahkan manajemen pemeliharaan dan mengetahui perkembangan ternaksapi potong, perlu dilakukan pemberian tanda pengenal pada pedet maupun sapi dewasa dengan tujuan untuk mempermudah tata laksana lebih lanjut, seperti membedakan antara sapi satu dengan yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sehingga dapat mempermudah seleksi.

  1. E. Reproduksi  Pada Sapi

Program pengembangan sapi sangat erat hubungannnya dengan sistem reproduktif  sapi. Ada pendapat sapi jantan yang di kebiri akan tumbuh lebih cepat. Sapi jantan yang mempunyai genotif  yang unggul, postur tubuh yang baik, sehat dan layak menjadi pejantan dapat menjadi  pembibit atau sapi pejantan. Sapi yang mempunyai potensi pejantan pemacek atau bank sperma mempunyai harga yang sangat tinggi. Proses pembibitan dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bantuan pengawas kesehatan ternak. Menurut Balkely and Bade (1994) perbaikan produksi melalui peningkatan mutu bibit dilakukan usaha penyilangan sapi lokal dengan sapi unggul dari luar. Teknik Inseminasi Buatan (IB), menjadi salah satu alternative dan lebih effisien.

Teknik IB membutuhkan skills dan pengalaman yang panjang. Bagi peternak, kecermatan terhadap tanda-tanda sapi birahi sangat penting untuk pengembangan sapi dengan teknik IB, karena masa subur sapi hanya berlangsung salama 18 jam. Tanda-tanda sapi Birahi antara lain: 3A, 2 B, 2 C, keluar ler-leran. Tingkat keberhasilan pada jam ke 8  sampai ke 12  cenderung lebih tinggi di banding di luar jam tersebut.

Umur atau waktu dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan dapat terjadi disebut dengan pubertas (dewasa kelamin). Dewasa kelamin dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan terutama iklim dan makanan. Pubertas pada hewan betina dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi, pada hewan jantan ditandai oleh kesanggupannya untuk berkopulasi dan menghasilkan sperma. Hal yang sangat penting dalam memilih sapi pejantan adalah testis kanan dan kiri lengkap (Jawa: tidak sanglir), karena produksi spermanya cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan yang lengkap testisnya.  Pada program penggemukan sapi, ada pendapat bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan sapi jantan yang optimal maka dapatdilakukan kastrasi.

  1. F. Manajemen Perkandangan

Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukan  sebagai sentra kegiatan peternakan yang didalamnya terdiri dari bangunan utama (kandang), bangunan penunjang. Perlengkapan kandang yang harus disediakan terutama adalah tempat makan dan minum, sedangkan perlengkapan pembersihan meliputi sekop, sapu lidi, selang air, sikat, ember dan kereta dorong.

Usaha peternakan termasuk ternak potong dan kerja tidak mungkin lepas dari masalah perkandangan. Tujuan utama dari pendirian kandang adalah melindungi hewan dari hujan dan sengatan matahari yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya. Karena kandang berhubungan dengan tingkat ekonomi masyarakat maka bentuk kandang tidaklah menjadi sangat baku namun harus memenuhi syarat tatalaksana perkandangan; tata letak unsur-unsur kandang, ukuran kandang dan bagian-bagiannya, pemanfataan/penggunaannya, dan pemeliharaan/perawatan kandang. Pembuatan kandang sangat di pengaruhi oleh tujuan dari pemeliharaan sapi, ketersediaan modal kerja, dan potensi peternakan, wilayah, cuaca, dan iklim.

Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak dan tempat bekerja peternak yang mengurus ternak setiap hari, sarana pokok penting yang langsung maupun tidak langsung setiap saat turut menentukan berhasil atau tidaknya usaha peternakan. Pembangunan kandang  harus memberikan kemudahan  perawatan sapi, mencegah sapi supaya tidak berkeliaran, dan menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena pembuatan kandang sapi untuk penggemukan memerlukan beberapa persyaratan sebagai berikut : 1) memberi kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukan dan bagi si pemelihara ataupun pekerja kandang;  2) memenuhi persyaratan bagi kesehatan sapi; 3) mempunyai ventilasi atau pertukaran udara yang sempurna. 4) Mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya; 5) memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan kerjanya sehingga efisiensi kerja dapat tercapai; 6) bahan-bahan kandang yang dipergunakan dapat bertahan lama, tidak mudah lapuk, dan sedapat mungkin menggunakan biaya yang relatif murah dan terjaangkau peternak pada umumnya; 7) tidak ada genangan air di dalam maupun diluar kandang.

Pemilihan lokasi diusahakan agar tidak berdekatan dari pemukiman penduduk (minimal 10 m dari pemukiman penduduk) dan tempat-tempat umum, pembuangan limbah dan kotoran dapat disalurkan dengan baik, persediaan air bersih cukup dan terdapat lahan yang memungkinkan untuk perluasan kandang. Usahakan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam kandang. Ukuran kandang sesuai dengan tubuh sapi dan agar lokasi kandang selalu terjaga kebersihannya. Penempatan kandang dari segi ekonomis harus memperhatikan transportasi yang dekat dengan sumber pakan dan pasar, dekat dengan sumber air serta letak kandang yang tidak telalu jauh dari rumah peternak.

Lokasi perkandangan yang baik harus memenuhi persyaratan antara lain: kebutuhan sumber air  yang cukup  tersedia, mudah didapat, begitu pula dengan ketersediaan pakan. Lokasi perkandangan yang mudah dijangkau dengan fasilitas transportasi yang memadai, namun tidak ada kemungkinan masuk dalam proyek perluasan kota, dan yang terpenting lokasinya tidak berdekatan dengan perumahan penduduk.

F.1. Kandang

Kandang adalah tempat tinggal ternak untuk melakukan proses kegiatan produksi maupun reproduksi sebagian atau seluruh kehidupannya. Kandang diperlukan untuk melindungi ternak sapi dari keadaan lingkungan yang merugikan sehingga dengan adanya kandang ini ternak akan memperoleh kenyamanan. Keperluan kandang untuk pemeliharaan sapi potong dapat dilakukan dengan sistem ladang ternak (ranch).

Pendirian sebuah kandang harus tetap memperhatikan lokasi kandang, lantai kandang, atap, ventilasi, selokan, tipe kandang, tempat air serta air minum. Kandang yang baik adalah bangunan kandang yang ditempatkan di tempat yang kering atau tempat yang lebih tinggi dari lingkungan sekitar pada tanah yang mudah menyerap air. Tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada : jumlah sapi yang digemukan, selera dari peternak dan keadaan iklim.

Tipe kandang yang dikenal di Indonesia ada tiga macam, yaitu kandang sapi bentuk tunggal, kandang sapi bentuk ganda, dan kandang sapi pemacak. Menurut Suharno dan Nazaruddin (1994), ukuran kandang disesuaikan dengan umur sapi. Ukuran kandang untuk satu ekor sapi dewasa adalah 2,10 x 1,45 m untuk sapi-sapi lokal, dan 2,10 x 1,50 m untuk sapi-sapi eks impor. Pada kandang tipe tunggal penempatan sapi-sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran. Lain lagi dalam kandang tipe ganda penempatan sapi-sapi dilakukan pada dua jajaran atau baris dengan saling berhadapan atau saling bertolak belakang diantara kedua baris atau jajaran sapi dibuat jalur untuk jalan.

Apabila jumlah sapi yang digemukan mencapai jumlah 10 ekor maka lebih baik digunakan kandang tipe tunggal. Akan tetapi, apabila jumlah sapi yang digemukan lebih dari 10 ekor maka sebaiknya digunakan kandang tipe ganda. Kandang tipe ganda dan saling bertolak belakang merupakan tipe kandang yang paling efisien dalam penggunaan tenaga kerja.

Tempat pakan dapat dibuat dengan kedalaman sekitar 0,5 m  dengan luas tempat sekitar 1m2. Kandang yang disekat-sekat dengan pembatas sebaiknya dilengkapi dengan tempat pakan yang berukuran 80 x 50 cm2 dan tempat minum yang berukuran 40 x 50 cm2 yang masing-masing terbuat dari beton secara individu.

F.2. Bagaimana Kondisi Peternakan sapi dan Perkandangan di Indonesia?

  1. Rata-rata Perkandangan di Masyarakat kita, belum memperhatikan masalah perkandangan sehat. Kandang cenderung becek, kotor dan berbau. Hal ini jelas akan mendatangkan anake macam jenis baketeri, virus maupun parasit mulai cacing, lalat, dan tungau. Penyakit yang muncul mulai dai cacingan, busuk kuku, pneomonia/batuk-batuk, myasis, infeksi, dll.
  2. Pemeliharaan dekat dengan rumah, dan kurang mempeehatikan estetika.
  3. Belum berkelompok dalam satu wilayah pertanian, sehingga sangat sulit dalam pengendalian penyakit ternak sapi dan pemberdayaan  peternak sapi.

  1. G. Sanitasi Penanganan Limbah

Ternak di beri pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat menjadi gemuk dan kotorannya pun bisa cepat terkumpul dalam jumlah yang banyak untuk digunakan sebagai pupuk.  Setiap hari kandang harus dibersihkan dari kotoran. Kotoran umumnya terdiri dari  sisa bahan pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri. Kotorannya hendaknya dibawa dan ditempatkan di tempat khusus, bak penampungan kotoran, yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Jarak ideal dari tempat pembuangan limbah ke kandang adalah ± 10 m. Pembuangan limbah sudah memenuhi syarat karena limbah cair dan padat disaring dengan vasilitas yang bagus sehingga limbah berupa cair yang dibuang ke aliran sungai lagi yang berhubungan dengan perairan penduduk tidak merugikan atau mencemari sungai yang ada. Limbah yang berupa padat setelah disaring ditampung dalam penampungan feses kemudian diolah menjadi pupuk kandang.

Setiap hari kandang harus dibersihkan dari kotoran. Kotoran umumnya terdiri dari  sisa bahan pakan yang bercampur kotoran sapi itu sendiri. Kotorannya hendaknya dibawa dan ditempatkan di tempat khusus, bak penampungan kotoran, yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Lantai kandang yang bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan udara di dalam ruangan kandang itu sendiri. Sehingga penghuni kandangpun menjadi lebih nyaman.

Limbah kotoran sapi dapat di olah menjadi pupuk organik, sumber energi alternatif biogas dan pupuk cair. Teknik pengolahan sebenarnya sederhana, dan kita samapaikan pada lain kesempatan.

  1. H. Pengendalian Penyakit dan Vaksinasi

Penyakit merupakan ancaman yang harus diwaspadai peternak.  Walaupun serangan penyakit tidak langsung mematikan ternak, tetapi dapat merusak citra, menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan, menghambat pertumbuhan, dan mengurangi pendapatan atau keuntungan. Untuk mengetahui sapi sakit secara umum bisa dilakukan dengan memperhatikan keadaan tubuh, sikap dan tingkah laku, pernafasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi.

Penyakit menular sungguh merupakan ancaman bagi para peternak.  Walaupun penyakit menular tidak langsung mematikan, akan tetapi bisa merusak kesehatan sapi secara berkepanjangan, mengurangi pertumbuhan, dan bahkan menghentikan pertumbuhan sama sekali.

Berhadapan dengan penyakit yang menular, sebaiknya sapi yang sakit dipisahkan dari lingkungan ternak yang sehat dan dipindahkan ke kandang karantina. Pemindahan ini, dianjurkan karena bekas ternak sakit yang meninggalkan lendir atau sekresi lainnya perlu dibersihkan dan diberi desinfektan, demikian juga peralatan yang dipergunakan. Pengendalian penyakit harus diupayakan agar sapi terhindar dari berbagai infeksi penyakit. Upaya ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti tindakan higienis, vaksinasi, serta pengobatan parasit dalam dan luar.

Penyakit Sapi Yang Harus di Waspadai

  1. BLOAD

Nah gas-gas inilah yang apabila tidak sempat dikeluarkan melalui anus dengan cara berkentut atau dengan bersendawa, gas akan terakumulasi di dalam rumen. Seringkali bloat ringan seperti ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun. apabila kejadian berlanjut dan tidak ditangani, akumulasi gas terjebak ini akan membentuk buih/busa (froathy bloat) yang akan semakin sulit bagi sapi untuk mengeluarkannya.

Gejala Bloat

Untuk itu kita perlu mengetahui beberapa gejala yang tampak ketika ternak mengalami kembung:

  1. perut bagian kiri atas membesar dan cukup keras, bila ditepuk akan terasa ada udara dibaliknya, dan berbunyi seperti tong kosong, persis ketika kita merasa kembung.
  2. ternak merasa tidak nyaman, menghentakkan kaki atau berusaha mengais-ais perutnya
  3. ternak sulit bernafas atau bernafas melalui mulut
  4. sering berkemih/kencing
  5. mengejan
  6. pada kasus yang berat akhirnya tidak dapat berdiri dan mati.

Penanganan BLOAD

  1. Ganti menu hijauan segar dengan daun kering/hay. Hal ini akan membantu pada bloat ringan. Membawa ternak berjalan jalan juga dapat membantu.
  2. Bila masih berlanjut, berikan anti foam. Secara tradisional berupa minyak nabati atau lemak. Minyak bertugas sebagai pengurai buih. Kami biasanya menggunakan minyak nabati atau minyak sayur atau minyak goreng pada dosis 150 – 300 ml segera setelah bloat terdeteksi. Susu murni sebanyak 1 liter juga dapat dijadikan alternatif untuk membuyarkan buih. Secara tradisonal, sprite, minyak angin, dan kopi di tambahkan sedikit garam juga membantu mendispersi buih blod dalam perut sapi. Sedangkan obat modern anti foam untuk mengobati timpani juga tersedia dalam berbagai merek, dapat diperoleh di toko-toko obat hewan.
  3. Dengan menggunakan selang (ukuran ¾” sampai 1” diameter) sepanjang 2 – 3 meter yang dilumuri dengan minyak, dimasukkan melalui mulut melalui esophageal sampai mencapai rumen untuk membantu mengeluarkan gas dari dalam rumen. Selang ini sering disebut selang esophagus/stomach tube. Cara ini terkadang berhasil namun cukup berbahaya karena dapat menganggu bagian dalam ternak. Sebaiknya mintakan saran pada dokter hewan atau latihlah dahulu sebelum bloat terjadi.
  1. Penyakit antraks

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

  1. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)

Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur, selaput lendir dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

  1. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)

Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

  1. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)

Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pencegahan terhadap penyakit sapi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (1) pemilihan sapi bakalan yang betul-betul sehat, 2) Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
(3) Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
(4) Mengusakan lantai kandang selalu kering, (5) Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk. (6) pemilihan lokasi dan kandang yang memenuhi syarat, (7) pemberian pakan yang baik, (4) vaksinasi dan pengobatan (Darmono, 1993). Tindakan higiene meliputi usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik, pengapuran dinding kandang yang teratur, pengaturan ventilasi kandang yang sempurna, dan mampu membentengi dari serangan berbagai jenis infeksi penyakit.

Pada umumnya tubuh sapi mudah kotor akibat kotoran sapi itu sendiri. Atau berupa daki yang terdiri dari timbunan debu dan keringat yang melekat pada tubuhnya. Agar selalu bersih, badan sapi harus dimandikan sehari sekali. Caranya kulitnya digosok-gosok dengan sikat atau spons, atau bahan lain hingga bersih. Sapi yang kulitnya bersih, air keringatnya akan keluar dengan lancar, pengaturan panas di dalam tubuh menjadi lebih sempurna, dan parasit kulit atau gatal-gatal tidak mudah menghinggapinya.

  1. I. Pemasaran

Pemasaran merupakan suatu proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. Pemasaran juga didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan berpindahnya barang dari produsen pertama ke konsumen terakhir.

Pemasaran diartikan sebagai suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang digunakan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Dalam bisnis sapi memang petani cenderung menjadi pihak yang mempunyai margin yang relatif kecil jika di bandingkan dari margin keuntungan yang di dapatkan oleh pedagang. Sehingga harus ada semacam asosiasi yang dapat memproteksi harga dan melindungi petani. Petani harus mau membuat kelompok/asosiasi agar harga dapat dikendalikan maupun bekerja sama baik dari segi pemasaran, pengadaan pakan dll, sehingga biaya produksi dapat effisien.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, G. dan P. Kottler. 1994. Dasar-dasar Pemasaran. Edisi V. Intermedia, Jakarta (Diterjemahkan A. Sindoro).

Akoso, B. T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Arianto, H. B dan B. Sarwono. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Cetakan I. Penebar Swadaya, Jakarta.

Blakely, J dan D.H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan B. Srigandono).

Darmono.1993. Tatalaksana Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Fransond, R. D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hartadi, H. S., S. Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 1991. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Manullang. 1988. Dasar-dasar Marketing Modern. Liberty, Yogyakarta.

Murtidjo, B. A. 2002. Beternak Sapi Potong. Kanisius, Yogyakarta.

Nitisemito. 1981. Marketing. Cetakan ke 3. Galia, Jakarta.

Soewardi, B. 1974. Gizi Ruminansia. Bagian I. Departemen Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Institute Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T. 1981. Sapi dan Pemberian Makanannya. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institute Pertanian Bogor, Bogor. (Tidak diterbitkan).

Syarief dan Sumoprastowo. 1989. Beternak Domba Pedaging dan Wol. Edisi Pertama. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Suharno, B. dan Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sugeng, Y. B. 2000. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Swastha, B. dan Irawan. 2001. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty, Yogyakarta.

Siregar, S. B. 2002. Penggemukan Sapi. Cetakan ke 6. Penerbit Swadaya, Jakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdo Soekotjo. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Retensi plasenta

Retensi plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya (Hardjopranjoto,1995).

Etiologi

Pada dasarnya retensi sekundinae atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon foetal dari kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan beberapa faktor yaitu: (1) Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya), yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus terjepit (Hardjopranjoto,1995). (2) Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan (kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau estrogen. Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia dan kondisi patologik lainnya (Toilehere, 1985), (3) gangguan pelepasan sekundinae yang berasal dari karankula induk. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi dan dapat mencapai 98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi plasenta, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Retensi plasenta terjadi pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak yang diberikan makanan dengan kadar karoten yang rendah (Toilehere,1985)

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.