Aspergilosis & Mikotoksikosis

Apabila terjadi kegagalan pencapaian hasil produksi telur maupun daging yang optimal maka pakan-lah yang sering dianggap sebagai penyebab utamanya. Sebenarnya banyak faktor yang berpengaruh pada usaha peternakan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia, yang notabene beriklim panas (hot climate) dengan kelembaban (Rh) yang tinggi serta mempunyai dua musim. Kondisi tersebut merupakan zona yang cukup ideal bagi pertumbuhan jamur, yang dapat menyerang pada pakan jadi maupun bahan-bahan pakan.

Aspergilosis merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh jamur dan tersifat oleh adanya gangguan pernafasan yang berat. Penyakit ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya, misalnya pada otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk menunjukkan adanya infeksi Aspergillus sp. pada saluran pernafasan, antara lain Aspergillus flavus, Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger. Penyakit ini juga diserbut brooder pneumonia dan fugal pneumonia.

Infeksi yang disebakan oleh jamur pada berbagai organ dapat menimbulkan penyakit yang disebut mikosis. Beberapa jenis jamur juga dapat tumbuh pada pakan dan berbagai bahan baku pakan dan menghasilkan toksin (mikotoksin), yang dapat menimbulkan penyakit yang disebut mikotoksikosis.

Kejadian Penyakit

Aspergilosis dapat menyerang berbagai spesies unggas di dunia. Penyakit ini dapat bersifat akut dan kronis. Benrtuk akut biasa terjadi pada ayam yang masih muda dan bentuk kronis biasa ditemukan pada ayam dewasa. Faktor-faktor pendukung timbulnya asperegilosis adalah keadaan kandang dengan ventialsi yang kurang memadahi, kandang berdebu, kandang dengan kelembaban tinggi dan temperature relative tinggi (>25OC), kadar ammonia tinggi, liter basah dan lembab, pakan lembab dan berjamur, penyakit imunosupresif, pencemaran pada inkubator dan temperatur pemanas yang rendah pada saat pemeliharaan DOC. (Tabbu. 2000)

Penyakit ini dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, yaitu bentuik pulmonum, sistemik, kulit, mata dan otak. Berbagai bentuk aspergilosis dapat ditemukan secara tunggal ataupun bentuk campuran.( Tabbu. 2000 )

Mycotoxin kadang kala menjadi bahaya laten disetiap farm yang berada di daerah tropis, karena racun ini dapat menyebabkan serangan atau gangguan kesehatan pada ternak yang dapat berujung pada kematian yang dikenal sebagai mycotoxicosis. Kurang baiknya manajemen penyimpanan bahan pakan maupun pakan jadi, menyebabkan terjadinya invasi mycotoxin pada sebuah farm. Sehingga apabila suatu farm telah terinvasi oleh mycotoxin maka jangan diharapkan produksi optimal akan tercapai (Litbang Pertanian. 2001).

Mycotoxin merupakan zat beracun yang dihasilkan dari suatu spesies jamur. Saat ini ada beberapa spesies jamur yang memproduksi mycotoxin seperti Aspergillus sp , Penicilium sp , dan Fusarium sp. Biasanya jamur-jamur tersebut tumbuh pada hasil-hasil pertanian yang tidak mendapat penanganan yang baik pada pasca panen. Untuk wilayah kita komoditi Jagung, gaplek serta dedak merupakan media yang baik untuk pertumbuhan jamur-jamur tersebut. Dan alangkah ironisnya kesemuanya itu merupakan bahan yang dipakai dalam pakan campuran konsentrat (Litbang Pertanian. 2001).

Secara umum mycotoxin yang dihasilkan oleh species Aspergillus yaitu CPA, Aflatoxin B1, B2, G1, G2 , dan Ochratoxin A. Species Penicillum memproduksi Ochratoxin, Patulin dan Citrin. Sedangkan species fusarium memproduksi Fumonisins, Zearalenone, T-2 dan DAS (Devegowda dalam Diaz, 2005).

Sampai saat ini ada beberapa mycotoxin yang sudah teridentifikasi di Indonesia yaitu AFB1, ZEN, DON dan CPA (Litbang Pertanian, 2001) dan dipertegas oleh Devegowda (2005) bahwa hampir 81% sample dari feedmill yang ada terkontaminasi oleh CPA. Keberadaan CPA ini merupakan ancaman bagi saluran pencernaan unggas (Devegowda dalam Diaz, 2005).

Setiap mycotoxin mempunyai efek negatif pada target organ yang berbeda-beda, misalnya Aflatoxin menyebabkan kerusakan pada hati sedangkan Ochratoxin A menyebabkan kerusakan pada ginjal ternak. Secara umum serangan mycotoxin pada ternak unggas mengakibatkan :

Terjadi immunosuppresion (dikarenakan ada kelainan tymus dan bursa fabricus sebagai pabrik antibody)

Penurunan Feed Intake

Produksi telur akan terganggu serta turunnya hatchability

Pertumbuhan bobot badan (PBB) yang rendah

FCR tinggi

Terjadi wet dropping

Penurunan pigmentasi kulit

Terjadi kelainan organ dalam seperti gizzard , hati dan ginjal.

Peningkatan mortality

Menurut BASF, 1998 diantara beberapa akibat diatas, ada satu yang benar-benar harus dicermati yaitu terjadinya imunosuppression. Apabila ini telah terjadi maka dapat diprediksikan bahwa di farm tersebut akan terjadi invasi dari virus/bakteri pathogenic. Dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (immune), maka ternak tersebut akan lebih mudah terinfeksi virus/bakteri yang gejalanya lebih jelas daripada faktor primernya (mycotoxin)

Masing-masing ternak mempunyai daya tahan yang berbeda-beda terhadap kontaminasi mycotoxin dalam pakan. Dengan kata lain apabila kandungan mycotoxin didalam pakan masih dalam batas ambang aman, maka ternak tersebut masih bisa bertahan, tidak mengalami kematian hanya terganggu proses-proses metabolismenya dan apabila kandungan mycotoxin telah melebihi batas ambang aman maka ternak tersebut mulai menampakkan gejala-gejala mycotoxicosis tersebut diatas.

Menurut BASF, 1998 menyebutkan bahwa ayam broiler mampu mentoleransi aflatoxin sebesar 0.010 ppm (10 ppb) sedangkan ayam layer mampu sampai dengan 0.02 ppm (20 ppb). Dan menurut Romindo, 2004, untuk semua unggas muda masih bisa bertahan terhadap kontaminasi Aflatoxin sampai dengan 0.05 ppm (50 ppb), untuk unggas dewasa sampai dengan 0.10 ppm (100 ppb) (Devegowda dalam Diaz, 2005).

Cara Penularan

Rute penularan paling utama melalui prnafasan, yaitu dengan menghirup spora dalam jumlah banyak. Selain itu penyakit ini dapat ditularkan melalui telur, karena organisme ini dapat tumbuh di bagian dalam dalam dari telur, yang dapat menurunnya daya tetas dan peningkatan kematian embrio (Tabbu.2000). Sehingga dimungkinkan anak ayam yang menetas dan masih hidup, akan mempunyai resiko tinggi terinfeksi aspergillosis dan pencemaran Aspergillus sp. dapat ditemukan didalam setter, hatcher, ruang incubator dan internal duct.

Gejala Klinis

Masa inkubasi Aspergillosis sekitar 4-10 hari dan proses penyakit dapat berlangsung dua sampai beberapa minggu. Ada 2 bentuk pada penyakit ini:

Bentuk Akut

Gejala yang terlihat meliputi kesulitan bernafas (dyspnoea), bernafas melalui mulut, peningkatan frekuensi pernafasan, kehilangan nafsu makan dan kadang dapat terjadsi paralysis (kelumpuhan), kejang-kejang yang disebabkan oleh toksin Aspergillus sp. Jika gangghuan pernafasan hanya di sebabkan oleh Aspergillosis maka tidak akan terdengar suara ngorok, hanya terlihat kesulitan bernafas saja dan bersifat kering. Ayam yang terinfeksi berat biasanya akan mati dalam waktu 2-4 minggu. Mortalitas sekitar 5%-20% tapi juga kadsang-kadang dapat mencapai 50% (Tabbu,.2000).

Bentuk Kronis

Gejala yang terlihat pada bentuk ini meliputi kehilangan nafsu makan, lesu, bernafas melalui mulut, emasiasi, sianosis (kebiruan pada kulit di daerah kepala dan jengger) dan dapat berlanjut dengan kematian. Menurut Tabbu, 2000. lamanya proses penyakit tergantung pada umur dan daya tahan dari ayam. Proses penyakit dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Mortalitas biasanya kurang dari 5%. Pertumbuha ayam tidak seragam oleh karena adanya hambatan pertumbuhan pada ayam akibat infeksi oleh Aspergillus sp.

Perubahan Patologik

Makroskopik

Lesi awal akan terlihat meliputi noduli kaseus kecil berwarna kekuningan dengan diameter 1 mm, yang tersebar secara acak pada jaringan paru. Lesi pada paru biasanya disertai adanya plaque yang berisi eksudart kaseus berwarna kuning yang mengumpul pada daerah kolonin jamur pada kantung udara dengan ukuran 1-2 mm, sehingga akan terlihat adanya penebalan pada kantung udara. Pada kasus yang melanjut, organisme tersebut kerapkali mengalami sporulasi pada permukaan lesi kaseus dan permukaan kantung udara yang menebal, yang ditandai adanya pertumbuhan jamur berwarna kelabu kehijauan. Lesi pada paru dapat juga berbentuk perubahan warna kuning kelabu yang difus tanpa adanya bentukan noduli.

Mikroskopis

Lesi pada paru pada stadium awal Aspergillosis tersifat adanya timbunan limfosit, sejumlah makrofag dan beberapa gian cell, yang bersifat fokal. Pada stadium selanjutnya, maka akan berkembang menjadi nekrosis granuloma, yang terdiri atas daerah nekrosis sentral yang mengandung heterofil dan dikelilingi makrofag, giant cell, limfosit dan sejumlah jaringan ikat. Diketemukannya agen penyebab Aspergillus sp. berupa hiphae yang mrenembus jaringan parenkim maupun intertisium, terutama pada derah jaringan nekrosis.

Diagnosis

Diagnosis akhir hendaklah didasarkan atas isolasi dan identifikasi jamur di laboratorium mikrobiologi.feksi sdan membuktikanikelDiagnosa dugaan sementara dapat didasarkan atas riwayat kasus, lesi yang spesifik pada ayam yang terinfeksi dan membuktikan adanya hiphae dalam pemeriksaan mikroskopis secara langsung pada jaringan yang dicurugai. Diagnosis akhir didasarkan atas isolasi dan identifikasi jamur di laboratorium mikrobiologi.

Aspergillus adalah suatu cendawan yang reproduksinya secara aseksual dengan memproduksi spora yang disebut conidia. Lingkaran hitam di pusat penjuluran adalah suatu massa conidia, bentukan warna biru adalah hyphae, yang secara normal tumbuh pada media. Pada perbesaran yang lebih tinggi menunjukkan suatu gambaran yang lebih terperinci dan jelas pada conidia.

A. flavus merupakan kapang saprofit. Koloni yang sudah menghasilkan spora berwarna cokelat kehijauan hingga ke hitaman. Miselium yang semula berwarna putih tidak tampak lagi (Dwidjoseputro 1981).

Prinsip Diagnosa secara Mikrobiologi

Diagnopsa Aspergillosis berdasarkan pada koloni cendawan yang tumbuh pada media padat. Pemeriksaan terhadap koloni cendawan dilakukan secara makroskopis untuk melihat bentuk dan warnanya, sedangakan secara mikroskopis untuk mengetahui sifat morfologiknya.

Media dan Pereaksi

· Sabouraud glucose agar atau Sabouraud dektrose agar — sebagai media pertumbuhan.

· Lactophenol cotton blue atau KOH 10%– sebagai deteksi elemen jamur.

Prosedur

Perlakuan Spesimen

Spesimen diambil secara aseptik mungkin dan sesegera dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Terhadap specimen asal dari organ sebaiknya dalam keadaan dingin.untuk specimen lain misalnya pakan atau komponen pakan yang lain, kerokan kulit, disimpan dalam keadaan kering.

Pemeriksaan secara Langsung

· Spesimen dalam jumlah sesedikit mungkin letakkan dalam kaca preparat, lalu beri 1-2 tetes KOH 10% atau Lactophenol cotton blue.

· Tutup dengan cover glass dan hindari adanya gelembung

· Lihat dengan mikroskop

Secara Cultur

· Inokolasikan media agar dalam petridish dengan potongan kecil specimen yang diduga mengandung aspergillus pada bagian tengahnya.

· Jaga kelembaban dengan mensegel cawan Petri dengan selotip.

· Inkubasikan pada suhu 37o C selama lebih kurang 7 hari dengan dialasi dengan kertas saring yang dibasahi air.

· Amati pertumbuhan setiap hari

Pemeriksaan Mikroskopis

· Dengan ujung jarum atau scalpel, ambil potongan koloni yang tumbuh pada media agar tadi, letakkan ditengah kaca preparat

· Beri 1-2 tetes lactophenol cotton blue, lalu tutup dengan cover glass dan hhindari adanya gelembung

· Lihat dengan mikroskop

Penetapan

Secara Cultural

· Pengamatan koloni dilakukan setiap hari, dengan memperhatikan pertumbuhan dan bentuk, warna koloninya

· Aspergillus sp. biasanya aka tumbuh pada hari ke 3-5 atau bias lebih.

Pemeriksaan Langsung

Dengan menggunakan mikroskop, terlihat adanya struktur spora, spongiophore atau conidiophore atau myselium bila memang ada cendawannya,biasanya dalam keadaan pendek atau terpisah.

Pemeriksaan Mikroskopis

Hampir sama dengan pemeriksaan langsunghanya saja struktur spora, spongiophore atau conidiophore atau myselium bila memang ada cendawannya akan terlihat lebih jelas dan biasanya utuh.

Pernyataan Hasil

Aspergillus sp. ditinjau dari segi koloni akan mempunyai sifat :

a. Pertumbuhan lambat

b. Mula-mula berwarna putih

c. Kemudian terlihat perubahan warna mulai dari bagian tengah koloni. Antaralain:

· Aspergillus niger berwarna coklat-hitam dari sporanya dengan tepi koloni berwarna putih.

· Aspergillus fumigatus pada bagian tengahnya akan mengambil warna biru-kehijauan untuk kemudian warna akan lebih gelap.

· Aspergillus flavus akan mengambil warna kuning-kehijauan.

Tindakan Pencegahan agar farm aman dari mycotoxin

Untuk menghindari terjadinya kontaminasi jamur pada bahan pakan dan pakan jadi maka perlu :

1. Memperbaiki manajemen pengadaan bahan baku misalnya selektif dalam memilih bahan baku dengan jalan memperhatikan fisik dari bahan tersebut (keseragaman tekstur, kadar air (max 17%), bau dan warna).

2. Memperbaiki manajemen penyimpanan bahan meliputi dari perbaikan sistem ventilasi gudang, cara penumpukan bahan, pemakaian pallet sebagai alas. Secara umum perbaikan manajemen bertujuan agar sirkulasi udara lancar, menurunkan temperature dan Rh (kelembaban) gudang serta meminimalkan proses respirasi dari bahan-bahan yang disimpan.

3. Pengaturan jadwal pest control (fumigasi) yang teratur, Keterlambatan penjadwalan fumigasi menyebabkan terjadinya infasi dari serangga yang akan merusak biji sehingga memudahkan jamur berkembang pada media biji rusak tersebut.

4. Untuk menjaga kualitas bahan pakan/pakan jadi tetap baik maka perlu dilakukan penambahan mold inhibitor untuk menekan pertumbuhan jamur yang dapat menghasilkan mycotoxin dan selalu menjaga kebersihan tempat pakan.

5. Apabila kondisi lingkungan sedang tidak baik (sulit mendapatkan bahan baku dengan kualitas baik) maka perlu dilakukan penambahan mycotoxin binder pada pakan yang akan diberikan terutama untuk ternak layer yang mempunyai umur hidup yang cukup panjang. Mycotoxin binder merupakan imbuhan pakan yang dapat mengikat mycotoxin didalam saluran pencernaan ayam dan membuangnya melalui feces.

6. Jika menggunakan complete feed (pakan jadi) maka disarankan untuk memilih pabrikan pakan yang telah menggunakan mold inhibitor dan mycotoxin binder untuk menjamin stabilitas dan keamanan penghuni farm.

Referensi

BASF, 1998. Mycotoxin Development and tolerance in Animals. Paper Keeping Current.

Beseke, E.S andA.LRogers (1980). Medical Mycology Manual with Human Mycoses. Monograph 4th edition. Burgess Publishing Company. Minneapolis. Minnesota.

Devegowda,G & T.N.K Murthy in Diaz, D.E., 2005. Mycotoxin: Their effect s in Poultry and Some Practical Solutions. The Mycotoxin Blue Book. Nottingham Univ. Press

Litbang Pertanian, 2001. didalam Jurnal Litbang Pertanian 20(2). Bogor*Romindo, 2004. Mycotoksikosis dan Cara Penanggulangannya. Jakarta

One Response

  1. Pusing kalo mikirin dampak dari mycotoxin😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: