Equine Influenza

Kejadian Penyakit

Equine influenza (EI) merupakan penyakit akut pada kuda. Karakteristik dari penyakit ini, antara lain: morbiditas tinggi dan highly spreading, sehingga dapat menyebabkan wabah penyakit pernafasan pada kuda yang terinfeksi (AUSVET Plan, 2007). Berbagai jenis bangsa kuda pun pernah dilaporkan terinfeksi, meliputi: keledai dan kuda bagal (Fenner, 1993; AUSVET Plan, 2007). Perlu diketahui, hanya Negara-negara dengan industri kuda modern yang dikonfirmasi bebas penyakit ini, seperti: Australia dan New Zealand (AUSVET Plan, 2007; OIE, 2005).

Distribusi EI di dunia, ditandai dengan kejadian endemik yang terjadi diberbagai Negara, meliputi: Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Kejadian epidemik dapat dibuktikan, apabila secara signifikan strain virus yang menginfeksi terbukti mempunyai sifat antigenisitas baru. Pada tahun 2003, Inggris merupakan Negara yang baru terkena wabah ini. Lebih lanjut, EI juga merupakan kejadian endemik di Afrika Selatan dan Asia.

Selama 20 tahun, kejadian epidemik EI dilaporkan oleh berbagai Negara. Negara-negara tersebut, antara lain: Afrika Selatan (1986, 2003), India (1987), Hong Kong (1992), Dubai (1995), dan Filipina (1997). Kejadian epidemik ini terjadi, disinyalir akibat dari lolosnya kuda impor yang secara subklinis terinfeksi dan/atau akibat lemahnya prosedur karantina hewan di beberapa Negara tersebut.

Terjadinya wabah EI di China Utara pada tahun 1989, ditandai dengan karakteristik morbiditas dan mortalitas yang tinggi di setiap kejadian infeksi. Setelah dilakukan analisis filogenetik, diketahui bahwa genom virus yang menginfeksi berbeda dengan susunan genom asli virus equine influenza. Genom dari virus yang menyebabkan wabah, dikonfirmasi sejenis dengan genom virus penyebab avian influenza pada pada unggas. Telah di analisis lebih jauh, bahwa transfer virus terjadi melalui kontak langsung antara unggas yang terinfeksi dengan kuda yang peka. Cara penularan ini tentunya dapat menjelaskan bahwa tidak ada mekanisme genetic reassortment dalam aktivitas penularan. Sub-tipe virus influenza A yang menginfeksi kuda pada kasus diatas adalah H3N8. Ini membuktikan, aktivitas penularan terjadi, karena virus avian influenza yang menginfeksi mengalami antigenic drift, lebih lanjut disebabkan oleh point mutation (Guo et al, 1992; Fenner, 1993).

Amri, 2007 pada http://www.detik.com memberitakan kejadian mewabahnya Equine Influenza di Australia. Industri balap kuda Australia terancam akibat berkembangnya flu kuda. Penyebaran flu kuda ini diduga dibawa manusia yang pernah kontak dengan kuda terjangkit kemudian masuk ke Australia.

Sebelumnya, pihak berwenang Australia memfokuskan diri pada fasilitas karantina kuda di Sydney untuk menyelidiki muasal penyebaran. Namun, sebuah harian Australia mengungkap dugaan virus dibawa oleh manusia yang masuk melalui Bandara Sydney.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (2/9/2007), Menteri Pertanian Australia Peter McGauran telah memerintahkan penyelidikan atas penyebaran flu tersebut. Menurut McGauran, asalnya ‘hampir dipastikan’ dari Jepang.

Perdana Menteri Pemerintah Australia John Howard telah menurunkan tim untuk menyelidiki kejadian yang baru pertama kali terjadi di Australia ini. Howard telah menunjuk pensiunan hakim tinggi Australia Ian Callinan memimpin untuk menyelidiki penyebaran virus yang bisa merugikan miliaran dolar Australia itu.

Kapanlagi.com, 2007 menambahkan bahwa sebanyak delapan ekor kuda milik kesatuan polisi berkuda New South Wales (NSW) diyakini terserang virus Equine Influenza (EI, flu kuda-red.) sehingga para polisi penunggangnya tidak dapat ikut dalam pengamanan KTT APEC di Sydney pada 8-9 September mendatang.

Polisi NSW menyebutkan sebanyak 36 ekor kuda yang dimilikinya telah dikarantina dan tindakan pengisolasian ini tetap diberlakukan selama 30 hari setelah pulihnya kesehatan kuda-kuda tersebut.

Terkait dengan kasus EI, Pemerintah Australia telah pun meminta negara-negara di dunia untuk memperketat aturan karantinanya terhadap kuda-kuda yang datang dari Australia menyusul adanya serangan virus flu terhadap puluhan kuda di NSW dan Queensland itu.

Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia, Peter McGauran, mengatakan, penjangkitan virus Equine Influenza (EI) ini merupakan ancaman serius bagi industri kuda pacu Australia.

“Australia memiliki kewajiban internasional untuk melaporkan penjangkitan penyakit menular luar biasa apa pun dan kami berharap negara-negara lain memperketat aturan karantinanya terhadap kuda-kuda yang datang dari Australia,” katanya.

Virus flu itu dilaporkan telah menjangkiti sedikitnya 47 ekor kuda di NSW, dan lebih dari 10 ekor kuda di Morgan Park, Warwich, selatan Queensland juga telah menunjukkan tanda-tanda terserang flu. Sampel darah sudah dikirim ke sebuah laboratorium di Victoria.

Larangan terhadap pemindahan kuda telah diberlakukan secara nasional untuk mencegah penyebaran virus.

Sebelumnya di Jepang, Kapanlagi.com, 2007 memberitakan pemerintah Provinsi Saga, Jepang terpaksa membatalkan perlombaan pacu kuda yang rencananya berlangsung Senin (3/9) ini, menyusul terjangkitnya sembilan kuda balap peserta lomba tersebut oleh sejenis flu yang dikenal sebagai flu kuda (equine influenza).

Pengecekan lanjutan terhadap kuda-kuda peserta balapan pada 25 Agustus lalu menunjukkan 114 dari 525 kuda yang terdaftar di asosiasi setempat mengidap virus, demikian Yomiuri Shimbun di Tokyo, Senin (3/9).

Pikiran Rakyat, 2007 menjelaskan mewabahnya virus Equine influenza (EI) atau flu kuda di Australia mengganggu persiapan cabor berkuda Jabar yang kini tengah berlatih di negeri kanguru dalam rangka persiapan menghadapai PON.

Penanggung jawab cabor berkuda pelatda PON Jabar, Yeyen Rusyana, di Gedung KONI Jabar, Selasa (18/9) mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan dari manajer dan para atlet Jabar yang kini berlatih di Australia. Dari komunikasi yang dilakukan, mereka mengakui adanya wabah virus tersebut cukup mengganggu kegiatan berkuda di Australia.

“Sejauh ini ada dua event kejuaraan ditunda akibat mewabahnya virus ini. Kejuaraan Sydney three day yang rencananya berlangsung 13-16 September gagal digelar. Begitu pula penyelenggaraan Asia Pasific Challenge yang ditunda penyelenggaraannya,” kata Yeyen.

Badan Karantina Pertanian mulai 29 Agustus 2007 melarang pemasukan kuda asal Australia. Pelarangan dilakukan sampai batas waktu yang belum ditetapkan, menyusul terjadinya wabah flu kuda (Horse flu/HF) di Australia yang disebabkan virus H3N8. Virus ini bisa menular ke ternak lain, seperti pada babi dan sapi. Kepala Badan Karantina Pertanian Syukur Iwantoro mengungkapkan, jika betul bisa menular ke ternak lain, akan menurunkan produktivitas ternak sapi. “Kita banyak mengimpor sapi bakalan dari Australia,” katanya. Terkait kasus itu, Badan Karantina Pertanian juga meminta pemerintah Australia melakukan analisis risiko terhadap kemungkinan penyebaran virus itu. “Kami akan segera berkonsultasi dengan komisi ahli karantina hewan dan komisi kesehatan hewan,” katanya (Kompas, 2007).

Selama sepekan ini petugas Stasiun Karantina Hewan Kelas I Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, mengawasi secara ketat lalu lintas masuknya hewan dan produk olahan hewan dari luar negeri, terutama asal
Australia (Ausie) dan Jepang. Langkah tersebut untuk mengantisipasi penyebaran wabah equine influenza (flu kuda) yang kini mulai menjangkiti sejumlah peternakan kuda di dua negara tersebut (
detikcom, 2007).

Etiologi

Equine influenza merupakan penyakit viral pada bangsa kuda yang disebabkan oleh virus influenza. Virus influenza adalah partikel infeksius berselubung dengan bentuk bundar atau bulat panjang, berpolaritas negatif dan mempunyai genom RNA beruntai tunggal dengan lipatan tersegmentasi yang terbagi menjadi delapan bagian segmental (Fenner, 1993; Cox dan Kawaoka, 1997). Virus influenza merupakan nama umum dalam famili Orthomyxoviridae dan diklasifikasikan menjadi tipe A, B, dan C berdasarkan perbedaan sifat antigenisitas protein struktural internal, diperantarai protein nukleokapsid (nukleoprotein) dan protein matrix, yang umumnya mempunyai nilai identifikasi yang sama untuk semua virus dengan tipe yang sejenis (Brooks et al, 2001).

Virus influenza tipe A adalah agen penyebab penyakit influenza pada berbagai spesies, mayoritas virus influenza tipe ini menginfeksi spesies unggas dan hanya sebagian kecil subtipe yang dapat menginfeksi manusia dan hewan lainnya, seperti: babi dan kuda. Dua tipe lain dari virus influenza, tipe B dan C utamanya hanya dapat diisolasi dari manusia dan umumnya bersifat kurang patogen dibandingkan dengan virus influenza A. Berdasarkan analisis filogenetik, virus influenza tipe A dan B mempunyai hubungan yang lebih dekat dibandingkan dengan virus influenza B (Asmara, 2007).

Determinan antigenik utama virus influenza tipe A dan B adalah glikoprotein transmembran hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Protein HA virus influenza berfungsi mengikat partikel virus pada sel yang dapat terkena dan juga merupakan antigen utama pembentukan antibodi protektif. Protein NA berfungsi pada akhir replikasi virus, dengan memindahkan ujung asam sialat dari glikoprotein permukaan virus, sehingga memudahkan pelepasan partikel virus dan mencegah agregasi mereka. Kedua glikoprotein, HA dan NA mampu menstimulasi terjadinya respon imun spesifik terhadap sub-tipe virus. Respon imun yang terbentuk sepenuhnya bersifat protektif untuk virus dengan sub-tipe yang sama, tetapi bersifat protektif parsial pada lintas subtipe yang berbeda. Berdasarkan sifat antigenisitas dari glikoprotein HA dan NA, saat ini virus influenza dikelompokan ke dalam 16 subtipe HA (H1-H16) dan sembilan subtipe NA (N1-N9). Pembagian kelompok tersebut, ditetapkan sesuai dengan analisis filogenik nukleotida dan sequencing gen HA dan NA melalui identifikasi urutan asam amino (Brooks, 2001).

Virion spesifik dari virus equine influenza adalah bundar, berukuran medium (80-120 nm), beramplop dengan lipid bilayer yang berasal dari hospes dan ditutupi sekitar 500 spike glikoprotein yang mempunyai aktivitas hemagglutinasi dan neuraminidase (Fenner, 1993; Cox dan Kawaoka, 1997). Selain itu, virus equine influenza mempunyai delapan segmen yang tersusun dalam rangkaian RNA, tiap segmen merupakan genom yang akan menghasilkan protein untuk mempertahankan kemampuan viabilitas (Brooks, 2001). Kedelapan segmen ini terdiri dari gen haemagglutinin (HA), neuraminidase (NA), nukleoprotein (NP), matriks (M), polimerase A (PA), polimerase B1 (PB1), polimerase B2 (PB2) dan protein non-struktural (NS) (Fenner, 1993). Dari delapan segmen protein virion tersebut, terbagi lima protein virion yang bertindak sebagai protein struktural (HA, NA, NP, M dan NS) dan tiga protein virion yang terkait dengan polymerase RNA (PA, PB1 dan PB2). Komponen protein terbanyak adalah protein matriks (M1) yang susunannya terdiri dari banyak monomer sejenis dan terasosiasi pada permukaan bagian dalam lapisan lipid bilayer. Komponen kedua protein matriks adalah protein matriks (M2), protein ini berperan menjadi sejumlah kecil salinan dalam proses replikasi dan bertindak sebagai pori-pori setelah lapisan lipid bilayer (Fenner, 1993; Cox dan Kawaoka, 1997).

Cara Penularan

Equine Influenza menyebar lewat aerosol dari sekresi respirasi dan muntahan, dapat juga menyebar lewat benda-benda dan orang yang tercemar virus ini dan melakukan kontak baik dengan kuda yang terinfeksi maupun tidak. Seringkali infeksi dan wabah terjadi karena pemasukan hewan baru dalam populasi. Masa inkubasi biasanya satu samapi tiga hari. Masa inkubasi mendekati tujuh hari pernah dilaporkan akan tetapi sangat jarang terjadi. Kuda yang terinfeksi menyebarkan virus dalam sekresi respirasinya selama masa inkubasi, dan berlanjut menyebarkan virus selama empat sampai lima hari setelah gejala klinis teramati. Hewan terinfeksi masih berpotensi menyebarkan virus 7-10 hari setelah masa kesembuhan hewan. Konsentrasi virus di hewan mencapai puncaknya pada 24-48 jam pasca infeksi. Droplet yang mengandung virus dapat menyebar sejauh 50 yards. Hampir 100% kuda yang kontak dengan virus terinfeksi. Sekitar 20% kuda terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis dari Equine Influenza namun masih berpotensi menyebarkan infeksi ke kuda-kuda lainnya (AVMA, 2006).

Gejala Klinis

Pada kuda suspected terinfeksi equine influenza, gejala klinis mudah untuk dikenali. Gejala primer yang dikenali adalah pireksia (suhu tubuh dapat mencapai 39-41oC), batuk yang bersifat dalam, kering dan kasar, dan ditandai juga dengan keluarnya massa cair dari nassal, dimana kemungkinan akan berlanjut menjadi massa yang bersifat mukopurulen (Fenner, 1993; McQueen et al, 1966; Gerber, 1977). Gejala klinis lain, meliputi: depresi, kehilangan nafsu makan, kesulitan bernafas, nyeri otot dan kekakuan tubuh (AUSVET Plan, 2007; McQueen et al, 1966; Gerber, 1977).

Diagnosis

Isolasi virus equine influenza, dilakukan dengan inokulasi virus dari sampel klinis yang didapat pada ruang allantois dalam telur ayam berembrio umur 10-11 hari. Telur yang telah diberikan perlakuan biasanya diinkubasi dengan suhu 33-34o C selama 2-3 hari, sebelum virus tersebut dipanen (Cox dan Kawaoka, 1998; Fenner, 1993). Replikasi virus dapat di deteksi melalui uji hemagglutinasi (Fenner, 1993). Sistem sel kultur yang digunakan untuk karakterisasi virus, dapat memakai chick embryo fibroblast dan/atau madin darby canine kidney (MDCK) cell line (Fenner, 1993; OIE, 2005).

Sampel klinis terbaik untuk dilakukan isolasi virus, dapat menggunakan mukus yang dikeluarkan oleh hewan penderita dan/atau sampel jaringan paru yang diperoleh saat nekropsi (Fenner, 1993).

Treatmen

Untuk semua penyakit viral, diberikan terapi suportif. Perawatan dan nutrisi yang baik sangat membantu kuda dalam membentuk respon imun yang efektif. Istirahat yang cukup mengurangi pengaruh virus. Dikarenakan adanya infeksi trakeal aktifitas yang dapat memberatkan pernafasan dikurangi selama satu bulan setelah infeksi, istirahat total juga disarankan setelah gejala klinis hilang. Antipiretik direkomendasikan untuk kuda dengan demam melebihi 1050F (40,50C) dan atau yang mengalami depresi dan anoreksia. Pneumonia dapat diatasi dengan kombinasi antibiotik spektrum luas dan menjaga keseimbangan cairan tubuh dengan intravena fluid terapi (AVMA, 2006).

Morbiditas dan Mortalitas

Morbiditas Equine Influenza diperkirakan mencapai 60-90% dari populasi. Sampai saat ini yang sudah dilaporkan mortalitas kuda yang terinfeksi antara 1-20%. Kematian tertinggi dilaporkan pada anak kuda, kuda dengan imunitas rendah, dan pada keledai (AVMA, 2006).

Kontrol

Apabila wabah terjadi, langkah preventif untuk menanggulangi infeksi menyebar adalah mengkarantina stable dan jalur exercise kuda selama kurang lebih 4 minggu. Mobilitas manusia yang bisa mengkontaminasi lingkungan pun harus dibatasi. Sesudah masa karantina, langkah lebih lanjut untuk antisipasi kejadian berulang adalah membersihkan dan disinfeksi unit box tempat individual kuda dan keseluruhan kandang kuda (stable). Sarana produksi dan peralatan kandang, juga perlu dilakukan disinfeksi.

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan melaksanakan vaksinasi, menggunakan vaksin inaktif-bivalen. Penggunaan vaksin, sebaiknya dilakukan dalam tiga tahapan. Tahap pertama dan kedua dilakukan secara terpisah dengan interval waktu 8-12 minggu. Tahap ketiga, dilakukan setelah 6 bulan kemudian. Revaksinasi dapat dilakukan setelah 9 bulan kemudian.


DAFTAR PUSTAKA



Amri, Arfi Bambani, 2007, Diduga Flu Kuda di Australia Disebarkan Manusia

http://www.detik.com, 02/09/07

AVMA, 2006, Equine Influenza Backgrounder

http://www.avma.org, American Veterinary Medical Association 13/11/06

Fenner, J.F. , E.P.J. Gibbs, F.A. Murphy, R. Rott, M.J. Studdert, and D.O. White. 1993. Veterinary Virology. Second Edition. Academic press. Orthomyxoviridae 29, 511-522

Gerber H (1970). Clinical features, sequelae and epidemiology of equine influenza. In: Proceedings of the Second International Conference on Equine Infectious Diseases, Paris, 1969, S Karger, Basel, 63–80.

Guo Y, Wang M, Kawaoka Y, Gorman O, Ito T, Saito T and Webster R (1992). Characterization of a new avian-like influenza A virus from horses in China. Virology 188: 245–255.

Kapanlagi.com, 2007, Jepang Batalkan Pacuan Kuda Akibat Serangan Flu Kuda

http://www.kapanlagi.com, 03/09/07

Kapanlagi.com, 2007, Kuda Polisi NSW Untuk Amankan KTT APEC Terserang Flu EI http://www.kapanlagi.com, 28/08/07

Kompas, 2007, Impor Kuda dari Australia Dihentikan

http://www.kompas.com, 03/09/07

McQueen JL, Davenport FM, Keeran RJ and Dawson HA (1966). Studies on equine influenza in Michigan, 1963. II. Epizootiology. American Journal of Epidemiology 83:280–286.

Pikiran Rakyat, 2007, Virus Flu Kuda Ganggu Persiapan PON XVII

http://www.pikiranrakyat.com, 20/09/07

Wijaya, Taufiq, 2007, Bandara Palembang Hadang Flu Kuda Australia

http://www.detik.com, 20/09/07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: