Kebuntingan Pada Kucing

Pendahuluan

Kebuntingan normal dan abnormal pada kucing domestik dipelajari untuk membantu dokter hewan yang bekerja di breeder kucing dan juga sebagai acuan untuk mempelajari fisiologi reproduksi dari kucing non domestik. Artikel ini mengulas tentang kondisi fisiologi dan endokrinologi serta abnormalitas kebuntingan pada kucing domestik.

Endokrinologi kebuntingan

Tiga hormon yang penting selama kebuntingan adalah estradiol-17β, LH dan progesterone yang masing-masing disekresikan dalam kadar yang berbeda selama masa kebuntingan induk kucing.

Estrogen

Pada awal kebuntingan, kadar dari estradiol-17β dalam darah berfluktuasi sepanjang baseline, dan akan meningkat pada satu minggu sebelum partus [1]. Kadar dari LH dalam darah juga berfluktuasi sepanjang baseline pada awal kebuntingan dan kadarnya akan semakin turun sampai waktu partus [1].

Progesteron

Kadar progesterone akan naik setelah terjadi ovulasi spontan atau ovulasi induksi dan akan selalu ada selama masa kebuntingan untuk menjaga kebuntingan. Sumber penghasil progesteron pada kucing berbeda-beda pada banyak penelitian. Pada salah satu penelitian menyebutkan bahwa induk kucing hamil yang diovariektomi pada usia kebuntingan 45-49 tidak terjadi kebuntingan, hal ini menunjukan bahwa ada penghasil progesterone di luar ovarium [2]. Ini juga diperkuat dengan adanya enzim yang penting untuk produksi progesteron pada plasenta kucing, ini menunjukan bahwa plasenta fetus juga dapat sebagai penghasil progesteron selama kebuntingan [3]. Pada penelitian lain ditunjukan bahwa induk kucing yang diovariektomi pada usia kebuntingan 30-45 hari terjadi penurunan kadar progesterone yang kemudian terjadi abortus, bagaimanapun juga kebuntingan dapat dijaga dengan memberikan suplemen progesterone pada induk kucing setelah diovariektomi [4]. Prolaktin merupakan nama lain dari LTH [5]. Penghambatan sekresi prolaktin dengan obat-obatan seperti cabergoline pada pertengahan kebuntingan akhir akan menyebabkan turunnya kadar progesteron dalam darah dari 80% sampai dengan 100% pada induk kucing yang diikuti dengan terjadinya abortus [4] dan [6], hal ini menunjukan bahwa CL merupakan sumber utama penghasil progesteron selama kebuntingan kucing.

Progesteron dari manapun dihasilkan selama kebuntingan kadarnya berkisar antara 11-60 ng/ml pada awal kopulasi dan akan turun sampai kadar terendah pada saat partus [1].

Karakteristik kebuntingan normal

Litter size

Rata-rata litter size pada kucing adalah 4.0 anak kucing per litter [1], [7], [8], dan [9], dan bervariasi tergantung pada jenisnya. Banyaknya perkawinan tidak ada hubungannya dengan litter size [8]. Pernah dilaporkan dalam satu indukan melahirkan 18 anak kucing melalui ovariohysterectomi [10]. Pada kebuntingan normal induk kucing diamati cervix uterus tidak jelas selama diestrus dan kebuntingan dan juga tidak ada perubahan pada vulva [11]. Pada akhir kebuntingan anemia normosistik dan normokromik dengan reticulocytosis sering terjadi [12].

Lama kebuntingan

Lama kebuntingan pada kucing domestik, dari hari pertama atau terakhir kali kawin sampai terjadinya partus rata-rata 65.6 hari, dengan range antara 52-74 hari [1], [7], [9], dan [13]. Lama kebuntingan kurang dari 60 hari menunjukan terjadinya penurunan daya hidup dari keturunannya. Adanya variasi lama kebuntingan dapat disebabkan oleh jenis kucingnya, pada kucing Siam rata-rata 63 hari dan pada kucing Persi adalah 65 hari [8]. Selain itu lama kebuntingan juga dapat disebabkan oleh variasi spesies dan secara umum lama kebuntingan ada hubungannya dengan ukuran badan dari kucing.

Diet selama kebuntingan

Selama kebuntingan, kebutuhan akan protein akan meningkat, terutama untuk asam amino-arginin, lisin, dan triptophan [9] dan [14]. Induk kucing bunting membutuhkan lebih banyak diet protein dari pada karbohidrat [15]. Minimal diet untuk induk kucing bunting harus mengandung 32% protein dan 18% lemak [9]. Menjelang partus, induk kucing harus mendapatkan protein sebanyak 12-38% dari berat badannya sebelum bunting [7].

Multipel pejantan dan multipel umur pada litter

Superfekundasi, terjadi pada keturunan yang berasal lebih dari satu pejantan dalam satu indukan dan hal ini sering terjadi pada kucing. Superfetasi, secara bersamaan tampak pada keturunan yang berbeda umur kebuntingannya di dalam uterus dan hal ini jarang terjadi pada kucing domestik [10], [16], dan [17]. Untuk terjadinya superfetasi, konsepsi harus terjadi setelah folikel tersier diinduksi dengan kopulasi untuk terjadinya ovulasi pada kucing betina bunting. Periode pertumbuhan folikel terjadi pada fase luteal pada kucing dan ovarium dapat merespon gonadotropin pada pertengahan masa kebuntingan [19], sehingga kucing masih menunjukan gejala estrus atau tingkah laku kawin selama kebuntingan dengan kadar estradiol dan LH yang tidak signifikan dalam darah. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas estrus tidak ada korelasinya dengan endokrinologi atau fisiologi dari kemampuan fertilitas [20].

Abnormalitas kebuntingan

Eclampsia

Eclampsia atau hypokalsemia sering terjadi pada kucing yang melakukan laktasi pada anak kucing dalam jumlah banyak dan pernah juga terjadi pada kucing bunting 3-17 hari sebelum partus [21]. Tidak ada korelasi antara diet dengan terjadi eclampsia. Gejala dari eclampsia tidak spesifik meliputi kelesuan, anoraksia, faskulisasi dan tremor pada otot, dehydrasi, kelelahan, kepucatan, hypothermia, dyspnea dan atau tachypnea dan bradicardia. Diagnosa dapat dilakukan dengan melihat adanya abnormalitas dari kadar kalsium dalam darah yang rendah. Hal itu menyebabkan adanya gangguan pada kucing terutama dalam hal pengaturan kalsium dalam darah sehingga kucing perlu mendapatkan tambahan kalsium secara per oral selama satu bulan setalah partus.

Kebuntingan ectopic

Kebuntingan ectopic terjadi karena perkembangan satu atau beberapa fetus diluar uterus. Pada kebuntingan ectopic primer perkembangan zigot yang meliputi fase embrionik dan fase fetus berada di luar uterus. Pada kebuntingan ectopic sekunder terjadi perkembangan fetus di cavum abdomen setelah dinding uterus mengalami ruptur yang disebabkan karena trauma. Pada suatu kasus, kebuntingan ectopic pada kucing dilaporkan tidak mungkin ada anak kucing hidup di luar uterus, akan tetapi banyak kejadian yang melaporkan adanya mummifikasi dan maserasi fetus di cavum abdomen [22], [23], [24], [25] dan [26]. Kebanyakan kebuntingan ectopic, fetusnya aseptik dan dapat menyebabkan gejala klinis pada kucing seperti gastrointestinal (vomitus anoreksia), urinari (hematuria, poliuria dan urinasi tidak pada litter box) dan juga adanya gejala yang tidak spesifik seperti depresi dan kelesuan. Diagnosa dilakukan dengan abdominal radiograpi atau USG. Treatment yang sering dilakukan yaitu dengan operasi untuk membuang jaringan fetus.

Torsi uteri

Torsi satu atau kedua kornu uteri jarang terjadi pada induk kucing akan tetapi dapat terjadi pada kebuntingan akhir, pada minggu kelima sampai dengan partus. Torsi unilateral lebih sering ada, ini terjadi pada 93% dari kasus yang ada [27]. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas fetus atau gerakan dari induk yang menyebabkan kornu uteri berputar mengelilingi sepanjang axis [27] dan [28]. Derajat perubahan dari torsi uteri bervariasi mulai dari 180° sampai 900° dan akan menyebabkan gejala klinis yang bervariasi sesuai dengan derajat perubahan dari torsi uteri [29]. Gejala klinis meliputi perubahan pada selaput lendir, hemoragi pada vulva, rasa sakit pada abdomen dan atau distensi abdomen, hypothermia, tachycardia dan kepucatan serta distokia [27], [29] dan [30]. Kondisi tersebut didiagnosa dengan menggunakan USG pada abdomen. Diagnosa dapat diperkuat dengan USG menggunakan pengecatan Doppler atau dengan explorasi laparotomi. Opsi terakhir untuk treatment yaitu dengan operasi.

Keguguran

Keguguran dapat disebabkan oleh agen infeksi atau non-infeksi. Agen infeksi meliputi bakteri, virus dan protozoa.

Bakteri

Bakteri yang menyebabkan pregnancy loss jarang sekali dilaporkan terjadi pada kucing. Contohnya pada kasus distokia dan stillbirth pada anak kucing biasanya disebabkan karena adanya asosiasi antara kondisi lingkungan dengan kontaminasi dari Salmonella typhimurium, yang berasal dari pakan kasar untuk semua kucing di tempatnya [31]. Kemudian pada kasus yang lain, percobaan dengan menggunakan infeksi dari Bartonella henselae akan menyebabkan terjadinya sub-fertilitas pada induk kucing, akan tetapi bakteri tidak menular lewat kopulasi, tranplasenta atau lewat colostrum dan susu.

Virus

Feline leukemia virus

Feline leukemia virus merupakan retrovirus yang menural secara horisontal dan sering ditemukan pada kucing yang diperbolehkan berkeliaran bersama kucing lain di luar rumah atau dalam satu rumah terdapat banyak kcing. Apabila terjadi infeksi feline leukemia virus akan menyebabkan abortus secara epidemik dalam suatu cattery [33]. Manajemen untuk mengontrol feline leukemia virus yaitu dengan melakukan uji serotipe pada semua kucing dalam suatu cattery dan menyingkirkan kucing yang terbukti positif [34]. Kucing dengan sejarah pernah terinfeksi feline leukemia virus dapat menyebarkan penyakit ini, oleh karena itu program vaksinasi dan treatment yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit [35].

Feline immunodeficiency virus

Feline immunodeficiency virus (FIV) merupakan penyebab lain dari keguguran pada induk kucing. Pada suatu penelitian, induk kucing normal menghasilkan rata-rata 3.8 anak kucing dan 1 dari 31 konsepsi yang gagal sedangkan induk kucing yang terinfeksi FIV hanya menghasilkan 2.7 anak kucing dan 15 dari 25 konsepsi yang gagal, selain itu 14 dari 15 plasenta tampak adanya FIV. FIV dapat ditularkan secara horisontal dengan kontak langsung melalui gigitan maupun tidak langsung melalui sekresi susu dan semen [38]. Dengan vaksinasi sebagai kontrol untuk penyebaran infeksi FIV dapat mencegah terjadinya keguguran pada kucing.

Feline enteric corona virus

Feline enteric corona virus (FcoV) merupakan virus yang ada dimana-mana yang dapat menyebabkan feline infeksi peritonitis (FIP) pada beberapa kucing [39] dan [40]. FCoV itu endemic pada kebanyakan jenis kucing rumahan, dengan prevalensi serotipe 75-100% [40]. Setelah FcoV masuk dalam tubuh kucing 10% akan mengalami FIP, 13% menjadi sembuh dan carier serta sisanya 77% menjadi terinfeksi, virus dapat tahan di dalam feses selama beberapa bulan dan baru kemudian hilang yang dapat dengan mudah dapat menimbulkan infeksi kembali [41]. Fasilitas untuk kucing dengan titer FCoV yang tinggi sering menyebabkan terjadinya kegagalan reproduksi, abortus dan kematian fetus pada saat lahir [33]. Karena virus ini ada dimana-mana, menejemen pencegahannya dengan test dan removal program. Semua kucing yang ada di fasilitas harus ditest setiap 3-6 bulan dan hewan dengan test positif kandangnya harus dipisahkan dari hewan yang hasil testnya negatif. Induk dengan serotipe positif harus dikawinkan dengan pejantan yang serotipenya positif dan juga sebaliknya. Semua kucing yang keluar dari breeder harus disertai dengan surat yang menunjukan status serologisnya (http://www.catbreeder.com/). Untuk mencegah penyebaran FCoV, litter box digunakan hanya untuk satu atau dua kucing, bersihkan semua litter box setidaknya sehari sekali dan didesinfektan satu minggu sekali, jauhkan litter box dari tempat pakan dan bersihkan litter box secara reguler [41].

Feline herpes virus

Infeksi feline herpes virus dapat menyebabkan viral rhinotracheitis. Induk kucing yang diinfeksi secara experimen lewat intranasal akan menyebabkan terjadinya abortus, gangguan pada pernafasan dan tidak ada lesi pada plasentanya saat dipreiksa [43]. Vaksinasi pada induk kucing sebelum breeding sangat dianjurkan untuk mencegah terinfeksinya penyakit ini.

Panleukopenia

Panleukopenia atau distemper disebabkan oleh parvovirus. Infeksi virus ini akan menyebabkan abortus atau anak lahir dengan menderita hypoplasia cerebelum, tergantung pada tahap kebuntingannya waktu terjadinya infeksi [33] dan [44]. Panleukopenia dapat dikontrol dengan pemberian vaksinasi sebelum breeding.

Protozoa

Toxoplasma gondii merupakan protozoa yang hospes definitivnya adalah kucing. Kucing yang terinfeksi menyebarkan oocysta yang non infeksi dalam fesesnya. Sista kemudian mengalami sporulasi diluar tubuh kucing dan diingesti oleh hospes intermedier. Kucing terinfeksi karena memakan jaringan hewan yang mengandung sista tadi. Toxoplasmosis pada induk kucing bunting dapat menyebabkan terjadinya penyakit neurologi pada fetus dan biasanya disertai dengan terjadinya abortus serta anak kucing yang terinfeksi secara tranplasenta akan mati sebelum atau setelah lahir [33], [45], dan [46]. Tindakan pencegahan terhadap toxoplasmosis yaitu dengan tidak mengijinkan kucing berburu hewan seperti tikus dan tidak diberi pakan daging mentah [45].

Sebab non-infeksi

Penyebab non-infeksi dari keguguran pada kucing meliputi hypoluteoidisme, abnormalitas kromosom, diet yang tidak tepat dan embriotoxic dan nutrisi untuk induk kucing. Selain itu keguguran dapat juga disebabkan oleh faktor lainnya.

Hypoluteoidisme

Hypoluteoidisme disebabkan karena penghentian fungsi corpus luteum (CL) sebelum waktunya sehingga terjadi penurunan kadaar progesteron dalam darah yang kemudian diikuti dengan pregnancy loss. Corpus luteum merupakan tempat penghasil utama progesteron meskipun bukan satu-satunya tempat untuk sekresi progesteron selama kebuntingan. Yang perlu ditekankan adalah penyebab spontan turunnya dari fungsi CL belum diketahui secara pasti, hal ini dibuktikan dengan hasil sekresi dari uterus tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap fungsi dari CL [49]. Dengan demikian sista endometrial atau penyebab lain dari inflamasi uterus yang akan diikuti dengan releasenya prostaglandin tidak terlibat pada kejadian hypoluteoidisme.

Abnormalitas kromosom

Abnormalitas kromosom pada anak kucing akan menyebabkan terjadi perkembangan gen lethal yang dapat berdampak terjadinya subfertilitas setelah kucing tersebut dewasa [33]. Induk dan kucing pejantan yang menghasilkan keturunan dengan kromosom yang abnormal tidak boleh dikembangbiakan antara satu dengan yang lainnya akan tetapi dapat dikawinkan dengan kucing yang lain

Diet

Diet dapat menyebabkan penurunan performan dari reproduksi pada kucing, seperti malnutrisi dan defisiensi taurin. Kucing kemampuannya dalam mensintesa taurin sangat terbatas oleh karena itu diet akan taurin sangat dibutuhkan. Kucing yang mengalami defisiensi taurin akan mengalami abortus selain itu juga dapat menyebabkan anak kucing lahir dengan berat badan yang rendah [50] dan [51]. Pakan komersial yang sudah mempunyai sertifikat dari American Association of Feed Control Officials (AAFCO) sudah mempunyai kandungan taurin yang cukup.

Faktor lain

Induk kucing bisanya mengalami pregnancy loss tanpa disebab yang jelas. Hasil penelitian dari lima ekor kucing dengan sejarah pernah mengalami pregnancy loss selama masa kebuntingannya menunjukan adanya nekrosis multifokal pada plasentanya yang diikuti dengan kematian fetus dan mengalami autolisis, akan tetapi tidak ada infeksi organisme ataupun proses patologi pada saat diidentifikasi.

Sulit untuk membedakan keguguran pada usia muda dengan kurangnya konsepsi pada induk kucing. Abnormalitas tersebut membuat adanya kebuntingan menjadi tidak diketahui. Pemeriksaan fisik yang lengkap dan diagnosa yang seksama sangat dibutuhkan (Tabel 1). Diagnosa yang pasti tentang masalah ini akan membuat manajemen pada cattery atau perawatan pada induk kucing menjadi lebih baik, sehingga akan meningkatkan fertilitas dari kucing tersebut.

Tabel 1. Kunci untuk mengetahui abnormalitas pada kebuntingan kucing

Asumsi : induk kucing dalam kondisi yang bagus dan diberi paka komersial untuk kucing dewasa yang mengandung protein dan lemak yang cukup

1. Induk kucing mengalami abortus atau meresopsi fetus telah diketahui dengan USG akan tetapi tidak disertai dengan penyakit sistemik.

4

1’. Induk kucing mengalami abortus atau meresopsi fetus telah diketahui dengan USG dan disertai dengan penyakit sistemik.

2

2. Rasa sakit pada daerah abdomen tetapi tidak tampak gejala shock.

3

2’. Rasa sakit pada daerah abdomen dan tampak gejala shock.

Torsi uteri

3. Kadar kalsium dalam darah normal.

5

3’. Kadar kalsium dalam darah rendah.

Eclampsia

4. Kemungkinan karena infeksi feline leukemia virus, FIV, panleukopenia, abnormalitas kromosom dan hypoluteoidisme – lakukan test untuk FeLV dan FIV, periksa status vaksinasinya untuk panleukopenia dan jika memungkinkan nekropsi abortusnya, monitoring kadar progesteron dalam darah selama kebuntingan dan sesudah breeding.

5. Kemungkinan karena infeksi bakteri, feline viral rhinotracheitis atau toxoplasmosis. Untuk infeksi bakteri gejala klinisnya tidak spesifik, oleh karena itu lakukan nekropsi pada abortusnya dan biakan. Rawat induk kucing dan anak kucing yang hidup dengan pemberian antibiotik yang tepat. Jaga lingkungan kucing dari kontaminasi bakteri. Untuk feline rhinotracheitis biasanya disertai dengan adanya infeksi pada saluran pernafasan bagian atas, cek status vaksinasi dari induk kucing. Toxoplasmosis biasanya disertai dengan adanya penyakit syaraf pada induk, titer dari toxoplasmosis dalam darah harus dievaluasi.

Daftar Pustaka

[1] P.M. Schmidt, P.K. Chakraborty and D.E. Wildt, Ovarian activity, circulating hormones and sexual behavior in the cat. II. Relationships during pregnancy, parturition, lactation and the post-partum estrus, Biol Reprod 28 (1983), pp. 657–671. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE | Full Text via CrossRef

[2] P.P. Scott, Cats. In: E.S.E. Hafez, Editor, Reproduction and breeding techniques for laboratory animals, Lea and Febiger, Philadelphia PA (1970), pp. 192–208.

[3] A. Malassine and F. Ferre, Delta 5, 3-beta hydroxysteroid dehydrogenase activity in cat placental labyrinth: evolution during pregnancy, subcellular distribution, Biol Reprod 21 (1979), pp. 965–971. Abstract-EMBASE | Abstract-MEDLINE | Full Text via CrossRef

[4] J.P. Verstegen, K. Onclin, L.D.M. Silva, P. Wouters-Ballman, P. Delahaut and F. Ectors, Regulation of progesterone during pregnancy in the cat: studies on the roles of corpora lutea, placenta and prolactin secretion, J Reprod Fertil (1993) (Suppl 47), pp. 165–173. Abstract-MEDLINE

[5] W. Jöchle, Prolactin in canine and feline reproduction, Reprod Domest Anim 32 (1997), pp. 183–193.

[6] W. Jöchle, K. Arbeiter, K. Post, R. Ballabio and A.S. D’Ver, Effects on pseudopregnancy, pregnancy and interestrus intervals of pharmacological suppression of prolactin secretion in female dogs and cats, J Reprod Fertil (1989) (Suppl 39), pp. 199–207. Abstract-MEDLINE

[7] H.S. Munday and H.P.B. Davidson, Normal gestation lengths in the domestic shorthair cat (Felis domesticus), J Reprod Fertil (1993) (Suppl 47), p. 559 abstract.

[8] C.W. Prescott, Reproduction patterns in the domestic cat, Aust Vet J 49 (1973), pp. 126–129. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE

[9] R.L. Kelley, The effect of nutrition on feline reproduction, Proceedings, Society for Theriogenology Columbus Ohio (2003), pp. 354–361.

[10] B.G. Beaver, Supernumerary fetation in the cat, Feline Pract 3 (1973), pp. 24–25.

[11] Chatdarong K. Reproductive physiology of the female cat. Doctoral thesis, Swedish University of Agricultural Sciences, Uppsala, 2003.

[12] E. Berman, Hemogram of the cat during pregnancy and lactation and after lactation, Am J Vet Res 35 (1974), pp. 457–460. Abstract-EMBASE | Abstract-MEDLINE

[13] M.V. Root, S.D. Johnston and P.N. Olson, Estrous length, pregnancy rate, gestation and parturition lengths, litter size, and juvenile mortality in the domestic cat, J Am Anim Hosp Assoc 31 (1995), pp. 429–433. Abstract-MEDLINE

[14] T.R. Piechota, Q.R. Rogers and J.G. Morris, Nitrogen requirement of cats during gestation and lactation, Nutr Res 15 (1995), pp. 1535–1546. Abstract | Full Text + Links | PDF (948 K)

[15] J.W.S. Bradshaw, D. Goodwin, V. Legrand-Defretin and H.M. Nott, Food selection by the domestic cat, an obligate carnivore, Comp Biochem Phys Part A: Phys 114 (1996), pp. 205–209. Abstract | Full Text + Links | PDF (616 K)

[16] G. Lie, Superfetation in cats, and some observations on the pubertal age of female cats, Nytt Magasin Zoologi 3 (1955), pp. 66–69.

[17] M.T. Harman, A case of superfetation in the cat, Anat Rec 13 (1917), pp. 145–157. Full Text via CrossRef

[18] D.E. Wildt, S.Y.W. Chan, S.W.J. Seager and P.K. Chakraborty, Ovarian activity, circulating hormones, and sexual behavior in the cat. I. Relationships during the coitus-induced luteal phase and the estrous period without mating, Biol Reprod 25 (1981), pp. 15–28. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE | Full Text via CrossRef

[19] S.Y.W. Chan, P.K. Chakraborty, E.J. Bass and D.E. Wildt, Ovarian-endocrine-behavioral function in the domestic cat treated with exogenous gonadotrophins during mid-gestation, J Reprod Fertil 65 (1982), pp. 395–399. Abstract-EMBASE | Abstract-MEDLINE

[20] T. Tsutsui and G.H. Stabenfeldt, Biology of ovarian cycles, pregnancy and pseudopregnancy in the domestic cat, J Reprod Fertil (1993) (Suppl 47), pp. 29–35. Abstract-MEDLINE

[21] A.J. Fascetti and M.A. Hickman, Preparturient hypocalcaemia in four cats, J Am Vet Med Assoc 215 (1999), pp. 1127–1129. Abstract-MEDLINE

[22] R.W. Crownover and G.S. Yeargan, Extra-uterine pregnancy in a spayed cat, Vet Med/Small Anim Clin 71 (1976), pp. 1698–1699. Abstract-MEDLINE

[23] J.S. Hansen, Ectopic pregnancy in a queen with one uterine horn and an urachal remnant, Vet Med/Sm Anim Clin 69 (1974), pp. 1135–1140.

[24] S.D. Johnston, G. Harish, J.B. Stevens, A.F. Weber and F.O. Smith, Ectopic pregnancy with uterine horn encapsulation in a cat, J Am Vet Med Assoc 183 (1983), p. 1001 abstract. Abstract-MEDLINE

[25] S.D. Johnston, M.V. Root Kustritz and P.N. Olson, Canine and feline theriogenology, WB Saunders Co, Philadelphia PA (2001) pp. 424–425.

[26] R.A. Nack, Theriogenology question of the month: ectopic fetus in a queen, J Am Vet Med Assoc 217 (2000), pp. 182–184. Abstract-MEDLINE | Full Text via CrossRef

[27] L.J. Freeman, Feline uterine torsion, Comp Cont Educ 10 (1988), pp. 1078–1082.

[28] D.S. Biller and G.K. Haibel, Torsion of the uterus in a cat, J Am Vet Med Assoc 191 (1987), pp. 1128–1129. Abstract-MEDLINE

[29] R.D. Montgomery, J.E. Saidla and J.L. Milton, Feline uterine horn torsion: a case report and literature review, J Am Anim Hosp Assoc 25 (1989), pp. 189–190.

[30] J.A. Manda, Identifying uterine torsion in pregnant cats, Vet Med 81 (1986), pp. 936–938.

[31] G.A. Reilly, N.C. Bailie, W.T. Morrow, S.W. McDowell and W.A. Ellis, Feline stillbirths associated with mixed Salmonella typhimurium and Leptospira infection, Vet Rec 135 (1994), p. 608. Abstract-MEDLINE

[32] L. Guptill, L.N. Slater, C.C. Wu, T.L. Lin, L.T. Glickman and D.F. Welch et al., Evidence of reproductive failure and lack of perinatal transmission of Bartonella henselae in experimentally infected cats, Vet Immunol Immunopathol 65 (1998), pp. 177–189. Abstract | Full Text + Links | PDF (193 K)

[33] S.D. Johnston and S. Raksil, Fetal loss in the dog and cat, Vet Clin North Am 17 (1987), pp. 535–554. Abstract-MEDLINE

[34] A.S. Loar, Feline leukemia virus: immunization and prevention, Vet Clin North Am 23 (1993), pp. 193–211. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE

[35] C.L. Swenson, G.J. Kociba, L.E. Mathes, P.J. Hand, C.A. Neer and K.A. Hayes et al., Prevalence of disease in nonviremic cats previously exposed to feline leukemia virus, J Am Vet Med Assoc 196 (1990), pp. 1049–1052. Abstract-MEDLINE

[36] J.J. Callanan, M.J. Hosie and O. Jarrett, Transmission of feline immunodeficiency virus from mother to kitten, Vet Rec 128 (1991), pp. 332–333. Abstract-MEDLINE

[37] C.C. Weaver, S.C. Burgess, P.D. Nelson, M. Wilkinson, P.L. Ryan and C.A. Nail et al., Placental immunopathology and pregnancy failure in the FIV-infected cat, Placenta 26 (2005), pp. 138–147. SummaryPlus | Full Text + Links | PDF (313 K)

[38] H.L. Jordan, J.G. Howard, J.G. Bucci, J.L. Butterworth, R. English and S. Kennedy-Stoskopf et al., Horizontal transmission of feline immunodeficiency virus with semen from seropositive cats, J Reprod Immunol 41 (1998), pp. 341–357. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE

[39] J.E. Barlough and C.A. Stoddart, Cats and corona viruses, J Am Vet Med Assoc 193 (1988), pp. 796–800. Abstract-MEDLINE

[40] C. McReynolds and D. Macy, Feline infectious peritonitis. Part I. Etiology and diagnosis, Comp Cont Edu 19 (1997), pp. 1007–1016.

[41] D.D. Addie, Feline corona virus/Feline infectious peritonitis and cattery management, Proceedings, Society for Theriogenology Columbus Ohio (2003), pp. 348–353.

[42] J.E. Foley and N.C. Pedersen, The inheritance of susceptibility to feline infectious peritonitis in purebred catteries, Feline Pract 24 (1996), pp. 14–22.

[43] E.A. Hoover and R.A. Griesemer, Experimental feline herpes virus infection in the pregnant cat, Am J Pathol 65 (1971), pp. 173–188. Abstract-MEDLINE

[44] N.J. Sharp, B.J. Davis, J.S. Guy, J.M. Cullen, S.F. Steingold and J.N. Kornegay, Hydranencephaly and cerebellar hypoplasia in two kittens attributed to intrauterine parvovirus infection, J Comp Pathol 121 (1999), pp. 39–53. Abstract | PDF (1378 K)

[45] J.P. Dubey and Toxoplasmosis, J Am Vet Med Assoc 205 (1994), pp. 1593–1598. Abstract-MEDLINE | Abstract-EMBASE

[46] J.P. Dubey, I. Johnstone, V.H. Menrath and M.J. Topper, Congenital toxoplasmosis in Abyssinian cats, Vet Parasitol 32 (1989), pp. 261–264. Abstract | Abstract + References | PDF (778 K)

[47] M.R. Lappin, C.E. Greene, A.K. Prestwood, D.L. Dawe and A. Marks, Prevalence of Toxoplasma gondii infection in cats in Georgia using enzyme-linked immunosorbent assays for IgM, IgG and antigens, Vet Parasitol 33 (1989), pp. 225–230. Abstract | Abstract + References | PDF (364 K)

[48] M.R. Lappin, P.W. Gasper, B.J. Rose and C.C. Powell, Effect of primary phase feline immunodeficiency virus infection on cats with chronic toxoplasmosis, Vet Immunol Immunopathol 35 (1992), pp. 121–131. Abstract | Abstract + References | PDF (6343 K)

[49] A.G. Wheeler, M. Walker and J. Lean, Function of hormonally induced corpora lutea in the domestic cat, Theriogenology 29 (1988), pp. 971–978. Abstract | Full Text + Links | PDF (420 K)

[50] P.J. Markwell and K.E. Earle, Taurine: an essential nutrient for the cat. A brief review of the biochemistry of its requirement and the clinical consequences of deficiency, Nutr Res 15 (1995), pp. 53–58. Abstract | Full Text + Links | PDF (442 K)

[51] J.A. Sturman, Dietary taurine and feline reproduction and development, J Nutr 121 (1991), pp. S166–S170. Abstract-MEDLINE

[52] C.R. Huxtable, B.C. Duff, A.M. Bennett, D.N. Love and D.R. Butcher, Placental lesions in habitually aborting cats, Vet Pathol 16 (1979), pp. 283–291. Abstract-EMBASE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: