Pseudomonad Septicemia

ikan_patin.gifBakteri dari genus Pseudomonas berada di air. Kebanyakan diantaranya pada air segar, namun ada juga spesies yang hidup di air asin dan air payau. Kebanyakan organisme ini saprofitik. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan menjadi pathogen opertunis pada ikan. Pseudomonad Septicemia biasanya terjadi pada ikan yang dipelihara di kolam dan akuarium, namun kadangkala terjadi pada ikan di alam bebas. Penyakit ini terjadi pada ikan yang dipelihara di kolam biasanya disebabkan manajemen pemeliharaan kurang sesuai atau karena stres. Kekurangan oksigen, kenaikan temperature air, mal nutrisi dan berbagai hal menjadi faktor predisposisi Pseudomonad Septicemia.

Pseudomonad Septicemia menawarkan diagnosa berbeda dan tantangan manajemen dibandingkan septicemia pada ikan yang disebabkan bakteri gram negatif patogen lainnya. Dalam kasus ini biasanya tidak dibutuhkan metode kontrol keras seperti tes dan pengafkiran, membatasi pergerakan atau karantina dari ikan yang menderita Pseudomonad Septicemia. Hal ini disebabkan biasanya spesies berbeda atau strain berbeda dari pseudomonad yang berhubungan dengan kejadian penyakit. Pada penyakit ini tidak ada pilihan obat untuk terapi karena perbedaan spesies atau strain pseudomonad, dan masing-masing kejadian penyakit mungkin dikontrol dengan terapi campuran yang berbeda (Post, 1987).

Ikan Patin

Kingdom :Hewan

Filum :Kordata

Subfilum :Vertebrata

Kelas :Actinopterygli

Bangsa :Siluriformes

Family :Pangasiidae

Genus :Pangasius

Spesies :Pangasius djambal

(Bleeker, 1846)

Pangasius djambal dibedakan dengan spesies lain dari kombinasi karakternya yang unik meliputi : 27-39 gill raker pada arkus brakhialis pertama, bagian anterior dari moncong lebarnya 29.3-36.6% panjang kepala, panjang kepalanya 21.8-27.1% SL (panjang standar dari ujung moncong sampai caudal peduncle) , lebar kepalanya 13.4-19.4% SL.

Distribusi Pangasius djambal diketahui kebanyakan terdapat di Sumatra, terdapat di sungai Musi Batang Hari dan Indragiri. Enam spesimen Pangasius djambal diuji untuk studi ekologi dengan melihat isi pada saluran usus. Hasil uji menunjukkan satu spesimen yang hanya berisi gastropoda; 3 spesimen berisi gastropoda dan pengapit; 1 spesimen berisi gastropoda dan benih. Berdasarkan pada pengamatan ini, P. djambal adalah molluscivorous dengan kecenderungan ke oportunis. Spesimen untuk studi ini dikumpulkan dari pertengahan sampai bagian atas sungai. P. djambal hidup dalam semua lingkungan, terutama hidup di perairan dalam. P. djambal relatif hidup di lingkungan dengan arus-kuat. Sekarang ini, P. djambal telah dikembang biakan dalam kolam perikanan (Legendre et al. 2000).

Pseudomonas sp.

Genus Pseudomonas meliputi tiga spesies, dalam waktu yang berbeda, telah diuraikan sebagai agen penyebab penyakit pada ikan. Spesies tersebut adalah Pseudomonas anguilliseptica, P. chlororaphis dan P. fluorescens. Sebagai tambahan, telah dilaporkan beberapa spesies Pseudomonas belum dinamai, dengan kemungkinan sama dengan P. fluorescens.

Pseudomonas angguilliseptica dikenal dengan red spot disease, juga dikenal sebagai “Sekiten-byo’, pertamakali ditemukan pada kolam belut (Anguilla japonica) di Jepang. Sejak saat itu, telah berkembang menjadi penyakit ganas pada belut di Jepang. Selama 1981, penyakit ini ditemukan pada belut-belut di Eropa (A. anguila) pada daerah Skotlandia. Penyakit ini menyebar dan mencerminkan migrasi alamiah dari populasi belut liar, atau meningkat secara cepat selama pertengahan tahun 1970.

Tipikal dari manifestasi penyakit ini dengan adanya hemoragi petechial pada kulit di daerah mulut, operculum dan ventral tubuh. Kemerahan pada sirip (seperti infeksi vibriosis atau Aeromonas hydrophila) biasanya tidak selalu terjadi. Hemoragi petechial kecil mungkin ditemukan pada peritoneum, dan hati mungkin pucat dan ada hemoragi. Ginjal kemungkinan menjadi lunak dan berair. Pada beberapa kasus, kemungkinan sulit dalam melihat gejala klinis.

Isolasi P. anguilliseptica didapatkan dari sampel darah, ginjal, hati dan limfa dengan menggunakan agar nutien ditambah dengan 10% (v/v) darah kuda atau agar nutrient yang berisi 0,5% (w/v) sodium chloride, dan disesuaikan pada pH 7,4. Inkubasi sebaiknya pada suhu 20-250C sedikitnya 7 hari, saat koloni berkembang sebagai bulatan kecil (diameter ≤1 mm), terangkat, kompak, berkilauan, pucat abu-abu.

P. angguilliseptica telah dilaporkan sebagai grup homogeny dari gram negatif batang asporogenous, motil dengan satu polar flagella. Pada kultur 18 jam pada media tryptone soya agar dengan mikroskop elektron terlihat panjang, batang sedikit bengkok dengan ujung bulat. Ukuran sel dengan estimasi 5-10 µm x 0,8 µm. Sebagai tambahan, banyak membentuk bizarre telah diamati. Ciri-ciri fenotip dari P. anguilliseptica terdapat dalam tabel 1. Rasio guanin dan sitosin DNA terhitung 56,5-57,4 mol %.

Sebuah pengujian komprehensif dari 96 isolat mengindikasikan adanya dua grup antigenik. Tipe I tidak mengaglutinasi antisera tanpa pemanasan (disiapkan untuk menghidari kematian sel karena pemanasan), walaupun aglutinasi sel terjadi setelah antiserum dipanaskan sampai 1000C selama 2 jam (atau 1210C selama 30 menit). Tipe II termolabil aglutinasi – antigen penghambat disebut K-antigens dari coliform.

Dari ciri-ciri fenotip, disimpulkan bahwa agen penyebab Sekiten-byo disesuaikan dengan variasi baru diantara Grup III atau Grup IV genus Pseudomonas. Pendapat ini diterima karena bakteri pathogen ini gram negatif, batang pendek, motil dengan polar flagella, insensitif pada agen vibriostatik (O/129), dan memproduksi katalase dan oksidase, tetapi tidak memproduksi asam dari glukosa, pigmen fluorescent.

Tabel 1. Karakteristik Pseudomonas angguilliseptica

Karakter

Respon

Karakter

Respon

O/F tes

Produksi :

Arginin dihydrolase

Katalase

Pigmen fluorescent

β-galactosidase

H2S

Indole

Oksidase

Degradasi :

Darah (haemolisis)

DNA

Gelatin

Starch

Tween 80

Urea

Tumbuh pada :

5-300C

370C

0-4% (w/v) sodium chloride

pH 5,3-9,7

Tanpa reaksi

+

+

+

+

+

+

+

Nitrate reduction

Produksi asam dari:

Arabinosa

Fruktosa

Galaktosa

Glukosa

Gliserol

Inositol

Laktosa

Maltose

Manitol

Manosa

Rafinosa

Ramnosa

Salicin

Sukrosa

Xilosa

Dari Austin dan Austin (1986)

.

Sampai saat ini, hanya satu laporan Pseudomonas chlororaphis yang pathogen pada ikan. Penyakit tersebut menyebabkan kematian tinggi pada perikanan air tawar (Oncorhynchus rhodurus) di Jepang. Pekerjaan ke depan jelas diperlukan untuk konfirmasi pentingnya organism ini sebagai pathogen di ikan. Untuk saat ini, P. chlororaphis bukanlah permasalahan utama atau sebagai bakteri penginfeksi sekunder.

Teramati gejala klinis penyakit ini meliputi kebengkakan abdomen disertai cairan asites dan hemoragi pada permukaan tubuh. Isolasi bakteri ini dalam plat agar nutrient yang diinkubasi pada 250C selama 5 hari.

Gambaran dari P. chlororaphis adalah batang gram negatif motil yang memproduksi koloni berbeda. Bakteri ini memproduksi pigmen hijau, yang terkristalisasi seperti jarum pada koloni. Ciri-ciri fenotip lainnya tidak dilaporkan, meskipun penulis diduga tes lebih lanjut telah dilaksanakan, dan disepakati definisi dari P. chlororaphis.

Pseudomonas fluorescens adalah komponen dominan pada ekosistem air segar. Pada waktu berbeda, P. fluorescens telah dipertimbangkan sebagai sebuah organism cacat ikan, sebuah kontaminan atau infeksi sekunder pada jaringan rusak ikan, seperti infeksi primer namun patogenitasnya lebih rendah. Bakteri ini telah dilaporkan menyebabkan penyakit pada ikan secara luas, termasuk di dalamnya silver carp (Hypophthalmichthys molitrix) dan bighead (Aristichthys nobilis), ikan mas (Carassius auratus), tench (Tinca tinca), grass carp (Ctenopharyngodon idella) dan black carp (Mylopharyngodon piceus), spesies carp tanpa nama dan ikan tawar pelangi.

Secara umum, organisme berhubungan dengan fin atau tail rot, dimana area terinfeksi terjadi erosi. Kematian tinggi (lebih dari 90% dari populasi) telah dilaporkan, dengan gejala yang Nampak meliputi lesi hemoragik pada kulit dan dasar sirip. Cairan asites terakumulasi pada kapitas peritoneal, dan hemoragi petechial terlihat jelas pada insang, ginjal, hati dan pada lumen dan submukosa usus, hal ini merupakan tipikal umum bakteri septicemia. Gejala yang sama nyata terlihat pada silver carp dan bighead.

P. fluorescens telah ditemukan dari banyak organ sebagai kultur murni yang tumbuh pada media bacterial standar, seperti agar Pseudomonas F, agar darah dan agar nutrient, dengan inkubasi pada 22-280C selama 24-48 jam.

Semua gambaran organism yang dipublikasikan memiliki kesamaan dengan definisi dari P. fluorescens. Sifat biakan meliputi gram negatif, oksidatif, arginine dihydrolase, catalase dan oksidase memproduksi asam, motil dengan polar flagella. Tumbuh pada 40C namun tidak pada 420C. Memproduksi fluorescent pigmen dan glatinase namun tidak memproduksi β-galactosidase, H2S, indol, amylase atau urease. Menggunakan citrate, dan asam diproduksi dari arabinosa, inositol, maltosa, mannitol, sorbitol, sukrosa, trehalosa dan xylosa, namun tidak dari adonitol atau salicin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: